“ Ozan…Ozan …. kebaikan yang kita lakukan, akan membuat Allah cinta kepada kita, nah kalo Allah dah cinta sama kita, apa yang kita minta nda mungkin nda dikasih. Nah, kita kan bisa minta apa aja yang buanyak buat saudara-saudara kita di sana. “
“ Oh …gitu ya mba. Ozan ngerti sekarang. Ozan mau lebih rajin lagi mba.”
“ Bagus ! Nah, sekarang Ozan panggil yang lain ya …. dah waktunya ngaji. “
“ Siap mba Muthi’, tapi setelah ngaji cerita Nabi Musanya dilanjutin meneh yo mba …”.
“ Ya ..”
Sore itu, suara anak-anak yang nyaring membaca setiap huruf hijaiyyah, menyemarakan suasana yang tadinya sepi. Begitu semangat. Terkadang terdengar suara gaduh, Luthfi dan Marwan yang berebut ngaji duluan. Mba Fani yang biasanya kalem, sore itu harus terpaksa sedikit galak biar anak-anak mau tertib. Jam 17.00 semarak suara anak-anak itu tenggelam. Mereka begitu khusyu’ mendengarkan Muthi’ bercerita tentang Nabi Musa yang gagah melawan Fir’aun. Akhirnya, adzan maghrib memaksa pertarungan Nabi Musa dan Fir’aun disudahi. Pertanda semua penghuni rumah singgah harus bersiap untuk shalat berjama’ah. Selepas shalat, mba Urwah sudah siap dengan peluitnya, mengambil komando untuk makan malam. Ehm … menu kali ini sedikit seru, setidaknya memenuhi standar P2B alis program penggemukan badan. Yupz … di ruang makan yang tidak terlalu besar, anak-anak duduk bersila dan melingkari si bandeng presto, cap cay kuah, sambel goreng hati, dan perkedel jagung. Ehm … menu gado-gado, tinggal pilih.
Mba Urwah,” Muth … sesuk ono munashoroh palestina ora?
“ Iyo mba, jam 8 kumpul ning ngarep kampus. Sekalian galang dana, one man one dinar …hehe..hehee ..
“ Hahh … one dinar? Arep tuku dinar neng endi Muth?
“ Bercanda mba, one man one dollar, khususon mba Urwah, one man hundred dollar…hehee…heee ….
“ Amiiin … mudah-mudahan mba bisa ngasih gede …”
“ Sesuk aksi gabungan toh ?
“ Yoi mba …. jangan lupa pake identitas masing-masing, pake kerudung putih, biar semarak.”
“ Siap bu korlap !!!!
“ Iya mba, sebel … udah tahu suaraku kecil nda bisa teriak, tetap aja ditunjuk jadi korlap. Timbul tenggelamlah suaraku. “
“ Semangat Muth, mba siapin air segalon buat minum kamu habis aksi. Makanya belajar teriak, wong calon guru ko suaranya kecil, ntar kalah sama anak-anakmu.”
“ Mba Urwah bisa aja, emang jadi guru musti gede suaranya. Ntar aku bawa megaphone aja sekalian orasi di kelas. Haa..haaa..haa….”
“ Muthi’….Muthi’… ono-ono wae …”
Pagi itu, hari Kamis, tepat pukul 8 lewat 10 menit, sedikit molor dari waktu yang dijadwalkan, anak-anak DKM Masjid Kampus sudah mulai memenuhi jalanan. Di bagian paling depan, akh Ridho dan akh Fahmi berdiri di atas mobil bak lengkap dengan sound system dan full nasyid-nasyid untuk Palestine. Entah berapa kali lagu itu diputar. Tapi, nda apa-apalah, yang penting semangat. Tepat di belakang mobil bak, para ikhwan dengan atribut mereka, ada yang pake kafiyeh punya bapaknya, ada yang bawa bendera Palestine, ada juga sebagian yang menjadi tim relawan penggalang dana. Pun sama dengan barisan akhwat yang ada di belakang ikhwan. Dengan serempak kerudung putih, luar biasa indah dipandang. Mereka meneriakan yel-yel anti Israel dan dukungan untuk Palestine dengan mengibarkan bendera-bendera kecil Palestine. Hari itu, Surakarta bergetar oleh takbir dan tasbih pemuda-pemudi yang memenuhi sepanjang jalan di pusat kota. Sekitar 150 mahasiswa dan relawan bersama-sama turun ke jalan dan menghimpun dana untuk Palestine. Dan …. 2 juta berhasil dikumpulkan hari itu. Alhamdulillah.
“ Alhamdulillah ya Muth, hari ini luar biasa sekali. Rencananya mau dikirim lewat mana ?
“ Biasa mba, lewat KNRP. Kalo itu urusan akh Ridho. Nanti saya tanyain kapan mau dikirim. Soalnya ada yang mau nyumbang emas.”
“ Subhanallah, sopo Muth? “
“ Ada deh… orangnya nda mau dikasih tau namanya.”
Selepas dzuhur, Muthi’ pergi ke masjid kampus. Di teras masjid, sudah ada akh Ridho dan ade-ade tingkat yang masih sibuk dengan mushafnya.
“Assalamu’alaikum…”
“’alaikumusslam warahmatullah …”
“afwan akhi, ini hasil penggalangan dananya. Ada sekitar 2 juta lebih. Terus ini ada kalung dan giwang dari salah seorang umi. “
“ Subhanallah …jazakillah mba. Insya Allah habis ashar saya kirim ke pusat.”
“Yo wis… gitu aja. Syukron katsir…assalamu’alaikum..
‘alaikumussalam warahmatullah …”
Aneh. Itu yang Muthi’ rasakan. Ia terasa aneh ketika harus berhadapan dengan akh Ridho. Kaku dan terkesan jutek. What happen gitu ? Sudah hampir satu setengah tahun yang lalu. Ada kesan berbeda yang tidak bisa Muthi’ artikan. Oh ..tidak ! jangan terjadi, dan nda boleh terjadi. Dengan sekuat tenaga ia mencoba bersikap biasa dan menetralkan semua perasaan. Namun. Nihil. Muthi’ makin kaya’ orang bingung jika harus berurusan dengan orang yang namanya Ridho’.
Huuh …LUPAKAN ! Doing something useful. Itu obat yang paling mujarab. Di taman kampus, Muthi’ buka buku-buku psikologi yang dia pinjam dari perpustakaan.
“ Bismillahirrahmanniraahiim..” Muthi’ mulai membaca setiap halaman yang memuat teori-teori yang dia cari untuk skripsinya. Mulutnya nda berhenti komat-kamit membaca setiap kata yang dijumpainya. Maklum orang audio. Dahinya berkerut-kerut, pertanda ia benar-benar serius dan konsentrasi. Tiba-tiba …Hpnya menjerit karena ada pesan yang harus dibaca juga.
“ Ehm … siapa ya ? “ Mendadak wajahnya pias, jantungnya berdetak lebih cepat. Pesan singkat dari orang rumah membuatnya linglung. Buku ditangannya tak lagi diperhatikan. Lembar halaman yang dia baca pun terbolak-balik ditiup angin yang tiba-tiba juga berhembus kuat.
“ Yaa Allah … ada apa ya? Nda biasanya umiku minta aku pulang. Pake bilang penting lagi.” Muthi makin kacau dengan bicara sendiri.”
Perlahan dia mencoba mencet tombol-tombol di Hpnya.
“Ada apa mi? tumben minta Muthi’ pulang? Muthi’ nda bisa pulang mendadak seperti ini. Apalagi besok ada janji dengan dosen mau konsultasi skripsi. “ pesan di Hp menunjukkan pesannya sudah tersampaikan. Dan …
“ Udah kamu pulang dulu aja, ntar juga tahu sendiri kalo dah nyampe rumah. Besok pagi kalo bisa udah nyampe. Jadi malam ini berangkat ya…Yo wis Muth. Umi tunggu di rumah.”
Malam ini ? Pulang ke Semarang ? Huuh … Muthi’ menarik nafas panjang. Buku-buku psikologi pun dah nda minat dilirik lagi. Dengan langkah loyo, Muthi’ berjalan pulang ke rumah singgah.
“ Assalamu’alaikum mba Muthi’ …tumben ko’ belum maghrib dah pulang?” Suara Ozan tiba-tiba mengagetkan Muthi’ yang nda sadar sudah nyampe di depan rumah singgah.
“’alaikumussalam. Iya de… soale mba ntar malem mau pulang ke Semarang. Jadi Mba harus siap-siap. “
“ Apa Muth ? Pulang? Ko’ mendadak? Mba Indi yang lagi nyapu teras pun ikut nyambung.
“ Nda tahu mba, disuruh pulang sama umi. Yah, nurut dulu aja apa kata orang tua. Lagian katanya penting. Padahal besok juga ada janji sama pak Masnun mau konsultasi skripsi. Bingung juga sih mba …”. Muthi’ nda punya semangat untuk menjelaskan ke mba Indi. Karena ia memang lagi bad mood dan loss spirit.
“ Ya udah pulang aja. Lagian juga kamu kan jarang pulang. Nda ada salahnya kamu turuti keinginan umi minta kamu pulang. Ingat Muth, mumpung masih ada waktu dan kesempatan untuk silaturahim dengan orangtua. Apalagi tinggal satu. Kalo saya, memang nda ada alasan pulang kampung. Lha wong orang tua wis ora ono. Arep balik ning sopo? “
Muthi’ tersenyum. “ Mba Indi bisa aja. Kan masih bisa silaturahim sama saudara yang lain. Jujur mba...entah kenapa saya nda pernah semangat kalo musti pulang kampung. Suasana rumah amat sangat tidak saya harapkan. Bawaannya nda betah kalo di rumah.” Nda sadar Muthi’ curhat sama mba Indi, seraya mata menatap kosong.
“Muth’… mereka itu ladang da’wah buat kita. Ingat, Rasulullah pertama kali berda’wah kepada kerabat dekatnya. Setelah kuat dan mapan, baru orang-orang yang sedikit itu yang disebut dalam sirah para assabiquunal awwaluun, menyebarkan Islam kepada massa yang lebih luas. “
“Iya mba, tapi keluargaku itu keras. Mereka itu sombong, terlalu bangga dengan rasnya. Setiap saya pulang ke rumah, pasti ada kata-kata yang membuat telingaku panas. Saya nda suka dengan fanatisme seperti itu.”
“Mba ngerti Muth…makanya mba bangga punya saudara seperti kamu. Tapi, sekali lagi ingat Muth, mereka tetap bagian dari keluarga kita. Meski mereka tidak seperti kamu, setidaknya mereka mendukung kamu. Itu yang harus kamu pikirkan. “
“Iya mba, saya ngerti. Yo wis, mau siap-siap dulu. Ntar malam mau pulang ke Semarang.”
Di kamar yang kecil itu, Muthi berberes baju-baju dan buku-buku yang akan di bawa.
“ Ah sitik wae nggowone. Nda pake lama lagian di rumah.” Muthi’ ngomong sendiri. Dan sejenak dia terdiam memandangi coretan-coretan tangannya yang tertempel di tembok kamarnya. Matanya mengeja satu demi satu cita-cita yang dia tulis. Tiba-tiba sungai kecil di matanya mengalir. Terharu, karena saat ini ia telah mencapai cita-citanya yang ketiga. Ia kini telah berada di tengah-tengah anak-anak jalanan yang begitu polos wajahnya, tutur katanya. dan segala kepolosan mereka yang tak jarang membuat Muthi tertawa dan juga menangis. Ia bahagia.
Selepas Isya’ sebelum Muthi’ berangkat, ia masih sempat memberikan cerita tentang ketangguhan ‘Asma binti Abu Bakar ketika menolong Rasulullah dan ayahnya yang bersembunyi di dalam gua Tsur.
“ Mba Muthi’ mau pulang ke Semarang ya…? Lama nda mba…?
“ Yah..kalo mba Muthi pulang ntar siapa donk yang cerita tentang Nabi lagi?
“ Insya Allah mba nda lama. Cuma dua hari. Habis itu mba pulang ke sini lagi. Kan masih ada mba Indi sama mba Urwah….
“Tapi janji ya..cuma dua hari. Pokoknya Ozan tungguin disini.
“Insya Allah pak ustadz ….
Tepat jam 22.30, anak-anak sudah terlelap. Dan saatnya Muthi’ bersiap pulang ke Semarang. Mba Urwah mengantar Muthi’ sampai terminal. Sesampainya di terminal …
“ Mba…do’ain saya ya. Mudah-mudahan saya bisa berda’wah ke keluarga. “
“ Insya Allah Muth. Allah pun tak akan pernah membiarkan hamba Nya yang berjuang untuk Nya, merasakan kesusahan. Yups … fii amanillah. Salam untuk keluarga. “
“ Insya Allah mba, salam juga buat teman-teman dan juga ade-edeku, terutama ustad Ozan.”
Ya tuh…fans berat kamu. Jangan lama-lama ya di sana. Lagian kita harus nyiapain program buat OMB. “
“Okelah kalau begitu..“Assalamua’alaikum…” Muthi’ melempar senyum sebelum naik ke bus.
“’alaikumussalam warahmatullah..” Mba Urwah melambaikan tangannya. “ Ya Allah, tolonglah dan kuatkan saudaraku melewati setiap skenario Mu.” dan ia pun membatin.
Muthi’ berlalu bersama bus ekonomi jurusan Semarang dengan hiruk-pikuk malam menemaninya. Di dalam bus, mata elang Muthi’ begitu tajam menatap setiap yang berlalu dihadapannya. Dua orang pengamen, yang masih istiqomah menadah tangan hingga larut seperti ini. Pipa-pipa panjang dan gitar yang dipadu secara apik, tak bisa menyembunyikan suara mereka yang sumbang menyanyikan shalawat. Tidak ada kefasihan ketika Allah dan Rasul Nya di sebut-sebut dalam bait-bait lagunya. Entah hati mereka pun seperti apa ketika menyebutnya. Bus berhenti sejenak. Sopir dan para kondekturnya rehat di warung kopi pinggir jalan. Mata elang Muthi’ pun menembus sesuatu yang gelap di luar sana. Di dekat warung kopi, nampak seorang wanita tengah baya, berjualan nasi untuk memenuhi kebutuhan para pejalan malam. Muthi’ membatin. Kemana suaminya, anak-anaknya? Membiarkan wanita setua itu berjuang melawan dingin, gelap dan bahkan bahaya dunia malam sendirian? Matanya berkaca, ia bersyukur ibunya menikmati masa tua yang begitu bahagia bersama anak-anaknya di rumah. Kepalanya pun tertunduk….Muthi’ kembali membatin, “ Akankah masa tuaku seperti ibu itu? “ Oh …tidak. Aku ingin seperti Kartini yang syahid di usia yang masih sangat muda dengan membawa bukti perjuangan yang kini menjadi bagian dari sejarah bangsa ini. Atau seperti Cut Nyak Dien. Menghabiskan usianya untuk berjuang mengusir penjajah dari tanah Aceh sampai syahid di usianya yang ke 62 tahun. Ah …terlalu idealiskah diriku? Aku fikir tidak. Seorang da’I memang seharusnya berfikir seperti itu. Akhir seperti apa yang akan ia rancang di akhir waktunya ?
Sepanjang perjalanan malam itu, Muthi’ tak mampu terpejam. Ia menatap kosong. Namun berbagai hal berterbangan di alam fikirnya. Keheningan malam itu, meski bising oleh suara bus dan berbagai kendaraan malam yang berseliweran dengan kecepatan tinggi, tak peduli siapa menyalip siapa. Nyawa begitu tak ada harganya malam itu. Bagi Muthi’ saat-saat yang tepat untuk berkontemplasi.
Tak terasa perjalanan telah mendekati subuh. Bus pun ternyata pantang berhenti sejenak. Apa boleh buat. Muthi’ menunaikan dua raka’at subuh di dalam bus. Kebetulan dia duduk sendirian. Jadi aman. Lantunan do’a ma’tsurat menemaninya menyambut sinar fajar yang menghangatkan.
Akhirnya, tibalah Muthi’ di terminal perhentian. Bibirnya sedikit tersimpul ketika menghirup udara kota kelahirannya. Segera ia stop angdes yang menuju rumahnya. Tiga puluh menit kemudian, ia sampai di depan gang rumahnya. Dari sana ia berjalan, menyusuri perumahan warga yang telah nampak banyak perubahan. Banyak rumah-rumah yang disulap jadi istana dalam waktu kurang lebih tiga tahun. Ya…Muthi’ memang sangat jarang pulang. Ia hanya menengok kampungnya itu satu tahun sekali. Ramadhan akhir dan Syawal.
“ Lho …mba Muthi’ bukan nih ?
“ Inggih bu…” senyum Muthi’ menyapa ramah Ibu Mega tetangganya yang berjualan jajanan pasar. Semasa kecil Muthi’ biasa mangkal di situ kalau pulang sekolah.
“Masya Allah, wis gede yo…. perasaan baru kemarin ibu lihat Muthi’ pake baju merah putih. Eh sekarang wis gadis. Bentar lagi nikah.”
“ Ibu bisa aja…monggo bu, duluan…” Muthi’ segera menyudahi basa-basinya.
“ Yo…yo …monggo. “
Sesampainya di rumah. “ Assalamu’alaikum warahmatullah….”. Muthi’ masuk ke rumahnya yang terbuka. Suasana asing begitu cepat menyelimuti jiwa Muthi’.
“ ‘alaikumussalam warahmatullah…masya Allah Muthi’. Akhirnya nyampe juga. Jam berapa dari Surakarta ?
“ Jam 11 mi.” Muthi’ segera mencium tangan uminya dan memeluknya. Bukan hal yang biasa bagi Muthi’ memeluk tubuh wanita yang telah melahirkannya. Mungkin sudah terlalu lama tidak pulang, ia merasa harus memeluknya.
“ Yang lain pada kemana mi? Ko’ sepi ?
“ Farah sama Abir lagi ke kota. Biasa belanja bulanan mereka. Kakak iparmu lagi pada ta’ziyah. Tetangga sebelah ada yang meninggal. “
Innalillahi…siapa mi?
“ Bu Neneng… yang dulu kamu biasa manjat pohon jambu di pekarangannya. “
“ Masya Allah…banyak kejutan Muthi’ pulang. “
“ Sudah sana kamu istirahat dulu. Kelihatan cape wajahmu. Sudah makan belum ?
“ Sampun mi. “
Uminya berlalu menuju dapur. Sedang Muthi’ menuju kamarnya di pojok dekat dapur. Sejenak ia tertegun menatap kamarnya. Tidak ada perubahan sejak ia meninggalkannya. Ia pun merebahkan diri di atas tempat tidurnya.
Selepas dhuhur, Muthi’ bersama umi dan kakak-kakaknya, melingkar di meja makan. Suasana asing, kembali menyelimuti panasnya siang itu.
“ Muth, gimana kuliahmu? Kapan wisuda? Kak Abir, kakak pertama perempuan Muthi, membuka pembicaraan. Oh ya, lupa. Muthi’ adalah anak terakhir dari empat bersaudara. Yang pertama adalah Abir, yang kedua Farah, yang ketiga laki-laki namanya Fairus dan terakhir Muthi’. Semuanya sudah menikah, tinggal Muthi’ yang tersisa. Dan semuanya berpencar ke berbagai kota, tapi masih di Jawa Tengah. Hanya kebetulan semuanya sedang ngumpul di Semarang.
“ Udah selesai, lagi skripsi. Insya Allah target ikut gelombang wisuda akhir tahun ini.” Muthi’ menjawab datar.
Muthi’ sosok yang paling berbeda di dalam keluarga itu. Yang pertama, beda prinsip. Meski tergolong warga keturunan, dia tidak mempermasalahan itu sebagai sebuah perbedaan di tengah masyarakat yang membuat kebanyakan golongan mereka memilah-milah. Yang kedua, dari penampilan. Karena tarbiyah yang diikutinya sejak SMA membuatnya berpenampilan layaknya santri. Jilbab lebar, sering memakai gamis, atau atasan panjang sampai lutut dan rok, kaos kaki yang menutupi kakinya jika keluar rumah. Apalagi, di moment kumpul keluarga seperti saat ini, di dalam rumah pun ia tetap memakai atribut lengkap akhwat. Pernah Muthi’ mendapat protes berkali-kali dari umi dan kakak-kakaknya. Tapi dia hanya melempar senyum menanggapi mereka. Dan akhirnya, mereka pun menyerah menghadapi Muthi’ yang memegang teguh prinsipnya.
Setelah makan siang selesai, tibalah umi membuka obrolan.
“Muth, umi minta secepatnya kamu selesaikan kuliahmu. “
“ Insya Allah mi, saya juga sedang berusaha bagi waktu. Biar skripsi lancar dan kerjaan saya pun tidak terganggu.”
“Kerja ? Kerja apaan? umi bertanya heran.
“ Oh ya, saya lupa kasih tahu. Alhamdulillah saya udah punya kerjaan. Ya, meski nda seberapa gajinya, minimal bisa bantu bayar kost dan makan. “ Semua yang ada di ruangan itu, bengong dengan keunikan adik bungsunya itu.
“ Udahlah Muth. kamu focus skripsi saja, biar cepat kelar…” kak Farah menanggapi dengan nada yang kurang ramah.
“ Saya cuma ingin mandiri kak…”
“ Farah ???? Muthi…umi ingin menyampaikan sesuatu.” umi menyeka Farah.
“ Apa mi…” Muthi semakin tidak nyaman dalam ruangan dan kondisi seperti itu.
“ Gini, dua minggu yang lalu, saudara umi dari Jakarta datang ke rumah. Dia datang dengan anak laki-lakinya. Namanya Faris. Punya usaha yang mapan. Dan sudah punya tempat tinggal sendiri di Tangerang. Uminya Faris ingin meminta kamu untuk Faris. Karena Faris butuh istri untuk menemaninya di Tangerang.”
“ tapi bukannya ..???
“ Ya, Faris baru bercerai dari istrinya. Karena ternyata istrinya cuma ingin hartanya Faris. Dia sekarang duda, tapi belum punya anak. Gimana Muth?
“ Orangnya baik Muth, sholeh lagi. Dan kamu nda perlu kerja macam-macam. Apalagi ngurusi anak-anak jalanan yang nda tahu terimakasih. Cukup dirumah, sudah nyaman, kamu juga bisa jalan-jalan keliling Jakarta bahkan keluar negeri. Kalo aku jadi kamu, pasti tak terima lamarannya.” Lagi-lagi kak Farah nyerocos tanpa tedeng aling-aling.
Muthi’ terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat. Keringat dingin mengucur deras. Dia tidak sanggup mendengar ocehan-ocehan seperti itu. Hampir saja air mata tumpah saat itu, tapi tertahan dan semakin membuat sesak nafasnya.
“ Maaf mi, saya nda bisa kasih jawaban sekarang. Lagian saya belum pernah ketemu orangnya.” akhirnya Muthi berani menjawab.
“ Ngapain difikirkan dulu. Toh Faris sama uminya udah pernah lihat kamu. “ Kak Farah kembali nembak.
“ Kak, pernikahan itu bukan untuk sehari atau dua hari. Tapi seumur hidup. Perlu istikharah, pertimbangan dan persiapan yang nda mudah.”
“ Muthi’, Faris itu sudah mapan. Dia bahkan siap menanggung biaya pernikahan, kamu masih bisa kuliah lagi dan seperti tadi aku sampaikan, kamu bisa hidup seneng dan enak sama Faris …”
“ Kak…itu bukan pernikahan yang saya pahami. Kebahagiaan itu bukan karena banyaknya harta. Dan maaf, saya tidak sama dengan perempuan Arab yang lain. Yang kerjanya hanya diam dirumah dan menadahkan tangan menunggu jatah makan dari suami.” Muthi sudah memuncak.
“ Kamu itu ngomong opo to Muth…”
“Udah, saya tahu apa yang musti saya lakukan. Dan maaf, saya tidak bisa menerima lamaran Faris.” Muthi’ meninggalkan ruangan itu dan segera berlari ke kamarnya dan menguncinya.
Di dalam kamar, Muthi’ menangis sepuas-puasnya. Dia tidak menyangka, apa yang difikirkannya, ternyata terjadi saat ini. Sementara itu di ruang makan…
“ Heran, kok Muthi’ bisa keras kaya’ gitu…? Kak Farah berkomentar.
“ Farah, kamu itu yang terlalu keras. Kenapa kamu tidak biarkan umi menjelaskan pelan-pe;lan ke Muthi’? Umi memprotes Kak Farah.
“ Huuuuuh …. Habis saya nda sabar sama Muthi’.
Setelah kejadian siang itu, rumah itu pun semakin menyuguhkan hawa panas yang sangat tak diharapkan. Semuanya bersikap dingin. Tak ada yang bersedia menyapa, atau sekedar basa-basi. Kecuali umi, yang tetap menyuguhkan senyumnya, terutama untuk Muthi’. Tak ada bisa dilakukan Muthi’ untuk menetralkan perasaannya, kecuali diam dan baca buku, atau sekedar bantuin uminya.
Di teras rumah…” Muth’, kamu nda usah pikirin kata-kata Farah tadi siang. Umi juga nda maksa kamu. Tapi umi harap kamu nda secepat itu memutuskan jawaban. Umi tahu, kamu punya aktivitas yang banyak. Dan hal itu bisa dibicarakan. Umi yakin, Faris bisa ngerti kesibukan kamu.”
“ Umi berharap….?” Muthi’ menanggapi dengan pertanyaan menggantung.
“ Umi cuma ingin kamu bahagia Muth’…” Sergah umi.
“ Maaf mi, saya nda bisa. Hati saya nda ngadep.” Muthi’ menatap umi sayu.
“ Besok saya pulang lagi ke Surakarta.”
“ ko’ cepet sekali. Kamu tuh memang nda pernah betah di rumah..” umi kecewa.
“ Maaf mi, di kampus lagi banyak kerjaan. Lagian saya sudah ngajar, masa bolos lagi.” Muthi menjelaskan pelan.
to be continued ...
Jumat, 23 Juli 2010
Jangan Panggil Aku Arab bag.1
Di pertengahan malam yang dingin menusuk tulang, mata bulat itu terjaga. Ia mengusap-usap kedua mata yang di atapi oleh dua alis tebal dengan sambil menahan kantuk yang sangat, ia mencari sandal tupainya dan melangkah keluar kamarnya yang hanya berukuran 3 x 4 meter. Ia menelusuri lorong rumah tua yang berukuran dua lantai dengan jumlah kamar dua belas, tujuh kamar di bawah dan lima di kamar di atas. Semua kamar yang ada sudah diisi oleh anak-anak kecil yang tidak memiliki orang tua, atau yang tidak diketahui siapa orang tuanya. Yang pasti latar belakang mereka terlalu perih untuk diceritakan.
Di lantai bawah tiba-tiba …
“ IBU ….!!!!!” suara itu ! suara Luthfi. Dengan secepat kereta, Muthi’ segera berlari berhambur ke kamar yang ada di dekat ruang tamu. “ De Luthfi kenapa ? Mimpi ibu lagi ya ? Muthi’ memeluk tubuh anak kecil yang baru berusia tujuh tahun itu. Tubuh Luthfi gemetar, keringat dingin keluar membasahi baju tidurnya. Muthi’ mencoba menenangkan Luthfi dengan segelas air putih. “ Kak, temani Luthfi tidur ya …Luthfi takut mimpi Ibu lagi.” Ya, sayang, malam ini kakak akan temani Luthfi. Yuk …kita tidur lagi. Bismikallahumma ahya wa bismika aamuutu. “
Keduanya pun terpejam menikmati hangatnya selimut malam.
Muthi’ adalah seorang mahasiswi fakultas pendidikan Universitas Negeri Surakarta. Yang bersama-sama teman-teman aktivis lain yaitu Urwah, Fani, Imas, Indi, Fahmi, Ridho, Fajar dengan berbekal tekad dan nekat mendirikan sebuah rumah singgah untuk anak-anak jalanan yang mereka tidak jelas siapa orang tuanya. Ya, mereka adalah korban kebiadaban moral manusia yang menuhankan nafsu mereka. Namun setidaknya mereka memiliki sedikit hati untuk mengizinkan mereka menghirup udara tanah Jawa. Kehidupan dunia ini terlalu keras untuk mereka. Jangan salahkan mereka jika kemudian mereka terdidik untuk mencuri, menjambret, mengemis karena mereka hanyalah korban dari sistem kepemimpinan bangsa yang jauh dari nilai-nilai keadilan untuk rakyat kecil. Siapa yang tega melihat mereka generasi muda bangsa yang terlantar. Mengharapkan “murah hati” pemerintah, kaya’nya terlalu jauh mimpi itu.
Pukul 03.00, Muthi’ terbangun kembali. Alarm yang sudah dia setel tepat menjerit di samping telinganya. Syukurlah Luthfi tidak ikut terbangun. Muthi’ meninggalkan anak kecil itu sediri dikamarnya. Sedikit demi sedikit kesejukkan air kran membasahi tangan Muthi’ yang kurus dan seterusnya, dengan penuh kekhusyu’an sehingga Ia terasa melihat dosa-dosanya turut hanyut bersama air yang mengalir. Ia pun kemudian berdiri di atas mihrab cinta, penuh harap, ia melantunkan ayat-ayat suci yang cukup ampuh melelehkan air matanya. Malam itu terasa sangat panjang, ditemani terang rembulan yang tersenyum simpul melihat tingkah manusia yang merindukan kasih Nya. Hingga sampai pada seruan Shubuh….
“ Ayo anak-anak, udah adzan subuh. Ayo bangun. Kita shalat jama’ah yuk ….!” Suara Muthi’ membangunkan anak-anak, yang langsung disambut dengan riuh suara kaki mereka menuruni anak tangga yang terbuat dari kayu jati tua.
Ruangan berukuran 4 X 5 meter yang biasa dijadikan tempat Muthi’ bercerita tentang sirah nabawiyah tiap sore, pagi itu terlihat begitu penuh oleh tubuh-tubuh kecil setinggi 100 centimeter yang berjejer rapi, ruku’ dan sujud dengan begitu teratur di hadapan Rabb mereka. Indah sekali.
Hari itu adalah hari Rabu. Selepas subuh, seperti biasa masing anak-anak sudah mendapatkan tugas untuk membersihkan rumah. Dari mulai beresin kamar masing-masing, sapu lantai, ngepel, sampai bersihkan kamar mandi. Setelah semua selesai tepat pukul 6 pagi mereka bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, untuk mendapatkan hak mereka seperti anak-anak yang lain. Sebelum semua penghuni rumah pergi, mba Urwah datang untuk mengisi shift pagi sampai siang menjaga rumah dan menyiapkan keperluan anak-anak ketika pulang nanti. Rumah singgah itu tak hanya menjadi tempat bernaung anak-anak jalanan, tetapi juga mereka jadikan sebagai tempat mangkal aktivis masjid kampus UNS ngumpul, diskusi dan membicarakan banyak hal di sana sambil mengganti giliran memberikan les kepada anak-anak.
Di antara teman-teman aktivis yang lain, Muthi’ salah satu bagian dari mereka yang paling unik. Walaupun ia juga berasal dari tanah Jawa, namun karakter wajahnya tidak bisa menyembunyikan dari mana sebenarnya ia berasal. Namun itu bukanlah masalah bagi Muthi dan teman-temannnya. Meskipun tetap saja kadang itu membuat Muthi’ canggung dan sedikit kaku. Ada kesan yang ingin Muthi’ sampaikan pada teman-temannya, dan bahkan ingin ia teriakkan kepada semua manusia bahwa “aku pun sama seperti kalian.”
Muthi’ bukan hanya memiliki wajah yang unik, tetapi juga karakter, pemikiran, sikap dan seabreg keunikan yang lain. Misalnya, dia lebih cenderung rasionalis dari pada melankolis seperti kebanyakan perempuan lainnya. Dalam artian, dia cukup cuek ketika dihadapkan pada kondisi yang mungkin akan mengakibatkan kebanyakan perempuan, bad mood, uring-uringan dan berrbagai sikap manja lainnya. Yap, tepatnya easy going girl. Tapi, jangan coba-coba mancing emosinya, yang cepet nyulut kalau disinggung soal wajahnya. Pernah suatu hari, waktu makan siang di kantin kampus ada yang iseng deketin Muthi’.
“ Selamat siang… boleh gabung? “
Saat itu Muthi’ dan teman-teman sedang khusyu’ makan sayur asem. Tak ada respon. Sampai akhirnya ….
“ Maaf, anda orang Arab ya …?”
Sontak Muthi’ terhenti. Dan melotot.
“ Anda ngomong sama saya? “
“ Ya, dari tadi saya di sini ingin ngobrol dengan anda.” Ehm … anda orang Arab kan? “
“Emang kenapa? Mau saya orang Arab, Cina, Jawa, Batak… apa urusannya? Emang penting? “
MANTAP ! Seketika teman-temannya pun tegang oleh sikap Muthi’.
“ Muth …nda usah pake otot gitu. Kan orangnya juga nanya baik-baik.” Imas, puteri Solo mengademkan lengkap dengan logat Jawanya.
“ Ehm … ya, memang ga penting. Saya cuma mau memastikan anda memang orang Arab. Karena saya lihat hidung anda berbeda dengan yang lainnya.”
“ WHAT ! sopan bener ya, merhatiin hidung orang. Anda ini ngerti adab opo ora? “
Sendok yang dipegang Muthi’ seketika meramaikan piring yang berisi ikan asin, sambal dan sayur asem. Dia pergi meninggalkan piring yang masih penuh itu.
Tidak peduli perut yang keroncongan, Muthi’ dengan muka merah padam melaju ke masjid kampus. Chesssss … sejuk. Air membasahi wajah Muthi’. Tak terasa sungai kecil di sudut mata elangnya meleleh …
*****
Selepas ashar, di sudut ruang tamu yang kecil, Muthi’ tertunduk khusyu’ mencermati kata demi kata dalam buku Psikologi Islam yang ada di tangannya. Jilbab biru yang dia pakainya, setidaknya mampu mencerahkan wajahnya yang dari siang layu.
“ Assalamu’alaikum mba Muthi’ …?”
“ ‘alaikumussalam warahmatullah …. eeeh Fauzan, sini sayang. Cieee cakep banget, wangi lagi. Dah mandi ya …
“ Hee..heee….emang Ozan kan paling cakep di sini mba. “
“ Iya deh, …
“ Mba, kemarin Ozan lihat di TV, ada berita serem. Ozan nda nyangka ada orang-orang yang kejam membunuh anak-anak kecil. Udah gitu ada ibu-ibu yang nangis minta tolong tapi nda ada yang mau nolongin. Bapak-bapaknya ada yang dibunuh juga. “
“ Ehm … berita dari mana ?’
“ Itu lho mba, yang ada masjid besar yang bagus. Yang kata mba Muthi’ dulu Nabi Muhammad pernah kesitu. “
Muthi tersenyum. “ Itu namanya masjid Al Aqsha. Kiblat pertama kita umat Islam. Dia ada di Palestina. Orang-orang Yahudi Israel, mereka bukan manusia de, mereka bahkan tak akan pernah mendapatkan ampunan Allah. Pertarungan mereka hanya akan terhenti ketika kelak Allah menjadikan sebuah batu yang akan mengatakan, di sini Yahudi kalah.”
“ Mba, kasihan ya … anak-anak di sana. Mereka nda punya rumah, nda punya bapak-ibu. Mereka makan nda ya mba ….?
Ada kaca di mata elang Muthi’. Dengan lembut dia membelai kepala Ozan yang tertutup kopeyah.
“ Insya Allah de, meski mereka kehilangan semua yang mereka miliki, mereka tidak akan pernah kehilangan cinta dan pertolongan Allah. Allah bahkan menjadikan syurga untuk rumah mereka nanti. Dan kita disini, pertama bersyukurlah tidak mengalami nasib pedih seperti mereka. Kedua, jangan pernah lupa untuk mendo’akan mereka. Dan berbuat sekecil apapun untuk menolong mereka. “
“ piye carane mba? “
“ Rajin shalat, rajin ngaji, nda suka bertengkar dan belajar yang pinter.”
“ Lho, emang bisa mba? Kalo Ozan pengen ke sana mba, bawain batu yang buanyak buat nglemparin tank-tank Yahudi.”
“ Ozan…Ozan ….
to be continued ....
Di lantai bawah tiba-tiba …
“ IBU ….!!!!!” suara itu ! suara Luthfi. Dengan secepat kereta, Muthi’ segera berlari berhambur ke kamar yang ada di dekat ruang tamu. “ De Luthfi kenapa ? Mimpi ibu lagi ya ? Muthi’ memeluk tubuh anak kecil yang baru berusia tujuh tahun itu. Tubuh Luthfi gemetar, keringat dingin keluar membasahi baju tidurnya. Muthi’ mencoba menenangkan Luthfi dengan segelas air putih. “ Kak, temani Luthfi tidur ya …Luthfi takut mimpi Ibu lagi.” Ya, sayang, malam ini kakak akan temani Luthfi. Yuk …kita tidur lagi. Bismikallahumma ahya wa bismika aamuutu. “
Keduanya pun terpejam menikmati hangatnya selimut malam.
Muthi’ adalah seorang mahasiswi fakultas pendidikan Universitas Negeri Surakarta. Yang bersama-sama teman-teman aktivis lain yaitu Urwah, Fani, Imas, Indi, Fahmi, Ridho, Fajar dengan berbekal tekad dan nekat mendirikan sebuah rumah singgah untuk anak-anak jalanan yang mereka tidak jelas siapa orang tuanya. Ya, mereka adalah korban kebiadaban moral manusia yang menuhankan nafsu mereka. Namun setidaknya mereka memiliki sedikit hati untuk mengizinkan mereka menghirup udara tanah Jawa. Kehidupan dunia ini terlalu keras untuk mereka. Jangan salahkan mereka jika kemudian mereka terdidik untuk mencuri, menjambret, mengemis karena mereka hanyalah korban dari sistem kepemimpinan bangsa yang jauh dari nilai-nilai keadilan untuk rakyat kecil. Siapa yang tega melihat mereka generasi muda bangsa yang terlantar. Mengharapkan “murah hati” pemerintah, kaya’nya terlalu jauh mimpi itu.
Pukul 03.00, Muthi’ terbangun kembali. Alarm yang sudah dia setel tepat menjerit di samping telinganya. Syukurlah Luthfi tidak ikut terbangun. Muthi’ meninggalkan anak kecil itu sediri dikamarnya. Sedikit demi sedikit kesejukkan air kran membasahi tangan Muthi’ yang kurus dan seterusnya, dengan penuh kekhusyu’an sehingga Ia terasa melihat dosa-dosanya turut hanyut bersama air yang mengalir. Ia pun kemudian berdiri di atas mihrab cinta, penuh harap, ia melantunkan ayat-ayat suci yang cukup ampuh melelehkan air matanya. Malam itu terasa sangat panjang, ditemani terang rembulan yang tersenyum simpul melihat tingkah manusia yang merindukan kasih Nya. Hingga sampai pada seruan Shubuh….
“ Ayo anak-anak, udah adzan subuh. Ayo bangun. Kita shalat jama’ah yuk ….!” Suara Muthi’ membangunkan anak-anak, yang langsung disambut dengan riuh suara kaki mereka menuruni anak tangga yang terbuat dari kayu jati tua.
Ruangan berukuran 4 X 5 meter yang biasa dijadikan tempat Muthi’ bercerita tentang sirah nabawiyah tiap sore, pagi itu terlihat begitu penuh oleh tubuh-tubuh kecil setinggi 100 centimeter yang berjejer rapi, ruku’ dan sujud dengan begitu teratur di hadapan Rabb mereka. Indah sekali.
Hari itu adalah hari Rabu. Selepas subuh, seperti biasa masing anak-anak sudah mendapatkan tugas untuk membersihkan rumah. Dari mulai beresin kamar masing-masing, sapu lantai, ngepel, sampai bersihkan kamar mandi. Setelah semua selesai tepat pukul 6 pagi mereka bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, untuk mendapatkan hak mereka seperti anak-anak yang lain. Sebelum semua penghuni rumah pergi, mba Urwah datang untuk mengisi shift pagi sampai siang menjaga rumah dan menyiapkan keperluan anak-anak ketika pulang nanti. Rumah singgah itu tak hanya menjadi tempat bernaung anak-anak jalanan, tetapi juga mereka jadikan sebagai tempat mangkal aktivis masjid kampus UNS ngumpul, diskusi dan membicarakan banyak hal di sana sambil mengganti giliran memberikan les kepada anak-anak.
Di antara teman-teman aktivis yang lain, Muthi’ salah satu bagian dari mereka yang paling unik. Walaupun ia juga berasal dari tanah Jawa, namun karakter wajahnya tidak bisa menyembunyikan dari mana sebenarnya ia berasal. Namun itu bukanlah masalah bagi Muthi dan teman-temannnya. Meskipun tetap saja kadang itu membuat Muthi’ canggung dan sedikit kaku. Ada kesan yang ingin Muthi’ sampaikan pada teman-temannya, dan bahkan ingin ia teriakkan kepada semua manusia bahwa “aku pun sama seperti kalian.”
Muthi’ bukan hanya memiliki wajah yang unik, tetapi juga karakter, pemikiran, sikap dan seabreg keunikan yang lain. Misalnya, dia lebih cenderung rasionalis dari pada melankolis seperti kebanyakan perempuan lainnya. Dalam artian, dia cukup cuek ketika dihadapkan pada kondisi yang mungkin akan mengakibatkan kebanyakan perempuan, bad mood, uring-uringan dan berrbagai sikap manja lainnya. Yap, tepatnya easy going girl. Tapi, jangan coba-coba mancing emosinya, yang cepet nyulut kalau disinggung soal wajahnya. Pernah suatu hari, waktu makan siang di kantin kampus ada yang iseng deketin Muthi’.
“ Selamat siang… boleh gabung? “
Saat itu Muthi’ dan teman-teman sedang khusyu’ makan sayur asem. Tak ada respon. Sampai akhirnya ….
“ Maaf, anda orang Arab ya …?”
Sontak Muthi’ terhenti. Dan melotot.
“ Anda ngomong sama saya? “
“ Ya, dari tadi saya di sini ingin ngobrol dengan anda.” Ehm … anda orang Arab kan? “
“Emang kenapa? Mau saya orang Arab, Cina, Jawa, Batak… apa urusannya? Emang penting? “
MANTAP ! Seketika teman-temannya pun tegang oleh sikap Muthi’.
“ Muth …nda usah pake otot gitu. Kan orangnya juga nanya baik-baik.” Imas, puteri Solo mengademkan lengkap dengan logat Jawanya.
“ Ehm … ya, memang ga penting. Saya cuma mau memastikan anda memang orang Arab. Karena saya lihat hidung anda berbeda dengan yang lainnya.”
“ WHAT ! sopan bener ya, merhatiin hidung orang. Anda ini ngerti adab opo ora? “
Sendok yang dipegang Muthi’ seketika meramaikan piring yang berisi ikan asin, sambal dan sayur asem. Dia pergi meninggalkan piring yang masih penuh itu.
Tidak peduli perut yang keroncongan, Muthi’ dengan muka merah padam melaju ke masjid kampus. Chesssss … sejuk. Air membasahi wajah Muthi’. Tak terasa sungai kecil di sudut mata elangnya meleleh …
*****
Selepas ashar, di sudut ruang tamu yang kecil, Muthi’ tertunduk khusyu’ mencermati kata demi kata dalam buku Psikologi Islam yang ada di tangannya. Jilbab biru yang dia pakainya, setidaknya mampu mencerahkan wajahnya yang dari siang layu.
“ Assalamu’alaikum mba Muthi’ …?”
“ ‘alaikumussalam warahmatullah …. eeeh Fauzan, sini sayang. Cieee cakep banget, wangi lagi. Dah mandi ya …
“ Hee..heee….emang Ozan kan paling cakep di sini mba. “
“ Iya deh, …
“ Mba, kemarin Ozan lihat di TV, ada berita serem. Ozan nda nyangka ada orang-orang yang kejam membunuh anak-anak kecil. Udah gitu ada ibu-ibu yang nangis minta tolong tapi nda ada yang mau nolongin. Bapak-bapaknya ada yang dibunuh juga. “
“ Ehm … berita dari mana ?’
“ Itu lho mba, yang ada masjid besar yang bagus. Yang kata mba Muthi’ dulu Nabi Muhammad pernah kesitu. “
Muthi tersenyum. “ Itu namanya masjid Al Aqsha. Kiblat pertama kita umat Islam. Dia ada di Palestina. Orang-orang Yahudi Israel, mereka bukan manusia de, mereka bahkan tak akan pernah mendapatkan ampunan Allah. Pertarungan mereka hanya akan terhenti ketika kelak Allah menjadikan sebuah batu yang akan mengatakan, di sini Yahudi kalah.”
“ Mba, kasihan ya … anak-anak di sana. Mereka nda punya rumah, nda punya bapak-ibu. Mereka makan nda ya mba ….?
Ada kaca di mata elang Muthi’. Dengan lembut dia membelai kepala Ozan yang tertutup kopeyah.
“ Insya Allah de, meski mereka kehilangan semua yang mereka miliki, mereka tidak akan pernah kehilangan cinta dan pertolongan Allah. Allah bahkan menjadikan syurga untuk rumah mereka nanti. Dan kita disini, pertama bersyukurlah tidak mengalami nasib pedih seperti mereka. Kedua, jangan pernah lupa untuk mendo’akan mereka. Dan berbuat sekecil apapun untuk menolong mereka. “
“ piye carane mba? “
“ Rajin shalat, rajin ngaji, nda suka bertengkar dan belajar yang pinter.”
“ Lho, emang bisa mba? Kalo Ozan pengen ke sana mba, bawain batu yang buanyak buat nglemparin tank-tank Yahudi.”
“ Ozan…Ozan ….
to be continued ....
Menikah di jalan Da'wah
“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh berbuat yang ma’ruf, dan mencegah yang munkar, melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan taat kepada Allah danRasul Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sunguh Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
(Q.S At Taubah : 71)
Bismillahirahmannirrahiim
Alhamdulillah alladzi anzalassakiinata fii quluubil mu’minin. Maha Suci Allah, yang senantiasa mencurahkan rahmat Nya kepada kita semua, disetiap pagi, siang, petang dan disetiap waktu. Shalawat serta salam semoga senantiasa kita limpahkan kepada qudwah kita, sang revolusioner peradaban dunia, Rasulullah saw. Semoga langkah tidak akan pernah terhenti menapaki jalan perjuangannya, meneruskan estafet da’wahnya yang sempurna, hingga pertemuan dengannya di Firdausan’a’la. Amin.
Beberapa hari yang lalu, seorang teman bercerita tentang teman akhwatnya yang telah menikah. Temannya itu bercerita kepadanya dengan mata berair, karena suaminya tidak mengijinkan dirinya mengikuti tastqif di hari ahad, dengan alasan karena suaminya ingin menghabiskan waktu dengannya di hari libur itu. Memang dalam pandangan syar’i itu tidak salah. Bahkan sebuah keharusan bagi seorang istri untuk menunaikan keinginan suaminya. Fenomena ini, mungkin sudah bukanlah sesuatu yang asing atau aneh bagi sebagian orang. Karena memang sudah banyak terjadi. Namun bagi ku, ini sangat aneh, apalagi dengan semakin banyaknya akhwat yang mengadukan dirinya mendadak menjadi passivis ketika setelah menikah, padahal sebelum menikah adalah aktivis P4 (pergi pagi pulang petang).
Sebuah idealisme yang sekali lagi terbukti hanya omongan selangit. Menikah di jalan da’wah, menjadi wacana dan isu yang mampu membuat para aktivis Islam menggebu-gebu untuk segera menggenapkan diin. Namun dalam kenyataannya, pernikahan aktivis da’wah tidak jauh berbeda dengan pernikahan kebanyakan orang. Tidak ada atau sedikit yang memahami bagaimana beramal jama’i dalam bingkai rumah tangga untuk memberikan sesuatu kepada masyarakat. Binaul usroh muslimah adalah sebuah tahapan kedua yang harus dimaksimalkan setelah seseorang mengishlah keIslamannya. Artinya, dengan bergabungnya dua kekuatan dalam sebuah mitsaqon ghalidhon, seharusnya pun mampu memperkokoh bangunan da’wah di tengah masyarakat, sehingga visi ke tiga yakni irsyadul mujtama’ dapat disambut dengan cepat dan mudah.
Satu fikroh, satu visi-misi. Itu yang menjadi pertanyaan. Apakah itu hanya menjadi bukti otentik sejarah perjodohan dalam dunia aktivis? Ketika sudah dapat orangnya, “MoU” pun berubah. Menikah di jalan da’wah harusnya menjadi semangat untuk menegakkan Islam, bukan untuk kepentingan pribadi yang telah terbendung sekian lama. Internalisasi tarbiyah dalam diri setiap aktivispun perlu dimutaba’ah. Apakah tarbiyah yang selama ini dijalaninya telah mampu menjadikan dirinya pecinta Allah, Rasul Nya dan da’wah di jalanNya, sehingga ia rela mendahulukan cinta Nya di atas kepentingan pribadinya.
Dalam perbincangan dengan beberapa ummahat, salah satu dari mereka menyampaikan tentang hak suami atas istri. Beliau mengatakan bahwa,” Hak suami atas istri hanya sekian persen saja, bukan hak penuh.” Karena ada Allah, anaknya, dirinya sendiri, masyarakat, yang harus ditunaikannya juga. Jadi ketika ada yang mengatakan bahwa istri adalah hak penuh suaminya, maka saya fikir mereka hanya orang-orang egois yang ingin selalu terpenuhi hak-haknya.
Terkait hal lain, bahwa peran dan tanggung jawab muslimah (wajibatul mar’ah) yang tidak sedikit, yakni di antaranya :
1. Sebagai hamba Allah
2. Sebagai anak
3. Sebagai da’i
4. Sebagai anggota masyarakat
5. Sebagai istri
6. Sebagai ibu
peran-peran yang tidak saling mengeliminasi satu sama lain, ketika peran-peran terebut ditunaikan. Betapa berat tanggung jawab muslimah, terlepas mereka lajang atau menikah. Karena peran kekhalifahan untuk memakmurkan bumi itu tetap berada di pundaknya sebagai seorang wanita yang diciptakan untuk menjadi partner laki-laki.
Alangkah bijaknya, jika tugas berat itu tidak semakin berat dengan status baru yang disandang dari lajang menjadi menikah. Sekali lagi, seharusnya pernikahan menjadi semangat untuk menata masyarakat dengan Islam. Saling bekerja sama, meracik gagasan, bertukar pikiran dan tidak saling menuntut hak.
Bukan lagi Di jalan da’wah aku menikah, tetapi Untuk Da’wah aku Menikah.
Sebagai penutup ….
Untuk Allah, yang menjadi ghayah dalam setiap langkah kita dan kita rindukan pertemuan dengan Nya…bertakbirlah !
Untuk Rasulullah, yang menjadi qudwah dalam setiap amal dan kita harapkan syafa’atnya…. bertakbirlah !
Untuk Alqur’an, yang kita jadikan pedoman dan ruhnya mengalir dalam jiwa kita …bertakbirlah !
Untuk syahid, yang menjadi cita tertinggi dan kita rindukan kehadirannya disetiap amal kita… bertakbirlah !
ALLAHU AKBAR !!!!!
(Q.S At Taubah : 71)
Bismillahirahmannirrahiim
Alhamdulillah alladzi anzalassakiinata fii quluubil mu’minin. Maha Suci Allah, yang senantiasa mencurahkan rahmat Nya kepada kita semua, disetiap pagi, siang, petang dan disetiap waktu. Shalawat serta salam semoga senantiasa kita limpahkan kepada qudwah kita, sang revolusioner peradaban dunia, Rasulullah saw. Semoga langkah tidak akan pernah terhenti menapaki jalan perjuangannya, meneruskan estafet da’wahnya yang sempurna, hingga pertemuan dengannya di Firdausan’a’la. Amin.
Beberapa hari yang lalu, seorang teman bercerita tentang teman akhwatnya yang telah menikah. Temannya itu bercerita kepadanya dengan mata berair, karena suaminya tidak mengijinkan dirinya mengikuti tastqif di hari ahad, dengan alasan karena suaminya ingin menghabiskan waktu dengannya di hari libur itu. Memang dalam pandangan syar’i itu tidak salah. Bahkan sebuah keharusan bagi seorang istri untuk menunaikan keinginan suaminya. Fenomena ini, mungkin sudah bukanlah sesuatu yang asing atau aneh bagi sebagian orang. Karena memang sudah banyak terjadi. Namun bagi ku, ini sangat aneh, apalagi dengan semakin banyaknya akhwat yang mengadukan dirinya mendadak menjadi passivis ketika setelah menikah, padahal sebelum menikah adalah aktivis P4 (pergi pagi pulang petang).
Sebuah idealisme yang sekali lagi terbukti hanya omongan selangit. Menikah di jalan da’wah, menjadi wacana dan isu yang mampu membuat para aktivis Islam menggebu-gebu untuk segera menggenapkan diin. Namun dalam kenyataannya, pernikahan aktivis da’wah tidak jauh berbeda dengan pernikahan kebanyakan orang. Tidak ada atau sedikit yang memahami bagaimana beramal jama’i dalam bingkai rumah tangga untuk memberikan sesuatu kepada masyarakat. Binaul usroh muslimah adalah sebuah tahapan kedua yang harus dimaksimalkan setelah seseorang mengishlah keIslamannya. Artinya, dengan bergabungnya dua kekuatan dalam sebuah mitsaqon ghalidhon, seharusnya pun mampu memperkokoh bangunan da’wah di tengah masyarakat, sehingga visi ke tiga yakni irsyadul mujtama’ dapat disambut dengan cepat dan mudah.
Satu fikroh, satu visi-misi. Itu yang menjadi pertanyaan. Apakah itu hanya menjadi bukti otentik sejarah perjodohan dalam dunia aktivis? Ketika sudah dapat orangnya, “MoU” pun berubah. Menikah di jalan da’wah harusnya menjadi semangat untuk menegakkan Islam, bukan untuk kepentingan pribadi yang telah terbendung sekian lama. Internalisasi tarbiyah dalam diri setiap aktivispun perlu dimutaba’ah. Apakah tarbiyah yang selama ini dijalaninya telah mampu menjadikan dirinya pecinta Allah, Rasul Nya dan da’wah di jalanNya, sehingga ia rela mendahulukan cinta Nya di atas kepentingan pribadinya.
Dalam perbincangan dengan beberapa ummahat, salah satu dari mereka menyampaikan tentang hak suami atas istri. Beliau mengatakan bahwa,” Hak suami atas istri hanya sekian persen saja, bukan hak penuh.” Karena ada Allah, anaknya, dirinya sendiri, masyarakat, yang harus ditunaikannya juga. Jadi ketika ada yang mengatakan bahwa istri adalah hak penuh suaminya, maka saya fikir mereka hanya orang-orang egois yang ingin selalu terpenuhi hak-haknya.
Terkait hal lain, bahwa peran dan tanggung jawab muslimah (wajibatul mar’ah) yang tidak sedikit, yakni di antaranya :
1. Sebagai hamba Allah
2. Sebagai anak
3. Sebagai da’i
4. Sebagai anggota masyarakat
5. Sebagai istri
6. Sebagai ibu
peran-peran yang tidak saling mengeliminasi satu sama lain, ketika peran-peran terebut ditunaikan. Betapa berat tanggung jawab muslimah, terlepas mereka lajang atau menikah. Karena peran kekhalifahan untuk memakmurkan bumi itu tetap berada di pundaknya sebagai seorang wanita yang diciptakan untuk menjadi partner laki-laki.
Alangkah bijaknya, jika tugas berat itu tidak semakin berat dengan status baru yang disandang dari lajang menjadi menikah. Sekali lagi, seharusnya pernikahan menjadi semangat untuk menata masyarakat dengan Islam. Saling bekerja sama, meracik gagasan, bertukar pikiran dan tidak saling menuntut hak.
Bukan lagi Di jalan da’wah aku menikah, tetapi Untuk Da’wah aku Menikah.
Sebagai penutup ….
Untuk Allah, yang menjadi ghayah dalam setiap langkah kita dan kita rindukan pertemuan dengan Nya…bertakbirlah !
Untuk Rasulullah, yang menjadi qudwah dalam setiap amal dan kita harapkan syafa’atnya…. bertakbirlah !
Untuk Alqur’an, yang kita jadikan pedoman dan ruhnya mengalir dalam jiwa kita …bertakbirlah !
Untuk syahid, yang menjadi cita tertinggi dan kita rindukan kehadirannya disetiap amal kita… bertakbirlah !
ALLAHU AKBAR !!!!!
Lima Tahun yang lalu
Kota Wali, Ahad 6th June 2010
Bismillahirrahmannirrahiim
Alhamdulillah alladzi anzalassakiinata fii quluubil mu’minin. Pukul 17.00 di ruangan yang kecil kelas SDIT Sabilul Huda. Rasanya baru kemarin kaki menginjakkan di sini. Saat mata masih banyak tertunduk, lisan masih ini masih terlalu lugu untuk berucap, atau sekedar menyapa. Tiba-tiba ingatanku langsung bernostalgia, mengingat perjalanan waktu yang telah berlalu bersama teman-teman yang kini satu per satu pergi. Setiap sudut ruangan ini, setiap sisi area ini, mengingatkanku akan sebuah kebersamaan yang menghangatkan. Tawa, canda, tangis, nasihat, rasanya ingin sekali terulang.
Tiga jam yang lalu, waktuku baru saja mengantarkanku dari sebuah tempat yang kini menjadi obsesiku. Tempat yang terlalu sempit bagi orang-orang yang menginginkan kebebasan. Tempat itu, alasan yang semakin menguatkanku untuk tidak meninggalkan the gate of secret ini.
Lima tahun sudah aku di sini. Membuat sejarah yang kelak akan menjadi cerita di masa tuaku. Begitu banyak hal yang aku temukan untuk aku fahami. Begitu banyak yang terlewati. Begitu banyak yang berubah, yang tergantikan dan yang paling sedih, tak akan pernah kembali seperti dulu. Sejarah, adakalanya tak mungkin terulang kembali. Yang tersisa saat ini, hanyalah kekecewaan, keharuan dan …entahlah, tak mampu kugambarkan perasaan ini.
Lima tahun sudah, mungkin semakin menghajatkan diri ini untuk pamit. Terlalu berat pastinya untuk melangkahkan kaki, pergi meninggalkan setiap sudut kota yang penuh kenangan. Pasti akan ada rindu pada panasnya, awannya, dinginnya, suara rintik hujannya dan pada setiap keunikan yang ada. Pasti akan ada getaran ketika ku mengingat semuanya.
Hajatku, tak selalu mudah ku raih. Pasti, akan selalu ada cerita pahit dan sulit di awal. Namun ada kepastian akan ku raih. Meski sungguh, sekali lagi, akan sulit melewati semua perjalanan waktu. Tak mudah, jika saat ini, aku harus membingkai semua kenangan itu dan menjadikannya sebagai hiasan ruang waktuku.
Lima tahun bukanlah waktu yang pendek. Di dalamnya, skenario waktuku penuh dengan berbagai kejutan. Yang semuanya kuma’nai bersama air mata yang menemani. Terlalu banyak yang tak mampu ku fahami. Ukhuwwah, cinta, sayang, perjuangan, pengorbanan, loyalitas, cemburu dan semua yang tak mampu aku terjemahkan. Karenanya, kadang-kadang aku semakin ingin meninggalkan semuanya. Bosan, jenuh…tak ada yang bisa yang ku lakukan.
Dan di saat perasaan itu menguasaiku, aku pun lemah. Tak sanggup aku membayangkan perpisahan itu. Perpisahanku dengan segala kenanganku, sejarahku dan …. orang-orang yang pernah hadir dalam hidupku, terlalu berat jika aku harus mengucapkan selamat tinggal.
Namun, aku pun sadar, tak mungkin selamanya aku berada dalam lingkaran ini. Aku harus keluar, aku punya masa depan, ada peradaban yang harus aku bangun. Dan, mungkin, semuanya harus aku lalui tanpa semua yang ada di sini. Meski masa depanku adalah sebuah rahasia, namun aku harus menyiapkannya atau bahkan menskestanya saat ini. Walaupun dalam skesta yang aku rancang, akan ada duka yang mengiringinya. Aku harus tegar untuk semuanya, untuk masa depanku.
Satu yang pasti, sebelum kaki ini benar-benar melangkah pergi, setiap yang aku cita-citakan, aku harap semuanya akan hadir bersama mengawal kepergianku. Rumah singgah, FLP, Punk kajian, PSK learning ….semoga semua itu menjadi keniscayaan di batas akhir waktuku di sini.
Huuh …indahnya membuat sejarah. Karena ia adalah catatan statistik tentang denyut nadi, derap langkah dan perjalanan alam fikir. Semoga catatan itu berma’na dan indah di akhir cerita. Semoga.
Alhamdulillah …
- Pemburu Syahid-
Bismillahirrahmannirrahiim
Alhamdulillah alladzi anzalassakiinata fii quluubil mu’minin. Pukul 17.00 di ruangan yang kecil kelas SDIT Sabilul Huda. Rasanya baru kemarin kaki menginjakkan di sini. Saat mata masih banyak tertunduk, lisan masih ini masih terlalu lugu untuk berucap, atau sekedar menyapa. Tiba-tiba ingatanku langsung bernostalgia, mengingat perjalanan waktu yang telah berlalu bersama teman-teman yang kini satu per satu pergi. Setiap sudut ruangan ini, setiap sisi area ini, mengingatkanku akan sebuah kebersamaan yang menghangatkan. Tawa, canda, tangis, nasihat, rasanya ingin sekali terulang.
Tiga jam yang lalu, waktuku baru saja mengantarkanku dari sebuah tempat yang kini menjadi obsesiku. Tempat yang terlalu sempit bagi orang-orang yang menginginkan kebebasan. Tempat itu, alasan yang semakin menguatkanku untuk tidak meninggalkan the gate of secret ini.
Lima tahun sudah aku di sini. Membuat sejarah yang kelak akan menjadi cerita di masa tuaku. Begitu banyak hal yang aku temukan untuk aku fahami. Begitu banyak yang terlewati. Begitu banyak yang berubah, yang tergantikan dan yang paling sedih, tak akan pernah kembali seperti dulu. Sejarah, adakalanya tak mungkin terulang kembali. Yang tersisa saat ini, hanyalah kekecewaan, keharuan dan …entahlah, tak mampu kugambarkan perasaan ini.
Lima tahun sudah, mungkin semakin menghajatkan diri ini untuk pamit. Terlalu berat pastinya untuk melangkahkan kaki, pergi meninggalkan setiap sudut kota yang penuh kenangan. Pasti akan ada rindu pada panasnya, awannya, dinginnya, suara rintik hujannya dan pada setiap keunikan yang ada. Pasti akan ada getaran ketika ku mengingat semuanya.
Hajatku, tak selalu mudah ku raih. Pasti, akan selalu ada cerita pahit dan sulit di awal. Namun ada kepastian akan ku raih. Meski sungguh, sekali lagi, akan sulit melewati semua perjalanan waktu. Tak mudah, jika saat ini, aku harus membingkai semua kenangan itu dan menjadikannya sebagai hiasan ruang waktuku.
Lima tahun bukanlah waktu yang pendek. Di dalamnya, skenario waktuku penuh dengan berbagai kejutan. Yang semuanya kuma’nai bersama air mata yang menemani. Terlalu banyak yang tak mampu ku fahami. Ukhuwwah, cinta, sayang, perjuangan, pengorbanan, loyalitas, cemburu dan semua yang tak mampu aku terjemahkan. Karenanya, kadang-kadang aku semakin ingin meninggalkan semuanya. Bosan, jenuh…tak ada yang bisa yang ku lakukan.
Dan di saat perasaan itu menguasaiku, aku pun lemah. Tak sanggup aku membayangkan perpisahan itu. Perpisahanku dengan segala kenanganku, sejarahku dan …. orang-orang yang pernah hadir dalam hidupku, terlalu berat jika aku harus mengucapkan selamat tinggal.
Namun, aku pun sadar, tak mungkin selamanya aku berada dalam lingkaran ini. Aku harus keluar, aku punya masa depan, ada peradaban yang harus aku bangun. Dan, mungkin, semuanya harus aku lalui tanpa semua yang ada di sini. Meski masa depanku adalah sebuah rahasia, namun aku harus menyiapkannya atau bahkan menskestanya saat ini. Walaupun dalam skesta yang aku rancang, akan ada duka yang mengiringinya. Aku harus tegar untuk semuanya, untuk masa depanku.
Satu yang pasti, sebelum kaki ini benar-benar melangkah pergi, setiap yang aku cita-citakan, aku harap semuanya akan hadir bersama mengawal kepergianku. Rumah singgah, FLP, Punk kajian, PSK learning ….semoga semua itu menjadi keniscayaan di batas akhir waktuku di sini.
Huuh …indahnya membuat sejarah. Karena ia adalah catatan statistik tentang denyut nadi, derap langkah dan perjalanan alam fikir. Semoga catatan itu berma’na dan indah di akhir cerita. Semoga.
Alhamdulillah …
- Pemburu Syahid-
Sinergitas Peran Da'wah
Pernah ada sebuah pembicaraan yang menarik tentang dua akhwat caleg ga jadi.
” Assalamu’alaikum, gimana mba, jadi ga ? Alhamdulillah ana ga jadi.”
“Alhamdulillah ana juga ga jadi. Terlalu besar saingan dengan ikhwan.”
Hal menarik yang ana tangkap dari percakapan itu, bukanlah kita kemudian berkesimpulan bahwa peran da’wah adalah sebuah persaingan antara ikhwan dengan akhwat. Namun satu hal yang paling menarik yang bisa ditarik dari fenomena di atas adalah lunturnya paradigma berfikir dari kalangan muharrik da’wah tentang sebuah idealisme da’wah. Maksudnya ?
Sejatinya, seorang muharrik da’wah dalam membangun peradaban besaar ini, dimulai dari peradaban kecil di dalam rumahnya. Saat meniatkan langkah untuk membangun kesatuan visi misi dalam rumah tangga, apakah itu kemudian telah menjadi sebuah kesepakatan bersama bahwa rumah tangga yang dibangun adalah benar-benar di atas manhaj rabbani dan sebagai salah satu visi-misi da’wah. Konsekuensinya, akan ada peran managerial yang seimbang antara kedua belah pihak (suami-istri) dalam menunaikan tugas-tugas da’wah dan tugas di dalam rumahnya. Agaknya idealisme itu semakin tak memiliki ruh. Fenomena yang berkembang kebanyakan saat ini adalah da’wah hanya milik kaum suami. Tugas istri hanya sebatas manager domestik.
Ketika seorang muharrik da’wah (ikhwan ataupun akhwat) memutuskan untuk menikah, satu hal yang menjadi pertimbangan saat itu (idealnya) adalah da’wah. Artinya bagaimana kemudian pernikahan itu mampu menjadi kekuatan dalam bangunan jama’ah da’wah ini, dengan saling berta’awun dalam melaksanakan tugas-tugas, sehingga paradigma “Di Jalan Da’wah Aku Menikah” dapat mudah diterjemahkan.
Imam Syahid Hasan Al Banna mengatakan dalam risalahnya,” Islam meninggikan harkat dan martabat wanita dan mengangkat nilai kemanusiaannya serta menetapkannya sebagai saudara bagi sesamanya dan partner bagi laki-laki dalam kehidupan.” Sebagimana firman Allah swt dalam surat At Taubah : “ Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan taat kepada Allah dan Rasul Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
Da’wah adalah kewajiban individu muslim, tak bisa diwakilkan. Laki-laki dan perempuan adalah partner dalam da’wah, sepasang manager yang profesional dalam rumah tangga. Tidak berlepas dari tugas asasi perempuan, namun bukan berarti dia “terpenjara” olehnya. Dan bukan berarti laki-laki pun tidak memiliki andil dalam mengurus rumah tangganya. Sekali lagi, semuanya kembali kepada sejauh mana ta’awun menjadi semangat dalam menunaikan tugas.
Sejenak, sebelum berbicara tentang ta’awun, dia tidak mungkin diwujudkan sebelum adanya tafahum. Ya, tafahum akan tugas dan kewajiban dari masing-masing, sehingga tidak akan hanya muncul dari keduanya penuntutan hak yang harus dipenuhi. Seorang suami, bagaimana dia memahami bahwa istrinya bukan perempuan biasa. Dia yang juga aktivis, memiliki kewajiban terhadap da’wah yang tidak mungkin diwakilkan apalagi diabaikan. Artinya, seorang istri memiliki kompensasi didalam mengerjakan tugas-tugas rumah tangganya, yang pada hakikatnya adalah tugas paruh waktunya. Pemahaman akan hal inilah yang kemudian akan mampu mewujudkan ta’awun. Seorang istri bukanlah super woman apalagi robot yang mampu melakukan berbagai tugas.
Tidak bisa dipungkiri, di tengah-tengah idealisme yang dibangun di atas da’wah ini, para suami (ikhwan) banyak yang kemudian berfikir untuk menikah dengan akhwat yang biasa-biasa saja. Sehingga ia tidak memiliki kesibukan da’wah diluar yang mampu mengurangi waktu dan perhatiannya untuk keluarga. Idealisme da’wah yang berubah menjadi kekuatan ego sentris. Dan peran akhwat (istri) dalam membangun peradaban yang lebih besar itupun di anggap tidak begitu strategis.
Berbicara tentang sinergisasi peran, seperti pada tulisan saya sebelumnya (Istikrorud da’wah), seorang suami tidak akan terkurangi izzahnya sebagai kepala rumah tangga ketika ia menyetrika, mencuci ataupun memasak untuk keluarganya. Rasulullah pun, dengan segala kemuliaan yang dimiliki, pernah menjahit bajunya yang robek dengan tangannya sendiri yang penuh kelembutan. Imam Al Banna, dengan berbagai agenda da’wahnya yang cukup menyita waktu untuk beliau bercengkrama dengan keluargnya, bukan berarti beliau tak memperhatikan urusan istri dan anak-anaknya. Bahkan beliau memiliki catatan rapih tentang kesehatan, permasalahan sekolah serta prestasi anak-anaknya. Beliau pun tidak segan-segan untuk mengantarkan bekal untuk anak-anaknya di sekolah. Artinya, beliau pun berperan besar dalam mengurusi dan menentukan masa depan anak-anaknya, bukan hanya masa depan Islam.
Berbagai materi telah banyak kita dapatkan, hingga mampu kita tumpuk materi-materi itu dalam buku Liqo’ yang bisa jadi tiga kali ganti dalam setahun. Namun, membangun peradaban ini bukan dengan memperbanyak teori, tapi amal. Amal yang didasari oleh pemahaman yang syumul tentang hakikat dari setiap proses kehidupan ini.
“ Nahnu du’at qobla kulli syai’in.” Sejak awal kita adalah da’i. Saat ini kita da’i. Esok kita da’i. Hingga Islam tegak, kita adalah da’i. Predikat yang tidak tergantikan oleh predikat kedua, ketiga dan seterusnya.
Da’wah ilallah adalah alasan dalam setiap amal kita. “Di Jalan da’wah aku Menikah,” bukanlah sebatas paradigma, tetapi hakikat yang harus ditafsirkan dalam amal nyata. Wallahu’alam.
- Syahidah Lamno -
” Assalamu’alaikum, gimana mba, jadi ga ? Alhamdulillah ana ga jadi.”
“Alhamdulillah ana juga ga jadi. Terlalu besar saingan dengan ikhwan.”
Hal menarik yang ana tangkap dari percakapan itu, bukanlah kita kemudian berkesimpulan bahwa peran da’wah adalah sebuah persaingan antara ikhwan dengan akhwat. Namun satu hal yang paling menarik yang bisa ditarik dari fenomena di atas adalah lunturnya paradigma berfikir dari kalangan muharrik da’wah tentang sebuah idealisme da’wah. Maksudnya ?
Sejatinya, seorang muharrik da’wah dalam membangun peradaban besaar ini, dimulai dari peradaban kecil di dalam rumahnya. Saat meniatkan langkah untuk membangun kesatuan visi misi dalam rumah tangga, apakah itu kemudian telah menjadi sebuah kesepakatan bersama bahwa rumah tangga yang dibangun adalah benar-benar di atas manhaj rabbani dan sebagai salah satu visi-misi da’wah. Konsekuensinya, akan ada peran managerial yang seimbang antara kedua belah pihak (suami-istri) dalam menunaikan tugas-tugas da’wah dan tugas di dalam rumahnya. Agaknya idealisme itu semakin tak memiliki ruh. Fenomena yang berkembang kebanyakan saat ini adalah da’wah hanya milik kaum suami. Tugas istri hanya sebatas manager domestik.
Ketika seorang muharrik da’wah (ikhwan ataupun akhwat) memutuskan untuk menikah, satu hal yang menjadi pertimbangan saat itu (idealnya) adalah da’wah. Artinya bagaimana kemudian pernikahan itu mampu menjadi kekuatan dalam bangunan jama’ah da’wah ini, dengan saling berta’awun dalam melaksanakan tugas-tugas, sehingga paradigma “Di Jalan Da’wah Aku Menikah” dapat mudah diterjemahkan.
Imam Syahid Hasan Al Banna mengatakan dalam risalahnya,” Islam meninggikan harkat dan martabat wanita dan mengangkat nilai kemanusiaannya serta menetapkannya sebagai saudara bagi sesamanya dan partner bagi laki-laki dalam kehidupan.” Sebagimana firman Allah swt dalam surat At Taubah : “ Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan taat kepada Allah dan Rasul Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
Da’wah adalah kewajiban individu muslim, tak bisa diwakilkan. Laki-laki dan perempuan adalah partner dalam da’wah, sepasang manager yang profesional dalam rumah tangga. Tidak berlepas dari tugas asasi perempuan, namun bukan berarti dia “terpenjara” olehnya. Dan bukan berarti laki-laki pun tidak memiliki andil dalam mengurus rumah tangganya. Sekali lagi, semuanya kembali kepada sejauh mana ta’awun menjadi semangat dalam menunaikan tugas.
Sejenak, sebelum berbicara tentang ta’awun, dia tidak mungkin diwujudkan sebelum adanya tafahum. Ya, tafahum akan tugas dan kewajiban dari masing-masing, sehingga tidak akan hanya muncul dari keduanya penuntutan hak yang harus dipenuhi. Seorang suami, bagaimana dia memahami bahwa istrinya bukan perempuan biasa. Dia yang juga aktivis, memiliki kewajiban terhadap da’wah yang tidak mungkin diwakilkan apalagi diabaikan. Artinya, seorang istri memiliki kompensasi didalam mengerjakan tugas-tugas rumah tangganya, yang pada hakikatnya adalah tugas paruh waktunya. Pemahaman akan hal inilah yang kemudian akan mampu mewujudkan ta’awun. Seorang istri bukanlah super woman apalagi robot yang mampu melakukan berbagai tugas.
Tidak bisa dipungkiri, di tengah-tengah idealisme yang dibangun di atas da’wah ini, para suami (ikhwan) banyak yang kemudian berfikir untuk menikah dengan akhwat yang biasa-biasa saja. Sehingga ia tidak memiliki kesibukan da’wah diluar yang mampu mengurangi waktu dan perhatiannya untuk keluarga. Idealisme da’wah yang berubah menjadi kekuatan ego sentris. Dan peran akhwat (istri) dalam membangun peradaban yang lebih besar itupun di anggap tidak begitu strategis.
Berbicara tentang sinergisasi peran, seperti pada tulisan saya sebelumnya (Istikrorud da’wah), seorang suami tidak akan terkurangi izzahnya sebagai kepala rumah tangga ketika ia menyetrika, mencuci ataupun memasak untuk keluarganya. Rasulullah pun, dengan segala kemuliaan yang dimiliki, pernah menjahit bajunya yang robek dengan tangannya sendiri yang penuh kelembutan. Imam Al Banna, dengan berbagai agenda da’wahnya yang cukup menyita waktu untuk beliau bercengkrama dengan keluargnya, bukan berarti beliau tak memperhatikan urusan istri dan anak-anaknya. Bahkan beliau memiliki catatan rapih tentang kesehatan, permasalahan sekolah serta prestasi anak-anaknya. Beliau pun tidak segan-segan untuk mengantarkan bekal untuk anak-anaknya di sekolah. Artinya, beliau pun berperan besar dalam mengurusi dan menentukan masa depan anak-anaknya, bukan hanya masa depan Islam.
Berbagai materi telah banyak kita dapatkan, hingga mampu kita tumpuk materi-materi itu dalam buku Liqo’ yang bisa jadi tiga kali ganti dalam setahun. Namun, membangun peradaban ini bukan dengan memperbanyak teori, tapi amal. Amal yang didasari oleh pemahaman yang syumul tentang hakikat dari setiap proses kehidupan ini.
“ Nahnu du’at qobla kulli syai’in.” Sejak awal kita adalah da’i. Saat ini kita da’i. Esok kita da’i. Hingga Islam tegak, kita adalah da’i. Predikat yang tidak tergantikan oleh predikat kedua, ketiga dan seterusnya.
Da’wah ilallah adalah alasan dalam setiap amal kita. “Di Jalan da’wah aku Menikah,” bukanlah sebatas paradigma, tetapi hakikat yang harus ditafsirkan dalam amal nyata. Wallahu’alam.
- Syahidah Lamno -
Sur'atul Istijabah
“ Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Rabbmu, dan mendapatkan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang bertaqwa.”
(Q.S Ali Imron : 133)
Labbaik ! Suara itu menggemuruh, mengalir lintas kurun dan abad, tiada henti. Membahana dari lembah yang tiada bertanaman, dekat rumah tua itu (Al Baitul Atiq, Q.S Al Hajj : 29,33), rumah suci Nya, tempat segala keamanan dan kemerdekaan, memenuhi telaga hati yang bening dalam kilau yang memancarkan wibawa abadi. Gaungnya menggema, menjadi saksi atas keaslian ajaran harfiah samhah yang kokoh terhadap perubahan-perubahan naif oleh tangan dan otak kerdil yang selalu gagal, namun terus saja merasa mampu mengubah, menyaingi atau menambah keasliannya.
Labbaik, judul roman panjang kehidupan yang seakan dimonopoli tiga elit manusia : Al Khalil Ibrahim, Adz Dzabih Ismail dan Ummu Ismail alaihissalam, dalam ujian berat yang mereka jalani. Pesan itu tak bisa difahami oleh mereka yang melihat adanya kekuatan azam pada para hamba tersebut serta rasul-rasul Ulul Azmi, lalu berkomentar : “ Memang hebat kekuatan jiwa mereka. Tetapi bukankah mereka nabi-nabi dan isteri-isteri nabi, lalu siapakah kita ?”
Apakah para nabi bukan manusia, yang punya selera dan hasrat dunia? Tidakkah mereka pantas menjadi teladan, sementara begitu besar hajat mereka kepada kehidupan dan kesenangan, tetapi lebih memprioritaskan Allah, Rabbnya ? Ada pass-word yang hilang dari memori kaum yang malang ini : ikhlas, yakin, taat, tawakal, optimis, kecintaan beramal, pandangan jauh kedepan dan fauriyatul istijabah (respon kilat) terhadap semua seruan Nya. ( Warisan Sang Murabbi, Ustadz Rahmat Abdullah rahimahullah)
Respon yang luar biasa dari seorang Abu Dujana ketika bertanya kepada Rasulullah. “Wahai Rasulullah, apa yang akan aku dapatkan dari jihad bersamamu? Rasulullah menjawab : Syurga. Lalu seketika ia pun merespon : “ Kalau begitu aku akan berperang sampai aku syahid dengan luka di sini . “ Kata Abu Dujana sambil menunjuk ke lehernya. Rasulullah berkata kepada : “ Engkau akan mendapatinya, karena engkau jujur kepada Allah.” Dengan segera ia merangsek ke dalam barisan Uhud dan mengatakan, “Sesungguhnya aku mencium wanginya syurga di balik Uhud !” Dan benar, ketika para syuhada Uhud dimakamkan, para sahabat mendapati tubuh Abu Dujana penuh dengan 70 luka pedang, dan luka panah persis seperti yang dia tunjukkan.
Keta’atan yang luar biasa pun, telah kita pelajari dari kisah sahabat dalam perang Khaibar. Perang yang paling lama dan melelahkan. Dipuncak kelelahan, ketika pasukan Muslim berhasil menguasai benteng Ash Sha’b bin Mu’adz, benteng yang paling kaya dengan sumber makanan dan senjata. Di sana mereka telah memasak seekor himar untuk mengisi perut mereka yang lapar berhari-hari. Di saat telah siap disajikan, tiba-tiba datang wahyu tentang pengharaman himar. Apa yang kemudian terjadi? Seketika kuali yang berisi harum daging himar dibalik dan tumpahlah isinya. Tak ada permohonan toleransi atau pembantahan. Nyaris diluar ketaatan kita yang didominasi logika. Mungkin jika kita menjadi meraka akan mengatakan,” Mengapa wahyu itu tidak turun sebelumnya ? “ Tentunya tak akan membuat kecewa perut yang telah keroncongan berhari-hari itu. Itulah ketaatan dan kecintaan mereka kepada Allah dan Rasul Nya. Tak mengenal logika.
Imam Syahid Hasan Al Banna mengatakan : “ Dapat kugambarkan profil mujahid sejati dalam diri seseorang yang siap mengambil bekal dan memenuhi perlengkapannya. Seluruh dirinya (seluruh sudut jiwa dan hatinya) didominasi pemikiran seputar perjuangan. Ia dalam pemikiran yang selalu, perhatian yang besar dan kesiapan yang senantiasa.”
Keimanan mujahid yang terejawantah dalam kesigapannya melaksanakan kebaikan, tugas dan kewajibannya, adalah refleksi dari jiwa yang bertanggung jawab, yang akan mampu menghindari penyesalan, kerugian dan penderitaan. Ia pun bersegera menuntut ihsan dan itqonul ‘amal sehingga membuahkan natijah yang kongkret.
Dalam era kontemporer, sur’atul istijabah itu seakan menguap. Bisa dilihat dari jumlah peminat tatsqif kader, kajian ilmiah mahasiswa, bedah buku, atau aksi turu ke jalan. Seharusnya layar HP polychrome mendadak buram ketika mendapat jawaban sms, “ afwan ana tidak bisa hadir, ada kuliah…ada urusan ke sini….ada bla…bla…bla…..
Entahlah, berbicara hajat, urusan, kepentingan, semua kita, bahkan para nabi dan para sahabat punya banyak kepentingan. Namun, Allah dan Rasul Nya lebih utama. Kiranya cukuplah kisah Ka’ab bin Malik menjadi teguran dan pelajaran untuk kita semua yang mengaku aktivis Islam.
Lantas apa sebenarnya yang melunturkan kekuatan sur’atul istijabah itu ? Seharusnya, introspeksi jiwa menjadi kebiasaan, hingga kita dapat mengevaluasi beberapa hal :
1. Keimanan.
Keimanan yang dalam sangat mempengaruhi kekuatan sur’ah. Kita masih ingat peristiwa turunnya surat Al Baqarah ayat 286-287 yang membuat para sahabat menangis dan ketakutan. Bahwa syahadat yang menumbuhkan keimanan menuntut konsekuensi yang tidak mudah. Lalu, bagaimana kita pun ingat kaum Hawariyyin yang berkata : “ Nahnu ansharullah.” Ketika nabi Isa as bertanya kepada mereka : “ Siapakah yang akan menjadi penolongku menegakkan diinullah ?” Dan sur’atul istijabah adalah buah dari keimanan. Akankah keimanan kita mampu menggerakkan lisan kita untuk mengatakan dengan tegas : “ NAHNU ANSHARULLAH ! ”
2. Pemahaman
Pemahaman yang benar dan mendalam terhadap wahyu (Alqur’an) adalah kunci kedua setelah keimanan. Ia (fahm) adalah rukun pertama sebelum menghidupkan ikhlas untuk menegakkan sebuah amal. Tak ada amal tanpa keikhlasan dan tak ada keikhlasan tanpa pemahaman. Seorang da’i tidak mungkin dapat mendistribusikan nilai-nilai Islam kepada orang lain, jika ia sendiri tidak memahaminya. Selama seseorang tidak memahami prinsip yang diyakininya, ia tidak akan bisa berinteraksi dengan prinsip tersebut dan ruh yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, Rasulullah selalu mendorong para sahabat untuk memberikan pemahaman kepada orang-orang yang baru masuk Islam. Beliau mengatakan kepada mereka : “ Berilah pemahaman pada saudaramu dalam urusan agama ini. Bacakan dan ajarkanlah Alqur’an kepadanya.” ( Hadist riwayat Ath Thabarani).
Kisah yang mengharukan dari seorang Tsabit bin Qais dari Hadist yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, ketika turun surat Al Hujurat ayat 2. “ Wahai orang-orang yang beriman ! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi …”. Seketika Tsabit ketakutan dan tak mau keluar rumah, seraya menangis dan mengatakan, “ Celakalah aku. Aku ahli neraka.” Anas bin Malik kemudian mengadukan hal ini kepada Rasulullah, maka Rasulullah mengatakan, “ Bahkan sesungguhnya dia adalah ahli syurga.” Luar biasa, hassasiyah jundi Rasulullah, sampai takut akan uqubat karena merasa telah melanggar aturan Nya. Seperti yang kita ketahui bahwa Tsabit adalah sahabat Rasulullah yang bersuara lantang dan keras. Namun bukan hal tersebut yang dimaksudkan surat ke-49 itu.
Dengan lembut dan santun Allah tabaraka ta’ala menyampaikan dalam surat Al Anfal ayat 24 : “ Wahai orang-orang yang beriman ! Penuhilah seruan Allah dan Rasul Nya, apabila dia menyeru kepadamu sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu. Dan ketahuilah sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada Nyalah kamu akan dikumpulkan.”
Asy Syahid Sayyid Quthb mengatakan : “ Sur’atul istijabah adalah tindakan pemenuhan fitrah yang bersih untuk memenuhi seruan da’wah yang haq dan lurus. Di sana ada kejujuran, kelapangan, kekuatan semangat, pengetahuan yang benar dan sambutan akan cetusan qalbu yang hebat atas kebenaran yang nyata.”
3. Ma’rifat yang hidup terhadap kebenaran da’wah
Pemetaan fikrah yang tidak didukung realitas harokah atau ilmu pengetahuan yang tidak didukung oleh ‘amal akan melahirkan ma’rifah mayyitah. Dan, da’wah ini mengharuskan adanya ma’rifah hayyitah dalam diri kader-kadernya. Sehingga idealisme sebuah fikrah dapat dengan mudah didefinisikan dalam tataran realitas. Sirah da’wah Rasulullah, sekali lagi membuka ingatan akan kecerdasan dan keberanian seorang Mush’ab bin Umair, seorang duta da’wah pertama dan tunggal untuk Yatsrib. Kecerdasannya dalam menyampaikan da’wah Islam, begitu mampu mengalir dalam setiap aliran darah Sa’ad bin Mu’adz, pemimpin suku Khazraj. Sehingga Sa’ad berkata kepada kaumnya : “ Wahai Bani Abdil-Asyhal, apa yang kalian ketahui tentang kedudukanku di tengah kalian ?”
Mereka menjawab : “ Engkau adalah pemimpin kami dan orang yang paling jitu pendapatnya serta nasihatnya yang paling kami percaya.”
Sa’ad melanjutkan : “ Siapapun di antara kalian, laki-laki maupun wanita tidak boleh berbicara denganku kecuali jika kalian beriman kepada Allah dan Rasul Nya. “ Hingga sore harinya, tak seorang pun di antara mereka melainkan telah menjadi muslim dan muslimah, kecuali satu orang saja, yaitu Al Ushairim, yang menangguhkan keimanannya hingga perang Uhud. Pada saat perang Uhud itu dia masuk Islam, lalu ikut berperang dan terbunuh sebagai syahid. Padahal belum sati kalipun bersujud kepada Allah. Untuknya Rasulullah bersabda : “ Dia mengerjakan yang sedikit namun mendapat pahala yang melimpah.”
4. Tertanamnya hakikat kehidupan akhirat dalam hati dan amal sehingga akan terjaga dalam penjagaan Allah ( riayah rabbaniyah).
Tertanamnya pemahaman yang syumul tentang hakikat kehidupan, seperti yang Allah serukan dalam surat Adz- Dzariyat ayat 56 bahwa “tidaklah jin dan manusia diciptakan kecuali untuk beribadah kepada Allah.” Ayat ini menyingkap berbagai sisi dan sudut konseptual dan tujuan yang semuanya tercakup oleh hakikat yang besar ini, yang dianggap sebagai batu fondasi di mana kehidupan berdiri. Sisi pertama dari hakikat ini ialah bahwa di sana terdapat tujuan tertentu dari keberadaan jin dan manusia, yang tercermin pada tugas. Barangsiapa melaksanakan dan menunaikan tugas itu, berarti dia telah merealisasikan tujuan keberadaannya. Dan barangsiapa menyepelekannya atau membangkangnya, berarti dia telah menghancurkan tujuan keberadaannya. Sehingga jadilah ia tanpa fungsi, tanpa tujuan dan tidak memiliki makna utama yang menjadi sumber nilainya yang pertama. Jika demikian, berarti dia telah melepaskan diri dari prinsip yang telah melahirkannya ke alam nyata.
Sebuah prinsip yang di dalamnya terdapat sebuah hakikat yang begitu besar. Hakikat yang menjelaskan tugas peribadatan yang lebih luas dan komprehensif. Tidak sekedar pelaksanaan simbol-simbol. Itulah tugas besar kekhalifahan di bumi dan itulah karya alam manusia ini Q.S Al Baqarah : 30). Dan tugas besar ini termasuk dalam konsep ibadah, yang hakikatnya tercermin pada dua masalah pokok, yaitu mengokohkan konsep penghambaan kepada Allah di dalam diri, dan menghadapkan diri kepada Allah dengan seluruh gerak hati, gerak anggota badan dan gerak kehidupan.
5. Fahmu qadhaya ummat dan memiliki ruhul mas’uliyah
Pemahaman akan tugas kekhalifahan yang menuntut perbaikan, tak akan niscaya apabila apatis terhadap kondisi. Sekali lagi, hassasiyah positif dalam diri kader adalah wajib, karena ia adalah modal awal untuk kemudian ia mampu memahami realitas yang harus dirubah. Dan ruhul mas’uliyah yang akan mampu mengarahkan gerak perubahan sehingga managable, ihsan dan itqon fii al ‘amal.
6. Keyakinan bahwa kebersamaan bersama Rasulullah, shadiqin, syuhada dan solihin di syurga ditentukan oleh sejauh mana kita mengikuti mereka dalam sigap pada setiap panggilan jihad dan da’wah.
Wallahu’alam.
Faqir Ila Allah
Syahidah Lamno
Maraji :
Warisan Sang Murabbi (Alm. Ustadz Rahmat Abdullah)
Tafsir Fii Dzilalil Qur’an Sayyid Quthb
Sirah Nabawiyah
Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimun 1
(Q.S Ali Imron : 133)
Labbaik ! Suara itu menggemuruh, mengalir lintas kurun dan abad, tiada henti. Membahana dari lembah yang tiada bertanaman, dekat rumah tua itu (Al Baitul Atiq, Q.S Al Hajj : 29,33), rumah suci Nya, tempat segala keamanan dan kemerdekaan, memenuhi telaga hati yang bening dalam kilau yang memancarkan wibawa abadi. Gaungnya menggema, menjadi saksi atas keaslian ajaran harfiah samhah yang kokoh terhadap perubahan-perubahan naif oleh tangan dan otak kerdil yang selalu gagal, namun terus saja merasa mampu mengubah, menyaingi atau menambah keasliannya.
Labbaik, judul roman panjang kehidupan yang seakan dimonopoli tiga elit manusia : Al Khalil Ibrahim, Adz Dzabih Ismail dan Ummu Ismail alaihissalam, dalam ujian berat yang mereka jalani. Pesan itu tak bisa difahami oleh mereka yang melihat adanya kekuatan azam pada para hamba tersebut serta rasul-rasul Ulul Azmi, lalu berkomentar : “ Memang hebat kekuatan jiwa mereka. Tetapi bukankah mereka nabi-nabi dan isteri-isteri nabi, lalu siapakah kita ?”
Apakah para nabi bukan manusia, yang punya selera dan hasrat dunia? Tidakkah mereka pantas menjadi teladan, sementara begitu besar hajat mereka kepada kehidupan dan kesenangan, tetapi lebih memprioritaskan Allah, Rabbnya ? Ada pass-word yang hilang dari memori kaum yang malang ini : ikhlas, yakin, taat, tawakal, optimis, kecintaan beramal, pandangan jauh kedepan dan fauriyatul istijabah (respon kilat) terhadap semua seruan Nya. ( Warisan Sang Murabbi, Ustadz Rahmat Abdullah rahimahullah)
Respon yang luar biasa dari seorang Abu Dujana ketika bertanya kepada Rasulullah. “Wahai Rasulullah, apa yang akan aku dapatkan dari jihad bersamamu? Rasulullah menjawab : Syurga. Lalu seketika ia pun merespon : “ Kalau begitu aku akan berperang sampai aku syahid dengan luka di sini . “ Kata Abu Dujana sambil menunjuk ke lehernya. Rasulullah berkata kepada : “ Engkau akan mendapatinya, karena engkau jujur kepada Allah.” Dengan segera ia merangsek ke dalam barisan Uhud dan mengatakan, “Sesungguhnya aku mencium wanginya syurga di balik Uhud !” Dan benar, ketika para syuhada Uhud dimakamkan, para sahabat mendapati tubuh Abu Dujana penuh dengan 70 luka pedang, dan luka panah persis seperti yang dia tunjukkan.
Keta’atan yang luar biasa pun, telah kita pelajari dari kisah sahabat dalam perang Khaibar. Perang yang paling lama dan melelahkan. Dipuncak kelelahan, ketika pasukan Muslim berhasil menguasai benteng Ash Sha’b bin Mu’adz, benteng yang paling kaya dengan sumber makanan dan senjata. Di sana mereka telah memasak seekor himar untuk mengisi perut mereka yang lapar berhari-hari. Di saat telah siap disajikan, tiba-tiba datang wahyu tentang pengharaman himar. Apa yang kemudian terjadi? Seketika kuali yang berisi harum daging himar dibalik dan tumpahlah isinya. Tak ada permohonan toleransi atau pembantahan. Nyaris diluar ketaatan kita yang didominasi logika. Mungkin jika kita menjadi meraka akan mengatakan,” Mengapa wahyu itu tidak turun sebelumnya ? “ Tentunya tak akan membuat kecewa perut yang telah keroncongan berhari-hari itu. Itulah ketaatan dan kecintaan mereka kepada Allah dan Rasul Nya. Tak mengenal logika.
Imam Syahid Hasan Al Banna mengatakan : “ Dapat kugambarkan profil mujahid sejati dalam diri seseorang yang siap mengambil bekal dan memenuhi perlengkapannya. Seluruh dirinya (seluruh sudut jiwa dan hatinya) didominasi pemikiran seputar perjuangan. Ia dalam pemikiran yang selalu, perhatian yang besar dan kesiapan yang senantiasa.”
Keimanan mujahid yang terejawantah dalam kesigapannya melaksanakan kebaikan, tugas dan kewajibannya, adalah refleksi dari jiwa yang bertanggung jawab, yang akan mampu menghindari penyesalan, kerugian dan penderitaan. Ia pun bersegera menuntut ihsan dan itqonul ‘amal sehingga membuahkan natijah yang kongkret.
Dalam era kontemporer, sur’atul istijabah itu seakan menguap. Bisa dilihat dari jumlah peminat tatsqif kader, kajian ilmiah mahasiswa, bedah buku, atau aksi turu ke jalan. Seharusnya layar HP polychrome mendadak buram ketika mendapat jawaban sms, “ afwan ana tidak bisa hadir, ada kuliah…ada urusan ke sini….ada bla…bla…bla…..
Entahlah, berbicara hajat, urusan, kepentingan, semua kita, bahkan para nabi dan para sahabat punya banyak kepentingan. Namun, Allah dan Rasul Nya lebih utama. Kiranya cukuplah kisah Ka’ab bin Malik menjadi teguran dan pelajaran untuk kita semua yang mengaku aktivis Islam.
Lantas apa sebenarnya yang melunturkan kekuatan sur’atul istijabah itu ? Seharusnya, introspeksi jiwa menjadi kebiasaan, hingga kita dapat mengevaluasi beberapa hal :
1. Keimanan.
Keimanan yang dalam sangat mempengaruhi kekuatan sur’ah. Kita masih ingat peristiwa turunnya surat Al Baqarah ayat 286-287 yang membuat para sahabat menangis dan ketakutan. Bahwa syahadat yang menumbuhkan keimanan menuntut konsekuensi yang tidak mudah. Lalu, bagaimana kita pun ingat kaum Hawariyyin yang berkata : “ Nahnu ansharullah.” Ketika nabi Isa as bertanya kepada mereka : “ Siapakah yang akan menjadi penolongku menegakkan diinullah ?” Dan sur’atul istijabah adalah buah dari keimanan. Akankah keimanan kita mampu menggerakkan lisan kita untuk mengatakan dengan tegas : “ NAHNU ANSHARULLAH ! ”
2. Pemahaman
Pemahaman yang benar dan mendalam terhadap wahyu (Alqur’an) adalah kunci kedua setelah keimanan. Ia (fahm) adalah rukun pertama sebelum menghidupkan ikhlas untuk menegakkan sebuah amal. Tak ada amal tanpa keikhlasan dan tak ada keikhlasan tanpa pemahaman. Seorang da’i tidak mungkin dapat mendistribusikan nilai-nilai Islam kepada orang lain, jika ia sendiri tidak memahaminya. Selama seseorang tidak memahami prinsip yang diyakininya, ia tidak akan bisa berinteraksi dengan prinsip tersebut dan ruh yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, Rasulullah selalu mendorong para sahabat untuk memberikan pemahaman kepada orang-orang yang baru masuk Islam. Beliau mengatakan kepada mereka : “ Berilah pemahaman pada saudaramu dalam urusan agama ini. Bacakan dan ajarkanlah Alqur’an kepadanya.” ( Hadist riwayat Ath Thabarani).
Kisah yang mengharukan dari seorang Tsabit bin Qais dari Hadist yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, ketika turun surat Al Hujurat ayat 2. “ Wahai orang-orang yang beriman ! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi …”. Seketika Tsabit ketakutan dan tak mau keluar rumah, seraya menangis dan mengatakan, “ Celakalah aku. Aku ahli neraka.” Anas bin Malik kemudian mengadukan hal ini kepada Rasulullah, maka Rasulullah mengatakan, “ Bahkan sesungguhnya dia adalah ahli syurga.” Luar biasa, hassasiyah jundi Rasulullah, sampai takut akan uqubat karena merasa telah melanggar aturan Nya. Seperti yang kita ketahui bahwa Tsabit adalah sahabat Rasulullah yang bersuara lantang dan keras. Namun bukan hal tersebut yang dimaksudkan surat ke-49 itu.
Dengan lembut dan santun Allah tabaraka ta’ala menyampaikan dalam surat Al Anfal ayat 24 : “ Wahai orang-orang yang beriman ! Penuhilah seruan Allah dan Rasul Nya, apabila dia menyeru kepadamu sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu. Dan ketahuilah sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada Nyalah kamu akan dikumpulkan.”
Asy Syahid Sayyid Quthb mengatakan : “ Sur’atul istijabah adalah tindakan pemenuhan fitrah yang bersih untuk memenuhi seruan da’wah yang haq dan lurus. Di sana ada kejujuran, kelapangan, kekuatan semangat, pengetahuan yang benar dan sambutan akan cetusan qalbu yang hebat atas kebenaran yang nyata.”
3. Ma’rifat yang hidup terhadap kebenaran da’wah
Pemetaan fikrah yang tidak didukung realitas harokah atau ilmu pengetahuan yang tidak didukung oleh ‘amal akan melahirkan ma’rifah mayyitah. Dan, da’wah ini mengharuskan adanya ma’rifah hayyitah dalam diri kader-kadernya. Sehingga idealisme sebuah fikrah dapat dengan mudah didefinisikan dalam tataran realitas. Sirah da’wah Rasulullah, sekali lagi membuka ingatan akan kecerdasan dan keberanian seorang Mush’ab bin Umair, seorang duta da’wah pertama dan tunggal untuk Yatsrib. Kecerdasannya dalam menyampaikan da’wah Islam, begitu mampu mengalir dalam setiap aliran darah Sa’ad bin Mu’adz, pemimpin suku Khazraj. Sehingga Sa’ad berkata kepada kaumnya : “ Wahai Bani Abdil-Asyhal, apa yang kalian ketahui tentang kedudukanku di tengah kalian ?”
Mereka menjawab : “ Engkau adalah pemimpin kami dan orang yang paling jitu pendapatnya serta nasihatnya yang paling kami percaya.”
Sa’ad melanjutkan : “ Siapapun di antara kalian, laki-laki maupun wanita tidak boleh berbicara denganku kecuali jika kalian beriman kepada Allah dan Rasul Nya. “ Hingga sore harinya, tak seorang pun di antara mereka melainkan telah menjadi muslim dan muslimah, kecuali satu orang saja, yaitu Al Ushairim, yang menangguhkan keimanannya hingga perang Uhud. Pada saat perang Uhud itu dia masuk Islam, lalu ikut berperang dan terbunuh sebagai syahid. Padahal belum sati kalipun bersujud kepada Allah. Untuknya Rasulullah bersabda : “ Dia mengerjakan yang sedikit namun mendapat pahala yang melimpah.”
4. Tertanamnya hakikat kehidupan akhirat dalam hati dan amal sehingga akan terjaga dalam penjagaan Allah ( riayah rabbaniyah).
Tertanamnya pemahaman yang syumul tentang hakikat kehidupan, seperti yang Allah serukan dalam surat Adz- Dzariyat ayat 56 bahwa “tidaklah jin dan manusia diciptakan kecuali untuk beribadah kepada Allah.” Ayat ini menyingkap berbagai sisi dan sudut konseptual dan tujuan yang semuanya tercakup oleh hakikat yang besar ini, yang dianggap sebagai batu fondasi di mana kehidupan berdiri. Sisi pertama dari hakikat ini ialah bahwa di sana terdapat tujuan tertentu dari keberadaan jin dan manusia, yang tercermin pada tugas. Barangsiapa melaksanakan dan menunaikan tugas itu, berarti dia telah merealisasikan tujuan keberadaannya. Dan barangsiapa menyepelekannya atau membangkangnya, berarti dia telah menghancurkan tujuan keberadaannya. Sehingga jadilah ia tanpa fungsi, tanpa tujuan dan tidak memiliki makna utama yang menjadi sumber nilainya yang pertama. Jika demikian, berarti dia telah melepaskan diri dari prinsip yang telah melahirkannya ke alam nyata.
Sebuah prinsip yang di dalamnya terdapat sebuah hakikat yang begitu besar. Hakikat yang menjelaskan tugas peribadatan yang lebih luas dan komprehensif. Tidak sekedar pelaksanaan simbol-simbol. Itulah tugas besar kekhalifahan di bumi dan itulah karya alam manusia ini Q.S Al Baqarah : 30). Dan tugas besar ini termasuk dalam konsep ibadah, yang hakikatnya tercermin pada dua masalah pokok, yaitu mengokohkan konsep penghambaan kepada Allah di dalam diri, dan menghadapkan diri kepada Allah dengan seluruh gerak hati, gerak anggota badan dan gerak kehidupan.
5. Fahmu qadhaya ummat dan memiliki ruhul mas’uliyah
Pemahaman akan tugas kekhalifahan yang menuntut perbaikan, tak akan niscaya apabila apatis terhadap kondisi. Sekali lagi, hassasiyah positif dalam diri kader adalah wajib, karena ia adalah modal awal untuk kemudian ia mampu memahami realitas yang harus dirubah. Dan ruhul mas’uliyah yang akan mampu mengarahkan gerak perubahan sehingga managable, ihsan dan itqon fii al ‘amal.
6. Keyakinan bahwa kebersamaan bersama Rasulullah, shadiqin, syuhada dan solihin di syurga ditentukan oleh sejauh mana kita mengikuti mereka dalam sigap pada setiap panggilan jihad dan da’wah.
Wallahu’alam.
Faqir Ila Allah
Syahidah Lamno
Maraji :
Warisan Sang Murabbi (Alm. Ustadz Rahmat Abdullah)
Tafsir Fii Dzilalil Qur’an Sayyid Quthb
Sirah Nabawiyah
Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimun 1
Karena Aku terlanjur Cinta pada KAMMI
Hari itu, siang yang cukup panas. Lima tahun yang lalu, untuk pertama kalinya aku menghirup udara kota wali. Aku, di antar oleh temanku (mba Nanis, thank’s for the nice moment with you), setelah registrasi calon mahasiswa baru di salah satu kampus di sana, berkunjung ke sebuah tempat yang cukup strategis untuk menengok kegiatan bimbel ujian masuk dari sebuah organisasi mahasiswa, KAMMI. Telat sekali, hari itu adalah hari terakhir bimbel, dan hari terakhir pendaftaran (calon mahasiswa). Memang sempat ada yang bilang, “ ck..ck…ck…niat kuliah nda sih kamu…”. Ya, apa boleh buat, masih untung bisa daftar dari pada telat sama sekali. Singkat cerita, waktu ujian masuk kampus itu tiba juga. Aku, menginap di tempat kostan yang dulu mba Nanis pernah tinggal di situ. Ehm…base camp akhwat ternyata.
Kesan pertama, cukup asing. Walau sebelumnya pun pernah menginap di tempat serupa saat berjuang melawan soal-soal SPMB di Semarang. Ada teh Unah, teh Yuni, teh Lulu, teh Eti, teh Lia, serta Sani dan Eka yang senasib seperjuangan. Kami bertiga berjuang bersama malam itu. Dan …kami pun diterima di kampus itu. Kami bertiga, juga kompak masuk dua organisasi sekaligus, LDK dan KAMMI. Masa-masa orientasi yang indah dan melelahkan.
Awal ketergabungan, belum terasa kontribusi yang diberikan, maklum…we have still cute. Menginjak semester genap, mulai terasa “aroma” perjuangan yang harus diberikan. Aksi pertama kami adalah aksi menyambut Ramadhan. Ehm …ternyata ni’mat buangeet yang namanya long march, malemnya….langsung tuh kaki parareugel. Tapi, tidak ada kata CUKUP. Kalo kata iklan, “ Mau lagi doooong !!!! ”
Ketergabungan kami yang mulai semakin jauh dengan pelibatan di dalam struktur organisasi. Dua amanah pun menyambutku. Mas’ul Departemen Da’wah Sekolah di LDK dan kaderisasi untuk KAMMI komisariat STAIN (sekarang IAIN). Awal, cukup berat. Dalam perjalanannya, terpaksa aku mohon pamit kepada teman-teman LDK. Ya, aku memilih focus perjuangan di KAMMI. Tentu, keputusan yang tidak mudah dan berat. Namun…apa boleh buat.
Tahun kedua, inilah masa awal yang membuatku kemudian bertekad untuk total. Untuk pertama kalinya, aku berani bolos kuliah. Ada panggilan aksi….Let’s move !!!, ada agenda besar KAMMI …Come on !!! Oh ..indahnya. Apalagi dengan IP yang memuaskan di awal, semangat itu semakin agresive merasuki jiwaku…halah…lebay !
Namun, sempat shock juga, ketika pernah ada satu mata kuliah yang tidak lulus. Sebuah tamparan untukku. Saat itu, agenda sedang begitu banyaknya ngantri untuk ditunaikan. Dan, satu tekad, MAJU terus pantang mundur ! Konsekuensi yang harus aku tunaikan selanjutnya adalah, STUDY HARD !!!
Serunya berjuang di KAMMI, tentunya yang pertama karena aksinya, yang kedua bisa bertemu dengan teman-teman KAMMI dari daerah lain. Ingat sekali, aksi spektakuler KAMMI Daerah Cirebon yang berhasil membobol pintu balai kota dengan jumlah masa cuma sekitar 20 orang, padahal polisinya sampai tiga lapis pengamanan. Aksi Palestine yang di kawal oleh 2 mobil kompi polisi…(waduh pakkk, kita tidak pernah macem-macem kalo aksi, takutkah engkau pada KAMMI ????). Oh ya… yang lebih seru, aksi gabungan di Jakarta saat penolakan kenaikan harga BBM, dan di Bandung saat deklarasi SBY-Boediono. Waahhh… unforgetable dah pokoknya.
Betul sekali kata seorang aktivis, “Jangan pernah ngaku mahasiswa kalo belum pernah demo.” Yaa…demo itu seru bin ni’mat. Rugi bagi orang-orang yang mengaku mahasiswa, tetapi hanya berjibaku dengan buku-buku kuliah. Ahhh…itu mah anak SMA.
Not only demo, kegiatan Ramadhan dari tahun-tahun yang juga menyuguhkan cerita indah tersendiri bersama KAMMI. Ifthor jama’i, penggalangan dana korban bencana (subhanallah, di tengah lelah dan lapar yang sangat, semakin terasa ni’matnya Ramadhan saat itu bersama KAMMI), bakti sosial, bedah buku, etc.
KAMMI, tentunya bukanlah organisasi yang hanya pintar berorasi di jalan tanpa solusi. Bagaimanapun, KAMMI tempat para intelektual muslim berdiskusi untuk merumuskan solusi dari permasalahan yang dihadapi. Tradisi ilmiah yang senantiasa dikembangkan di forum-forum diskusi seperti madrasah KAMMInya atau madrasah siyasi, sebagai bekal bahwa orasi KAMMI di jalanan bukanlah orasi tanpa ruh. Kekuatan humas KAMMI mampu memasuki jajaran anggota dewan, dinas, elemen masyarakat dsb.
Dalam perjalanannya, kemudahan semakin banyak bertebaran di depan “jalan” perjuangan bersama KAMMI. Salah satunya kemudahan bolos, heee…heee….heee…. entah dah berapa kali bolos, tapi alhamdulillah… IPK tetap memuaskan (tidak termasuk PMDK alias Persatuan Mahasiswa Dua Koma). Kemudahan di tengah kesulitan-kesulitan yang menyerbu. Permasalahan yang kadang membutukan jalan berfikir, dan tak jarang pula ada tangis bersama yang terpaksa kita hadirkan saat menikmati perjuangan bersama KAMMI.
Semakin jauh berjalan bersama KAMMI, tentunya sunnatullah perjuangan, KAMMI tak lagi jadi prioritas. Satu per satu dari mereka yang dulu loyal, kini mundur dengan teratur dari barisan. Menuntaskan kuliah, pulang kampung, kerja dan berbagai alasan lainnya. Generasiku, kini tertinggal 2 akhwat yang belum mau check out dari rumah KAMMI. Generasi sesudahku, bahkan lebih banyak yang lebih dulu “pamit”. Pernah ada yang memberikan nasihat,” udahlah, saatnya pengkaderan. Sudah bukan masanya lagi anti ada di KAMMI. Tuntaskan kuliah, kemudian ….”. Justru itu, keberadaanku dan saudaraku itu, tak bisa dipungkiri karena untuk pengkaderan. Ketika kita berfikir realistis, KAMMI ku….tak bisa ku bayangkan apa yang akan terjadi padanya, meski aku yakin akan ada “tangan” Allah yang membereskan. Karena aku pun telah terlanjur cinta pada KAMMI, mungkin itu pula yang membuatku belum ingin atau bahkan tak ingin mengucapkan “GOODBYE” pada KAMMI. Amanah itu senantiasa terus memanggil-manggil untuk aku ambil dan selesaikan. Bukan karena KAMMI secara organisasi aku mencintainya, namun secara substansi. Satu per satu memang telah pamit pulang lebih dulu, namun aku ingin menjadi orang yang paling terakhir mengucapkannya.
Nasihat ustadz Rahmat Abdullah rahimahullah, yang senantiasa ku pegang,” Seonggok kemanusiaan terkapar. Siapa mengaku bertanggung jawab, tak satu pun. Bila semua pihak menghindar, biarlah saya menanggungnya, semuanya atau sebagian. “
KAMMI … eksistensinya, ada di tangan siapa? tak perlu menunjuk siapa, tunjuklah diri sendiri. Jika kau tak mampu menunjuk diri sendiri, maka memang lebih baik mundurlah. Biarkan kami bersama KAMMI. Membenahinya untuk membenahi peradaban ini.
“Banyak kewajian tanpa peran adalah kebangkrutan, dan banyak peran tanpa kewajiban adalah kemandulan.”
Ambillah peran itu, selagi ada.
- Syahidah Lamno -
Kesan pertama, cukup asing. Walau sebelumnya pun pernah menginap di tempat serupa saat berjuang melawan soal-soal SPMB di Semarang. Ada teh Unah, teh Yuni, teh Lulu, teh Eti, teh Lia, serta Sani dan Eka yang senasib seperjuangan. Kami bertiga berjuang bersama malam itu. Dan …kami pun diterima di kampus itu. Kami bertiga, juga kompak masuk dua organisasi sekaligus, LDK dan KAMMI. Masa-masa orientasi yang indah dan melelahkan.
Awal ketergabungan, belum terasa kontribusi yang diberikan, maklum…we have still cute. Menginjak semester genap, mulai terasa “aroma” perjuangan yang harus diberikan. Aksi pertama kami adalah aksi menyambut Ramadhan. Ehm …ternyata ni’mat buangeet yang namanya long march, malemnya….langsung tuh kaki parareugel. Tapi, tidak ada kata CUKUP. Kalo kata iklan, “ Mau lagi doooong !!!! ”
Ketergabungan kami yang mulai semakin jauh dengan pelibatan di dalam struktur organisasi. Dua amanah pun menyambutku. Mas’ul Departemen Da’wah Sekolah di LDK dan kaderisasi untuk KAMMI komisariat STAIN (sekarang IAIN). Awal, cukup berat. Dalam perjalanannya, terpaksa aku mohon pamit kepada teman-teman LDK. Ya, aku memilih focus perjuangan di KAMMI. Tentu, keputusan yang tidak mudah dan berat. Namun…apa boleh buat.
Tahun kedua, inilah masa awal yang membuatku kemudian bertekad untuk total. Untuk pertama kalinya, aku berani bolos kuliah. Ada panggilan aksi….Let’s move !!!, ada agenda besar KAMMI …Come on !!! Oh ..indahnya. Apalagi dengan IP yang memuaskan di awal, semangat itu semakin agresive merasuki jiwaku…halah…lebay !
Namun, sempat shock juga, ketika pernah ada satu mata kuliah yang tidak lulus. Sebuah tamparan untukku. Saat itu, agenda sedang begitu banyaknya ngantri untuk ditunaikan. Dan, satu tekad, MAJU terus pantang mundur ! Konsekuensi yang harus aku tunaikan selanjutnya adalah, STUDY HARD !!!
Serunya berjuang di KAMMI, tentunya yang pertama karena aksinya, yang kedua bisa bertemu dengan teman-teman KAMMI dari daerah lain. Ingat sekali, aksi spektakuler KAMMI Daerah Cirebon yang berhasil membobol pintu balai kota dengan jumlah masa cuma sekitar 20 orang, padahal polisinya sampai tiga lapis pengamanan. Aksi Palestine yang di kawal oleh 2 mobil kompi polisi…(waduh pakkk, kita tidak pernah macem-macem kalo aksi, takutkah engkau pada KAMMI ????). Oh ya… yang lebih seru, aksi gabungan di Jakarta saat penolakan kenaikan harga BBM, dan di Bandung saat deklarasi SBY-Boediono. Waahhh… unforgetable dah pokoknya.
Betul sekali kata seorang aktivis, “Jangan pernah ngaku mahasiswa kalo belum pernah demo.” Yaa…demo itu seru bin ni’mat. Rugi bagi orang-orang yang mengaku mahasiswa, tetapi hanya berjibaku dengan buku-buku kuliah. Ahhh…itu mah anak SMA.
Not only demo, kegiatan Ramadhan dari tahun-tahun yang juga menyuguhkan cerita indah tersendiri bersama KAMMI. Ifthor jama’i, penggalangan dana korban bencana (subhanallah, di tengah lelah dan lapar yang sangat, semakin terasa ni’matnya Ramadhan saat itu bersama KAMMI), bakti sosial, bedah buku, etc.
KAMMI, tentunya bukanlah organisasi yang hanya pintar berorasi di jalan tanpa solusi. Bagaimanapun, KAMMI tempat para intelektual muslim berdiskusi untuk merumuskan solusi dari permasalahan yang dihadapi. Tradisi ilmiah yang senantiasa dikembangkan di forum-forum diskusi seperti madrasah KAMMInya atau madrasah siyasi, sebagai bekal bahwa orasi KAMMI di jalanan bukanlah orasi tanpa ruh. Kekuatan humas KAMMI mampu memasuki jajaran anggota dewan, dinas, elemen masyarakat dsb.
Dalam perjalanannya, kemudahan semakin banyak bertebaran di depan “jalan” perjuangan bersama KAMMI. Salah satunya kemudahan bolos, heee…heee….heee…. entah dah berapa kali bolos, tapi alhamdulillah… IPK tetap memuaskan (tidak termasuk PMDK alias Persatuan Mahasiswa Dua Koma). Kemudahan di tengah kesulitan-kesulitan yang menyerbu. Permasalahan yang kadang membutukan jalan berfikir, dan tak jarang pula ada tangis bersama yang terpaksa kita hadirkan saat menikmati perjuangan bersama KAMMI.
Semakin jauh berjalan bersama KAMMI, tentunya sunnatullah perjuangan, KAMMI tak lagi jadi prioritas. Satu per satu dari mereka yang dulu loyal, kini mundur dengan teratur dari barisan. Menuntaskan kuliah, pulang kampung, kerja dan berbagai alasan lainnya. Generasiku, kini tertinggal 2 akhwat yang belum mau check out dari rumah KAMMI. Generasi sesudahku, bahkan lebih banyak yang lebih dulu “pamit”. Pernah ada yang memberikan nasihat,” udahlah, saatnya pengkaderan. Sudah bukan masanya lagi anti ada di KAMMI. Tuntaskan kuliah, kemudian ….”. Justru itu, keberadaanku dan saudaraku itu, tak bisa dipungkiri karena untuk pengkaderan. Ketika kita berfikir realistis, KAMMI ku….tak bisa ku bayangkan apa yang akan terjadi padanya, meski aku yakin akan ada “tangan” Allah yang membereskan. Karena aku pun telah terlanjur cinta pada KAMMI, mungkin itu pula yang membuatku belum ingin atau bahkan tak ingin mengucapkan “GOODBYE” pada KAMMI. Amanah itu senantiasa terus memanggil-manggil untuk aku ambil dan selesaikan. Bukan karena KAMMI secara organisasi aku mencintainya, namun secara substansi. Satu per satu memang telah pamit pulang lebih dulu, namun aku ingin menjadi orang yang paling terakhir mengucapkannya.
Nasihat ustadz Rahmat Abdullah rahimahullah, yang senantiasa ku pegang,” Seonggok kemanusiaan terkapar. Siapa mengaku bertanggung jawab, tak satu pun. Bila semua pihak menghindar, biarlah saya menanggungnya, semuanya atau sebagian. “
KAMMI … eksistensinya, ada di tangan siapa? tak perlu menunjuk siapa, tunjuklah diri sendiri. Jika kau tak mampu menunjuk diri sendiri, maka memang lebih baik mundurlah. Biarkan kami bersama KAMMI. Membenahinya untuk membenahi peradaban ini.
“Banyak kewajian tanpa peran adalah kebangkrutan, dan banyak peran tanpa kewajiban adalah kemandulan.”
Ambillah peran itu, selagi ada.
- Syahidah Lamno -
Langganan:
Postingan (Atom)