Mimpi, itulah yang menggerakkan kaki untuk melangkah, tangan untuk menggenggam, mata untuk terjaga, dan bibir untuk terus berharap. Tak ada salahnya seseorang bermimpi. Bukan sekedar mimpi tentunya. Mimpi yang tak sekedar bunga tidur di malam hari, tetapi menggelayut di alam fikir tatkala fajar menjelang hingga kembali ke peraduan.
Dalam perjalanan hidup manusia, amatlah hampa jika tak punya mimpi. Tak ada warna yang berpadu menghiasi wajah perjalanan. Dan ternyata banyak manusia yang takut bermimpi. Mereka takut jika itu benar-benar mimpi yang tak beroleh. Pun aku. Aku pernah takut bermimpi. Tak berani menginginkan sesuatu yang bagiku mustahil. Meski aku sadar, ini adalah pemikiran bodoh.
Semakin mendaki ke puncak, maka akan semakin berat dan lelah pula kaki melangkah. Semakin besar tantangan yang siap menyapa. Dan mungkin, mustahil mimpi-mimpi itu digapai. Dibutuhkan keyakinan yang tak kecil agar ia tetap berpijak pada jalannya, agar mimpi-mimpi tak terkubur bersama hadirnya lelah dan bosan. Dan sekali lagi, tak sedikit dari mereka yang menghentikan langkah ketika bosan dan putus asa menghadang.
Di episode yang tak seperti dulu lagi, saat usia tak bisa diartikan sama dengan aktivitas dimasa lalu, hajat diri untuk semakin bermimpi pun rasanya semakin menguat. Namun sayangnya, tak sekuat itu pula energi yang tersisa. Ada keterbatasan dan kelemahan yang menyeka langkah. Mengobrak-abrik tatanan idealisme yang selama ini terancang di dalam fikirku. Akankah mimpi-mimpiku terwujud? Pertanyaan itu tak jarang meracuni keyakinanku.
Langkahku pun kemudian tak seharmoni dulu. Lunglai dan mengikuti arus. Aku tahu aku salah. Idealismeku sekejap runtuh. Realita yang selalu tak sejalan dengan mimpi-mimpi yang dirangkai. Mensinergiskan langkah dengan realita yang tak seimbang sungguh sangat berat. Sesaat, terlintas untuk mengakhiri semuanya. Menjadi manusia minimalis yang tak punya mimpi, memaknai hidup apa adanya, tanpa ada cerita rumit yang harus difikirkan, atau kekhawatiran akan kegagalan yang siap hadir. Hidup datar seperti kebanyakan manusia.
Namun ternyata tak semudah itu mengkubur mimpi. Kesulitan yang menjadikan diri ini mustahil meraih tiap hajatnya, pelan-pelan mulai tak berarti apa-apa. Sunnatullah berbicara. Tak selalu kesulitan itu menjadi cerita. Ada kabar gembira yang begitu luar biasa menyentak dinding jiwa. Mengharu biru, menitik bening bahagia dan mengurai syukur yang panjang. Kepasrahan di tengah usaha telah menjadi Firdaus di ujung sahara. Itulah yang mungkin terfikir mustahil bagi akal manusia lemah.
Kebosanan akan kesulitan dan kemustahilan pada sebuah mimpi, ia pun kian rapuh membelenggu. Ia tak lagi menjadi hantu di siang hari atau mimpi buruk di malam hari. Benarlah ketika Tuhan mengatakan, “faidzaa ‘azzamta fa tawakkal’alallah”. Itulah kekuatan yang perlu kembali digenggam. Agar mimpi itu pun menjadi takdir yang niscaya. Yakin, tak ada yang mustahil bagi Nya.
Lebih dari itu, untaian kata penuh harap dan memelas yang tak terputus oleh optimisme, semakin mudah bagi Nya membuat takdir yang indah untuk manusia. Yakin, tak ada yang mustahil bagi Nya untuk menumpahkan rahmat bagi manusia yang tak jemu mendekat dengan kedekatan yang semakin.
Bismillah, dengannya kaki ini melangkah menata hidup, menggambarnya di atas kanvas putih kehidupan. Bercorak indah oleh gradasi warna yang semakin terang, menawan, semoga seperti itu pun keniscayaan dari Tuhan untuk manusia.
Sabtu, 01 Januari 2011
Sebuah Peta Masa Depan
Kota Udang, 29 Desember 2010
Perjuangan memang selalu menjadi cerita menarik dalam sebuah dinamika waktu. Ia tak pernah jeda untuk menjadi tema besar yang selalu ada dalam sebuah jagat eksistensi. Ia menjadi parameter kegemilangan masa depan seluruh makhluq, tak hanya manusia. Segala bekal potensi yang ada, dikerahkan demi hasil perjuangan yang memuaskan.
Perjuangan tak akan mungkin ia berjalan sendiri. Ia membutuhkan pengorbanan sebagai teman perjalanan. Keduanya akan selalu berjalan beriringan, hingga cita-cita yang diharapkan hadir di penghujung lelah. Cita-cita itu pun adalah sebuah keniscayaan, ia berbanding lurus dengan perjuangan dan pengorbanan.
Perjuangan, ia adalah titik awal kehidupan dimulai, kemudian berproses dan akhirnya tamat. Siapa yang berhenti berjuang, maka ia menghentikan denyut nadi kehidupannya. Tak ada sejarah yang bergulir menjadi cerita. Padahal, sejatinya ia adalah warisan yang tak akan pernah habis.
Menapaki setiap detik waktu baru yang bergulir, menghajatkan diri untuk terus berkarya. Melukis sejarah di atas kanvas kehidupan, memang tak mudah. Terkadang, gradasi warna yang ada, tak sesuai dengan keinginan. Tangan ini pun harus bergerak lincah memainkan kuas, memadukan warna demi warna agar ia serasi di pandang.
Detik ini, di tengah keterbatasan yang ada, sedikit kekuatan yang ada tak boleh ia disia-siakan. Satu per satu pintu-pintu masa depan mulai terbuka. Satu per satu kesempatan berhamburan menyambangi diri yang terdiam, terpaku oleh kebisuan, terpasung oleh keraguan dan kepasrahan yang salah.
Aset termahal dalam hidup pun menggugat. Ia adalah taruhan antara kegagalan atau kegemilangan. Mundur atau maju. Berjuang atau diam. Sebuah peta masa depan yang semakin jelas tergambar, kini telah lekat di alam fikir. Ya, ia adalah kekuatan yang semakin menguat dan mengikat jiwa untuk terus bergerak bersama waktu yang semakin membawa pada gerbang perpisahan. Jiwa, di tengah-tengah kesendiriannya, ia tak boleh lemah. Pena telah menulis takdirnya di Lauh sana.
Lima tahun sudah, kaki ini berjalan menapaki satu per satu tangga kehidupan di bawah atmosfer yang berbeda. Lelah yang senantiasa menjadi teman, hiruk pikuk problema hidup yang tak kenal jeda, kini telah mampu dimaknai sebagai hiasan yang kadang dirindu hadir. Lima tahun sudah, kaki ini melangkah mengejar cita-cita yang tak pernah bosan aku memimpikannya.
Kini, di episode baru kehidupan yang semakin ramai perpaduan warnanya, pun menggugat diri ini untuk terus berhajat menuntaskan satu demi satu mimpi yang telah terlalu lama mengendap. Rumit memang, karena mereka adalah rangkaian cerita di masa yang akan datang. Mereka memang sangat rahasia. Oleh karenanya, hanya kekuatan optimis yang mampu mendobrak pintu rahasia itu menjadi keniscayaan.
Di lima tahun ini, kematangan jiwa yang semakin, tak boleh ia dipatahkan oleh kegagalan yang mungkin akan kembali menyapa. Tidak bermaksud pesimis, namun kegagalan pun adalah cerita yang tak jarang lekat mewarnai kanvas kehidupan manusia. Dengan kematangan jiwa yang ada, setidaknya kanvas itu menyiratkan warna yang lebih bersemangat, tidak lagi buram.
Di akhir tahun kelima ini, di senja ini adalah titik baru peta masa depan itu digambar. Bergerak di atas keterbatasan yang ada, ku pahat sejarah di sini, ku rangkai cerita dan ku torehkan warna indah di atas kanvas kehidupan. Dan esok adalah keniscayaan yang tak akan sia-sia. Insya Allah.
Perjuangan memang selalu menjadi cerita menarik dalam sebuah dinamika waktu. Ia tak pernah jeda untuk menjadi tema besar yang selalu ada dalam sebuah jagat eksistensi. Ia menjadi parameter kegemilangan masa depan seluruh makhluq, tak hanya manusia. Segala bekal potensi yang ada, dikerahkan demi hasil perjuangan yang memuaskan.
Perjuangan tak akan mungkin ia berjalan sendiri. Ia membutuhkan pengorbanan sebagai teman perjalanan. Keduanya akan selalu berjalan beriringan, hingga cita-cita yang diharapkan hadir di penghujung lelah. Cita-cita itu pun adalah sebuah keniscayaan, ia berbanding lurus dengan perjuangan dan pengorbanan.
Perjuangan, ia adalah titik awal kehidupan dimulai, kemudian berproses dan akhirnya tamat. Siapa yang berhenti berjuang, maka ia menghentikan denyut nadi kehidupannya. Tak ada sejarah yang bergulir menjadi cerita. Padahal, sejatinya ia adalah warisan yang tak akan pernah habis.
Menapaki setiap detik waktu baru yang bergulir, menghajatkan diri untuk terus berkarya. Melukis sejarah di atas kanvas kehidupan, memang tak mudah. Terkadang, gradasi warna yang ada, tak sesuai dengan keinginan. Tangan ini pun harus bergerak lincah memainkan kuas, memadukan warna demi warna agar ia serasi di pandang.
Detik ini, di tengah keterbatasan yang ada, sedikit kekuatan yang ada tak boleh ia disia-siakan. Satu per satu pintu-pintu masa depan mulai terbuka. Satu per satu kesempatan berhamburan menyambangi diri yang terdiam, terpaku oleh kebisuan, terpasung oleh keraguan dan kepasrahan yang salah.
Aset termahal dalam hidup pun menggugat. Ia adalah taruhan antara kegagalan atau kegemilangan. Mundur atau maju. Berjuang atau diam. Sebuah peta masa depan yang semakin jelas tergambar, kini telah lekat di alam fikir. Ya, ia adalah kekuatan yang semakin menguat dan mengikat jiwa untuk terus bergerak bersama waktu yang semakin membawa pada gerbang perpisahan. Jiwa, di tengah-tengah kesendiriannya, ia tak boleh lemah. Pena telah menulis takdirnya di Lauh sana.
Lima tahun sudah, kaki ini berjalan menapaki satu per satu tangga kehidupan di bawah atmosfer yang berbeda. Lelah yang senantiasa menjadi teman, hiruk pikuk problema hidup yang tak kenal jeda, kini telah mampu dimaknai sebagai hiasan yang kadang dirindu hadir. Lima tahun sudah, kaki ini melangkah mengejar cita-cita yang tak pernah bosan aku memimpikannya.
Kini, di episode baru kehidupan yang semakin ramai perpaduan warnanya, pun menggugat diri ini untuk terus berhajat menuntaskan satu demi satu mimpi yang telah terlalu lama mengendap. Rumit memang, karena mereka adalah rangkaian cerita di masa yang akan datang. Mereka memang sangat rahasia. Oleh karenanya, hanya kekuatan optimis yang mampu mendobrak pintu rahasia itu menjadi keniscayaan.
Di lima tahun ini, kematangan jiwa yang semakin, tak boleh ia dipatahkan oleh kegagalan yang mungkin akan kembali menyapa. Tidak bermaksud pesimis, namun kegagalan pun adalah cerita yang tak jarang lekat mewarnai kanvas kehidupan manusia. Dengan kematangan jiwa yang ada, setidaknya kanvas itu menyiratkan warna yang lebih bersemangat, tidak lagi buram.
Di akhir tahun kelima ini, di senja ini adalah titik baru peta masa depan itu digambar. Bergerak di atas keterbatasan yang ada, ku pahat sejarah di sini, ku rangkai cerita dan ku torehkan warna indah di atas kanvas kehidupan. Dan esok adalah keniscayaan yang tak akan sia-sia. Insya Allah.
Teguhlah Sekali Lagi
Hidup adalah belajar. Belajar ikhlas meski terbebani, belajar mengasihi meski tersakiti, belajar memahami meski tak sehati, belajar mengalah dari suatu keegoisan, dan belajar sabar dari sebuah kemarahan.
Senja ini, skenario lama kembali terulang. Sekali lagi, begitu indah di akhirnya. Tenang, damai, meski sesaat sebelumnya bening lara telah kembali terurai. Setiap detik dalam hidup ini adalah pembelajaran. Duka yang menyapa, senyum yang tersimpulkan, tawa yang menghangatkan, semua itu adalah pembelajaran bagi manusia dari Tuhan. Pembelajaran mahal lagi sulit, namun kebanyakan manusia tak memahaminya, serta menjadikannya sebagai sebatas kisah yang datang dan pergi.
Senja ini, ia mengatakan padaku, “Teguhlah engkau sekali lagi wahai kawan. Teguh untuk yang kesekian kali, terus, dan teruslah teguh. Keteguhan itulah jalan kesabaranmu. Dan kesabaran itulah kekuatanmu.” Meski ternyata senja ini ia kembali temaram, namun ia menyemangatiku agar cahaya kekuatanku tak turut temaram. Tentu itu tak mudah. Dan karenanya,aku harus belajar.
Senja ini, Dia mengajarkanku bagaimana bertahan di atas kelemahan dan keterbatasan. Bagaimana kesulitan harus kupecahkan, serta bagaimana ku harus berdiri di atas guncangnya tapak eksistensi yang selama ini terjaga. Sekali lagi tak mudah. Pelajaran yang Dia berikanpun, tak mudah ku fahami. Soal yang ku hadapi, tak mudah kujawab. Lelah tentunya fikiran ini. Namun sekali lagi, aku harus belajar.
Senja ini, aku merasa kerdil di atas ketetapan Nya. Hanya kepasrahan yang mampu menguatkanku di hadapan Nya dan di jagat eksistensi ini. Seperti apapun wajah senja kali ini, pembelajaran tetap menjadi keharusan untuk disimpulkan maknanya. Ya, kesimpulan tentang sebuah jawaban yang mungkin pahit atau manis untuk dijalankan.
Senja ini, setidaknya memaksaku untuk menjadi manusia yang lebih baik, lebih bijak, lebih teguh, dan segala kelebihan lain yang belum mampu kumiliki sebagai karakter diri. Bersikap selayaknya manusia pembelajar yang pantang menyerah meski ia salah. Dan tentu, dalam setiap kesalahan yang tak ayal mungkin terulang, ada pendewasaan yang harus dimunculkan demi perbaikan diri.
Senja ini, sebuah tekad harus kembali diperbaharui. Tekad untuk berlepas dari segala keterbatasan dan kelemahan yang melelahkan. Mungkin akan berat di awal. Tapi ia harus. Setidaknya, nanti ketika satu pintu telah terbuka akan ada pintu-pintu lain yang terbuka. Saat ini, tekadku harus selalu ku jaga, agar segera ku dapatkan kunci untuk membuka pintu-pintu. Dibutuhkan kesabaran yang tak kecil, dan untuk itu, aku harus belajar.
Senja ini, meski aku kembali kalah dan roboh, namun ia menyisakan kekuatan untuk bangkit mendobrak segala kelemahan. Detik ini, sebuah pembelajaran mahal yang tidak boleh dilupakan adalah belajarlah menghargai sebuah pengorbanan dan menjaga sebuah kepercayaan yang sejatinya keduanya adalah tali pengikat yang tak akan lapuk oleh habisnya usia.
Senja ini, aku tertunduk lemah. Di tengah ketidakberdayaan, aku berpasrah kepada Rabb Penggenggam Jiwa. Berserah segala urusan hidup dan mati. Di bawah pengawasan Nya yang tak mungkin lengah, keyakinan pada sebuah janji yang tak mungkin teringkari pun semakin menguat. Dan senja ini, adalah senja terindah yang mengajarkanku arti hidup yang lebih bermakna, tentang sebuah perjuangan yang tak boleh dihentikan, dan pengorbanan yang tak boleh diremehkan.
Senja ini, aku menjadi manusia baru.[]
Senja ini, skenario lama kembali terulang. Sekali lagi, begitu indah di akhirnya. Tenang, damai, meski sesaat sebelumnya bening lara telah kembali terurai. Setiap detik dalam hidup ini adalah pembelajaran. Duka yang menyapa, senyum yang tersimpulkan, tawa yang menghangatkan, semua itu adalah pembelajaran bagi manusia dari Tuhan. Pembelajaran mahal lagi sulit, namun kebanyakan manusia tak memahaminya, serta menjadikannya sebagai sebatas kisah yang datang dan pergi.
Senja ini, ia mengatakan padaku, “Teguhlah engkau sekali lagi wahai kawan. Teguh untuk yang kesekian kali, terus, dan teruslah teguh. Keteguhan itulah jalan kesabaranmu. Dan kesabaran itulah kekuatanmu.” Meski ternyata senja ini ia kembali temaram, namun ia menyemangatiku agar cahaya kekuatanku tak turut temaram. Tentu itu tak mudah. Dan karenanya,aku harus belajar.
Senja ini, Dia mengajarkanku bagaimana bertahan di atas kelemahan dan keterbatasan. Bagaimana kesulitan harus kupecahkan, serta bagaimana ku harus berdiri di atas guncangnya tapak eksistensi yang selama ini terjaga. Sekali lagi tak mudah. Pelajaran yang Dia berikanpun, tak mudah ku fahami. Soal yang ku hadapi, tak mudah kujawab. Lelah tentunya fikiran ini. Namun sekali lagi, aku harus belajar.
Senja ini, aku merasa kerdil di atas ketetapan Nya. Hanya kepasrahan yang mampu menguatkanku di hadapan Nya dan di jagat eksistensi ini. Seperti apapun wajah senja kali ini, pembelajaran tetap menjadi keharusan untuk disimpulkan maknanya. Ya, kesimpulan tentang sebuah jawaban yang mungkin pahit atau manis untuk dijalankan.
Senja ini, setidaknya memaksaku untuk menjadi manusia yang lebih baik, lebih bijak, lebih teguh, dan segala kelebihan lain yang belum mampu kumiliki sebagai karakter diri. Bersikap selayaknya manusia pembelajar yang pantang menyerah meski ia salah. Dan tentu, dalam setiap kesalahan yang tak ayal mungkin terulang, ada pendewasaan yang harus dimunculkan demi perbaikan diri.
Senja ini, sebuah tekad harus kembali diperbaharui. Tekad untuk berlepas dari segala keterbatasan dan kelemahan yang melelahkan. Mungkin akan berat di awal. Tapi ia harus. Setidaknya, nanti ketika satu pintu telah terbuka akan ada pintu-pintu lain yang terbuka. Saat ini, tekadku harus selalu ku jaga, agar segera ku dapatkan kunci untuk membuka pintu-pintu. Dibutuhkan kesabaran yang tak kecil, dan untuk itu, aku harus belajar.
Senja ini, meski aku kembali kalah dan roboh, namun ia menyisakan kekuatan untuk bangkit mendobrak segala kelemahan. Detik ini, sebuah pembelajaran mahal yang tidak boleh dilupakan adalah belajarlah menghargai sebuah pengorbanan dan menjaga sebuah kepercayaan yang sejatinya keduanya adalah tali pengikat yang tak akan lapuk oleh habisnya usia.
Senja ini, aku tertunduk lemah. Di tengah ketidakberdayaan, aku berpasrah kepada Rabb Penggenggam Jiwa. Berserah segala urusan hidup dan mati. Di bawah pengawasan Nya yang tak mungkin lengah, keyakinan pada sebuah janji yang tak mungkin teringkari pun semakin menguat. Dan senja ini, adalah senja terindah yang mengajarkanku arti hidup yang lebih bermakna, tentang sebuah perjuangan yang tak boleh dihentikan, dan pengorbanan yang tak boleh diremehkan.
Senja ini, aku menjadi manusia baru.[]
Selasa, 30 November 2010
Ayah, Antarkan Aku Menuju Gerbang Itu ...!
Gerbang pertama
Refleksi Cinta Untuk Peradaban
Deklarasi cinta pertama yang menggetarkan. Tatkala mitsqon gholidzon itu disaksikan oleh seluruh makhluq di langit dan di bumi. Ia pun adalah gerbang pertama memasuki dimensi waktu yang di dalamnya berbagai skenario dijalankan. Awal gerbang itu dibuka, segala keindahan menjadi hiasan mata. Jiwa melambung tinggi dan raga tertunduk khusyu’ mensyukuri setitik nikmat penghuni syurga yang diturunkan ke bumi. Sebuah anugerah fitriah yang membuktikan betapa Penguasa Alam ini begitu Maha Pengasih dengan kehendak Nya yang menghimpun hati-hati yang sebelumnya terserak. Dan darinya ditiupkankanlah cinta Nya yang menjelma sebagai kekuatan yang semakin mengikat kedua hati.
Itulah kekuatan cinta yang menjadi narasi kehidupan menuju gerbang selanjutnya. Seperti apa narasi itu disusun, tergantung pada tema besar yang disepakati di awal. Menjadi fatal, manakala tema besar itu tak terfikirkan, apalagi tak terancang. Atau manakala ia hanya disikapi sama dengan penyikapan kebanyakan manusia. Padahal dari sanalah awal bencana atau kebahagiaan bermula.
Ya, dimensi waktu yang membawa cinta dalam sebuah institusi bernama keluarga, tak sedikit hanya difikirkan sebagai kebutuhan individu yang nyaris kering dari penamaan tema besar. Akhirnya, kita saksikan bersama, institusi itu banyak melahirkan generasi-generasi lemah dan melemahkan. Rusak dan merusak. Sebuah refleksi yang agaknya perlu dihadirkan dalam ruang kontemplasi akan sebuah pesan sakral :
“Hai manusia bertaqwalah kepada Rabb yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan darinya Allah menciptakan istrimu. Dari keduanya Allah mengembangbiakan laki-laki dan wanita yang banyak. Bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. “( Q.S. An Nisaa’ : 1)
Sangat jelas, pesan yang mengisyaratkan bahwa dasar kehidupan manusia adalah keluarga. Sang Khaliq menghendaki agar “tanaman” di muka bumi ini dimulai dengan sebuah keluarga. Terbentuknya sebuah keluarga yang terdiri dari suami-istri, “dari keduanya Allah memperkembangbiakan laki-laki dan wanita yang banyak.” Allah swt berkehendak terhadap sesuatu yang diketahuiNya dan terhadap suatu hikmah yang dimaksudkan Nya, yaitu hendak mengembangkan jalinan kerahiman. Dimulailah hal itu dengan koneksi rubbubiyah yang merupakan pangkal dan awal segala koneksi dan berikutnya adalah koneksi rahim (kekeluargaan). Maka terwujudlah keluarga pertama yang terdiri dari seorang laki-laki dan wanita, yang keduanya dari diri yang satu dengan tabiat dan fitrah yang satu. Dan di atas ini semua, dengan landasan aqidah, berdirilah tatanan masyarakat. Maka, Islam pun mengatur agar ikatan kekeluargaan ini tetap terpelihara, kokoh, mantap dan terlindungi dari segala yang melemahkan.
Selanjutnya, inilah yang menjadi misi bersama yang tidak mungkin termandatkan hanya pada salah satu manager institusi. Peran managerial menjaga dan melindungi aset yang juga adalah amanah, haruslah menjadi pemikiran bersama dalam merancang peta kemana dan bagaimana amanah itu dihantarkan pada hakikat awal pemberiannya. Singkatnya, meskipun dalam aplikasinya ada semacam job division, tetapi peran yang satu ini tetaplah menjadi peran koalisi yang saling mengisi. Sinergisasi peran yang tidak terkotak pada salah satu definitif peran yang ternyata membuka ruang permasalahan yang semakin lebar dikemudian hari. Paradigma berfikir yang berkembang pun perlu diluruskan, guna tidak menjadi racun yang mematikan pelan-pelan karakter yang seharusnya ditanam sejak awal.
Perumusan paradigma inilah yang menjadi kunci pertama yang harus dirancang agar pintu menuju ruang yang bernama kerja sama dapat ditata dengan apik dan rapih. Oleh karenanya dibutuhkan kelapangan hati, kearifan berfikir dan kesamaan cita-cita dalam merumuskannya. Tema besar seperti apa yang akan di “pajang” di atas gerbang institusi itu dan langkah-langkah seperti apa yang akan diwujudkan dalam mengejawantahkannya.
Ya, secara jelasnya, institusi yang bernama keluarga itu, adalah tempat pertama disemainya benih peradaban yang bernama anak. Kenaifan berfikir yang tidak sedikit kemudian membuahkan fatalisme dalam perjalanannya. Sebagai contoh real dalam masyarakat, ketika peran ini didefinitifkan pada satu pihak (ibu, sebagai pemegang peran domestik), tidak sedikit anak-anak yang mengalami disorder in development. Meskipun ibu memiliki berjuta cara untuk memegang kendali pendidikan anaknya, namun tetap saja, ada semacam kekuatan yang harus diberikan dari sentuhan tangan ayah, dari kecupan ayah, dari kebersamaan dengannya yang mampu menumbuhkan kekuatan emosional yang baik pada diri anak.
Banyak kita jumpai dalam kehidupan kini, seorang ayah merasa telah bertanggung jawab terhadap keluarganya dengan pergi pagi pulang petang mencari nafkah. Sesampainya di rumah, apa yang terjadi di rumah terkait dengan urusan PR anak, bercanda bersama mereka atau moment desperate istrinya, termaklumkan karena lelah yang tersisa. Seakan ada pemaafan yang tersirat manakala ayah “mengundurkan” diri dari tugas parenting dan keberadaannya sebagai qowam. Walhasil, hubungan yang terwujud di antara keduanya, persis hubungan antara seorang majikan dan bawahannya. Atau, ayah adalah sebagai ayah yang harus dihormati, tak boleh diganggu yang akhirnya ada keseganan bagi anak untuk sekedar menyapa ayahnya. Yang paling fatal adalah anak yang tak merasa memiliki ayah, meskipun secara fisik ia ada.
Secara psikologi, anak membutuhkan peran ayah. Baik fisiknya, pemikirannya, perhatiannya dan juga nasihatnya. Karena ada sesuatu pada diri ayah yang tidak dimiliki oleh ibu. Ada sebuah nasihat dari sahabat Ali bin Abi Thalib terkait dengan pendidikan anak, beliau berkata,” Pada usia tujuh tahun pertama posisikan anakmu selayaknya seorang raja. Pada tujuh tahun kedua, posisikan anakmu dengan mendidiknya sebagaimana seorang tentara, dan pada tujuh tahun ketiga didiklah anakmu dengan menjadikanmu sebagai teman baginya.”
Pada fase perkembangannya, anak membutuhkan peran pendukung sekaligus pembentuk dirinya dari luar, yakni ayah dan ibunya. Ketika hal itu tidak didapatkan anak dari keduanya, maka secara psikologi untuk memenuhi kebutuhan itu, anak akan mencarinya di dunia luar. Inilah yang kemudian menjadi awal bencana atau bisa jadi kebaikan bagi anak sendiri dan juga bagi keluarga. Banyak anak yang perkembangannya dipenuhi dengan nilai-nilai negatif, karena mereka mencari kebutuhan itu pada tempat dan orang yang tidak tepat. Namun tak sedikit pula mereka yang mendapatkan kebaikan dalam pencarian jati dirinya, karena mereka mendapatkan pada tempat dan dari orang yang benar pula.
Kondisi ini mungkin bagi sebagian orang adalah biasa. Disorder in children development hanya disikapi sebagai akibat negatif lingkungan dan media. Tanpa ada usaha dari para orang tua, setidaknya, instrospeksi akan tanggung jawabnya mendampingi mereka. Terjadi kemudian dalam keluarga, sikap saling menyalahkan antara ibu dan ayah. Ayah menyalahkan ibu yang dianggap tidak telaten ngurusi anak, atau ibu yang menggugat ayah yang terlalu sibuk dengan dunia kerja.
Sejatinya, kedua manager institusi keluarga mesti menyadari dan merasakan bahwa mereka memikul amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Oleh karenanya keduanya senantiasa memerlukan keseimbangan yang sehat dalam kepemimpinan ini. Keseimbangan yang sehat ini akan mampu terwujud manakala pengaturan tentang hal ihwal kerumah tanggaan, termasuk di dalamnya adalah pendidikan anak, dijalankan dalam suasana penuh kerja sama, tanggung jawab dan syuro, dalam pengertian sesuai dengan ketentuan Islam.
Kembali penulis disini mengajak untuk merefleksi tujuan awal institusi itu dibangun. Bijaknya, tidak sekedar bermodal semangat, atau kesiapan materi, namun jauh lebih penting dari itu adalah konsep penyiapan benih peradaban itu sendiri, yang tidak bisa dipungkiri adalah salah satu tujuan dari pembangunan institusi yang bernama keluarga. Satu hal lagi yang perlu menjadi perenungan adalah hakikat amanah besar dalam membangun dan menyiapkan peradaban itu. Begitu Maha Agungnya Allah dengan segala ketentuan-ketentuan yang telah disampaikan-Nya melalui ayat-ayat penggugah yang selalu kita baca sebagai petunjuk jalan keselamatan, kebahagiaan dan petunjuk jalan menuju kegemilangan generasi Islam sesudah kita. []
to be continued ...
Refleksi Cinta Untuk Peradaban
Deklarasi cinta pertama yang menggetarkan. Tatkala mitsqon gholidzon itu disaksikan oleh seluruh makhluq di langit dan di bumi. Ia pun adalah gerbang pertama memasuki dimensi waktu yang di dalamnya berbagai skenario dijalankan. Awal gerbang itu dibuka, segala keindahan menjadi hiasan mata. Jiwa melambung tinggi dan raga tertunduk khusyu’ mensyukuri setitik nikmat penghuni syurga yang diturunkan ke bumi. Sebuah anugerah fitriah yang membuktikan betapa Penguasa Alam ini begitu Maha Pengasih dengan kehendak Nya yang menghimpun hati-hati yang sebelumnya terserak. Dan darinya ditiupkankanlah cinta Nya yang menjelma sebagai kekuatan yang semakin mengikat kedua hati.
Itulah kekuatan cinta yang menjadi narasi kehidupan menuju gerbang selanjutnya. Seperti apa narasi itu disusun, tergantung pada tema besar yang disepakati di awal. Menjadi fatal, manakala tema besar itu tak terfikirkan, apalagi tak terancang. Atau manakala ia hanya disikapi sama dengan penyikapan kebanyakan manusia. Padahal dari sanalah awal bencana atau kebahagiaan bermula.
Ya, dimensi waktu yang membawa cinta dalam sebuah institusi bernama keluarga, tak sedikit hanya difikirkan sebagai kebutuhan individu yang nyaris kering dari penamaan tema besar. Akhirnya, kita saksikan bersama, institusi itu banyak melahirkan generasi-generasi lemah dan melemahkan. Rusak dan merusak. Sebuah refleksi yang agaknya perlu dihadirkan dalam ruang kontemplasi akan sebuah pesan sakral :
“Hai manusia bertaqwalah kepada Rabb yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan darinya Allah menciptakan istrimu. Dari keduanya Allah mengembangbiakan laki-laki dan wanita yang banyak. Bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. “( Q.S. An Nisaa’ : 1)
Sangat jelas, pesan yang mengisyaratkan bahwa dasar kehidupan manusia adalah keluarga. Sang Khaliq menghendaki agar “tanaman” di muka bumi ini dimulai dengan sebuah keluarga. Terbentuknya sebuah keluarga yang terdiri dari suami-istri, “dari keduanya Allah memperkembangbiakan laki-laki dan wanita yang banyak.” Allah swt berkehendak terhadap sesuatu yang diketahuiNya dan terhadap suatu hikmah yang dimaksudkan Nya, yaitu hendak mengembangkan jalinan kerahiman. Dimulailah hal itu dengan koneksi rubbubiyah yang merupakan pangkal dan awal segala koneksi dan berikutnya adalah koneksi rahim (kekeluargaan). Maka terwujudlah keluarga pertama yang terdiri dari seorang laki-laki dan wanita, yang keduanya dari diri yang satu dengan tabiat dan fitrah yang satu. Dan di atas ini semua, dengan landasan aqidah, berdirilah tatanan masyarakat. Maka, Islam pun mengatur agar ikatan kekeluargaan ini tetap terpelihara, kokoh, mantap dan terlindungi dari segala yang melemahkan.
Selanjutnya, inilah yang menjadi misi bersama yang tidak mungkin termandatkan hanya pada salah satu manager institusi. Peran managerial menjaga dan melindungi aset yang juga adalah amanah, haruslah menjadi pemikiran bersama dalam merancang peta kemana dan bagaimana amanah itu dihantarkan pada hakikat awal pemberiannya. Singkatnya, meskipun dalam aplikasinya ada semacam job division, tetapi peran yang satu ini tetaplah menjadi peran koalisi yang saling mengisi. Sinergisasi peran yang tidak terkotak pada salah satu definitif peran yang ternyata membuka ruang permasalahan yang semakin lebar dikemudian hari. Paradigma berfikir yang berkembang pun perlu diluruskan, guna tidak menjadi racun yang mematikan pelan-pelan karakter yang seharusnya ditanam sejak awal.
Perumusan paradigma inilah yang menjadi kunci pertama yang harus dirancang agar pintu menuju ruang yang bernama kerja sama dapat ditata dengan apik dan rapih. Oleh karenanya dibutuhkan kelapangan hati, kearifan berfikir dan kesamaan cita-cita dalam merumuskannya. Tema besar seperti apa yang akan di “pajang” di atas gerbang institusi itu dan langkah-langkah seperti apa yang akan diwujudkan dalam mengejawantahkannya.
Ya, secara jelasnya, institusi yang bernama keluarga itu, adalah tempat pertama disemainya benih peradaban yang bernama anak. Kenaifan berfikir yang tidak sedikit kemudian membuahkan fatalisme dalam perjalanannya. Sebagai contoh real dalam masyarakat, ketika peran ini didefinitifkan pada satu pihak (ibu, sebagai pemegang peran domestik), tidak sedikit anak-anak yang mengalami disorder in development. Meskipun ibu memiliki berjuta cara untuk memegang kendali pendidikan anaknya, namun tetap saja, ada semacam kekuatan yang harus diberikan dari sentuhan tangan ayah, dari kecupan ayah, dari kebersamaan dengannya yang mampu menumbuhkan kekuatan emosional yang baik pada diri anak.
Banyak kita jumpai dalam kehidupan kini, seorang ayah merasa telah bertanggung jawab terhadap keluarganya dengan pergi pagi pulang petang mencari nafkah. Sesampainya di rumah, apa yang terjadi di rumah terkait dengan urusan PR anak, bercanda bersama mereka atau moment desperate istrinya, termaklumkan karena lelah yang tersisa. Seakan ada pemaafan yang tersirat manakala ayah “mengundurkan” diri dari tugas parenting dan keberadaannya sebagai qowam. Walhasil, hubungan yang terwujud di antara keduanya, persis hubungan antara seorang majikan dan bawahannya. Atau, ayah adalah sebagai ayah yang harus dihormati, tak boleh diganggu yang akhirnya ada keseganan bagi anak untuk sekedar menyapa ayahnya. Yang paling fatal adalah anak yang tak merasa memiliki ayah, meskipun secara fisik ia ada.
Secara psikologi, anak membutuhkan peran ayah. Baik fisiknya, pemikirannya, perhatiannya dan juga nasihatnya. Karena ada sesuatu pada diri ayah yang tidak dimiliki oleh ibu. Ada sebuah nasihat dari sahabat Ali bin Abi Thalib terkait dengan pendidikan anak, beliau berkata,” Pada usia tujuh tahun pertama posisikan anakmu selayaknya seorang raja. Pada tujuh tahun kedua, posisikan anakmu dengan mendidiknya sebagaimana seorang tentara, dan pada tujuh tahun ketiga didiklah anakmu dengan menjadikanmu sebagai teman baginya.”
Pada fase perkembangannya, anak membutuhkan peran pendukung sekaligus pembentuk dirinya dari luar, yakni ayah dan ibunya. Ketika hal itu tidak didapatkan anak dari keduanya, maka secara psikologi untuk memenuhi kebutuhan itu, anak akan mencarinya di dunia luar. Inilah yang kemudian menjadi awal bencana atau bisa jadi kebaikan bagi anak sendiri dan juga bagi keluarga. Banyak anak yang perkembangannya dipenuhi dengan nilai-nilai negatif, karena mereka mencari kebutuhan itu pada tempat dan orang yang tidak tepat. Namun tak sedikit pula mereka yang mendapatkan kebaikan dalam pencarian jati dirinya, karena mereka mendapatkan pada tempat dan dari orang yang benar pula.
Kondisi ini mungkin bagi sebagian orang adalah biasa. Disorder in children development hanya disikapi sebagai akibat negatif lingkungan dan media. Tanpa ada usaha dari para orang tua, setidaknya, instrospeksi akan tanggung jawabnya mendampingi mereka. Terjadi kemudian dalam keluarga, sikap saling menyalahkan antara ibu dan ayah. Ayah menyalahkan ibu yang dianggap tidak telaten ngurusi anak, atau ibu yang menggugat ayah yang terlalu sibuk dengan dunia kerja.
Sejatinya, kedua manager institusi keluarga mesti menyadari dan merasakan bahwa mereka memikul amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Oleh karenanya keduanya senantiasa memerlukan keseimbangan yang sehat dalam kepemimpinan ini. Keseimbangan yang sehat ini akan mampu terwujud manakala pengaturan tentang hal ihwal kerumah tanggaan, termasuk di dalamnya adalah pendidikan anak, dijalankan dalam suasana penuh kerja sama, tanggung jawab dan syuro, dalam pengertian sesuai dengan ketentuan Islam.
Kembali penulis disini mengajak untuk merefleksi tujuan awal institusi itu dibangun. Bijaknya, tidak sekedar bermodal semangat, atau kesiapan materi, namun jauh lebih penting dari itu adalah konsep penyiapan benih peradaban itu sendiri, yang tidak bisa dipungkiri adalah salah satu tujuan dari pembangunan institusi yang bernama keluarga. Satu hal lagi yang perlu menjadi perenungan adalah hakikat amanah besar dalam membangun dan menyiapkan peradaban itu. Begitu Maha Agungnya Allah dengan segala ketentuan-ketentuan yang telah disampaikan-Nya melalui ayat-ayat penggugah yang selalu kita baca sebagai petunjuk jalan keselamatan, kebahagiaan dan petunjuk jalan menuju kegemilangan generasi Islam sesudah kita. []
to be continued ...
Selasa, 19 Oktober 2010
Epilog Seorang Ibu dan Dua Orang Anaknya
Semburat mega menyingsing mengusir sinar senja di permulaan malam. Sinar keemasannya perlahan pamit ke peraduan. Tersisa kini lampu-lampu sorot dari kendaraan yang berlalu lalang, mengencangkan gas menuju tempat orang-orang tercinta menanti. Membawa kebungkus martabak atau setumpuk rupiah untuk bekal belanja anak dan istri. Senyum bahagia bercampur lelah menjadi tenaga sisa di akhir senja itu.
Rentetan suara klakson bersautan mengalahkan suara adzan maghrib yang memanggil. Berdesak, meminta paksa setiap kendaraan untuk menyingkir dari hadapannya. Di perempatan lampu merah, tak pelak lagi pemandangan lama yang masih menghiasi wajah senja. Wajah-wajah yang berseri tatkala banyak dijumpai mobil mewah ngantri dibawah lampu merah. Mengharap lemparan receh dari kaca mobil atau setidaknya sebatang rokok untuk membungkam demonstrasi di perut sedari pagi.
Seorang wanita muda, dengan buntelan kecil di pundaknya, tersenyum layu, berlari mengejar harapan di bawah lampu merah. Matanya mengernyit, menahan silau lampu kendaraan. Tangannya tak lelah menadah dari mobil ke mobil, dari motor ke motor. Untunglah ia tak menghampiriku. Terlalu perih menyuguhkan receh yang tak seberapa. Dan terlalu bodoh jika selalu memberikan harapan itu padanya. Itu sama sekali tak akan pernah menolongnya.
Sejenak, kuperhatikan hitungan detik yang menandakan lampu hijau sebentar lagi mempersilahkanku tancap gas. Dengan cepat dua bocah kecil berlalu di hadapanku. Mereka berjalan dengan penuh canda. Bibir mereka menyanyikan pelan lagu-lagu yang biasa mereka dengar di pinggir jalan atau dari supir angkot yang biasa mangkal menemani mereka melepas lelah di pinggiran terminal kota itu. Nampaknya mereka kakak dan adik. Buntelan kecil pun nemplok di pundak kecil si kakak. Sedangkan si adik, berjingkrak, menenteng kresek hitam.
Mereka berdiam di trotoar. Memandangi kami yang juga memandangi mereka. Dua bocah itu menunggu wanita yang tengah berada di tengah-tengah arus mobil dan motor. Wajah mereka begitu polos. Berkas-berkas debu menghiasi wajah-wajah tirus yang dimake-up senyum getir. Sesak dada ini menatap mereka tanpa harapan. Sebuah cerita lalu yang kembali terulang, mengumandang bersama syahdunya panggilan Tuhan.
Wanita itu, ibu dari dua bocah malang itu. Mereka mencari harapan di bawah panasnya matahari, derasnya hujan mengguyur, dan di tengah dinginnya malam. Jalanan menjadi rumah mereka, trotoar menjadi alas tidur yang paling murah dan mudah disinggahi. Entah, apa yang ada dalam benak mereka tentang kehidupan. Sesuap nasi yang mendarat dimulut mereka adalah yang terutama. Mereka bertiga, menepi di trotoar, bercengkrama layaknya keluarga bahagia. Bersama-sama membongkar buntelan, menyantap sisa makanan yang ada. Buntelan plastik kecil tak luput untuk dibuka. Ya, kepingan rupiah menyegarkan wajah mereka yang kusam. Satu per satu rupiah dihitung. Beberapa tumpukan receh yang menjulang menjadi semangat tersendiri bagi dua bocah dan wanita itu. Pada tumpukan receh itulah harapan di sandarkan. Tragis.
Perlahan wanita itu memandangi lekat-lekat dua wajah anaknya. Ia elus kepala di adik dengan penuh haru. Tak ada kata yang meluncur dari bibir keringnya. Hanya senyum dan setitik bening lara yang menyapa. Anak itu pun dengan polos berkata, “ Mak, kalo setiap hari kita dapat uang sebanyak ini, nanti kita bisa sekolah nda ?” Sambil menelan ludah, wanita itu pun berkata,” Kamu masih ingin sekolah ? Jika saja uang receh ini bisa untuk membayar biaya sekolah, tentu akan emak sekolahkan kalian. Tapi siapa yang mau menerima receh-receh lusuh dari kita? Masa depanmu bukan emak yang menentukan, tapi receh ini. Emak tidak bisa berbuat banyak di tengah jaman yang galak seperti ini. “
Bocah itu pun menatap kosong wajah emaknya. Tak ada kata-kata yang terucap untuk membalas kata-kata emaknya, layaknya seorang bocah yang selalu bertanya ingin tahu. Si kakak pun hanya diam, sibuk oleh receh yang terus disusunnya. Lalu si kakak pun bersorak,” Horeee, kita dapat 50rb. Emak, jangan dihabiskan semua ya uangnya, kita tabung. Nanti besok-besok kita nyari lebih banyak lagi ya….”. Emaknya hanya menatap sayu anak sulungnya itu.
Malam semakin bergulir. Saatnya mereka kembali ke rumah yang entah ada dimana. Sekali-kali, mereka mampir membeli nasi bungkus di pinggir jalan untuk membungkam si pendemo yang belum letih juga berteriak. Bertiga mereka susuri jalanan yang semakin ramai oleh bis-bis malam, sorot lampu kendaraan yang semakin menyilaukan, dan calo-calo yang kembali lantang berteriak-teriak memanggil calon penumpang. Si Emak berjalan di depan, dan dua bocah itu mengikutinya dari belakang. “ Mak, malam ini kita mau tidur dimana?” lagi-lagi si adik bertanya. “ Dimana aja asal nda kehujanan.” Si Emak hanya menjawab datar. Malam itu pun menjadi malam pelepas lelah untuk mereka bertiga. Tak peduli besok apa yang akan mereka temui untuk kembali mengganjal perut kelaparan mereka. Malam ini adalah malam ini. Esok adalah cerita tersendiri yang akan bergulir seiring dengan kaki melangkah dan tangan yang menengadah.[]
Rentetan suara klakson bersautan mengalahkan suara adzan maghrib yang memanggil. Berdesak, meminta paksa setiap kendaraan untuk menyingkir dari hadapannya. Di perempatan lampu merah, tak pelak lagi pemandangan lama yang masih menghiasi wajah senja. Wajah-wajah yang berseri tatkala banyak dijumpai mobil mewah ngantri dibawah lampu merah. Mengharap lemparan receh dari kaca mobil atau setidaknya sebatang rokok untuk membungkam demonstrasi di perut sedari pagi.
Seorang wanita muda, dengan buntelan kecil di pundaknya, tersenyum layu, berlari mengejar harapan di bawah lampu merah. Matanya mengernyit, menahan silau lampu kendaraan. Tangannya tak lelah menadah dari mobil ke mobil, dari motor ke motor. Untunglah ia tak menghampiriku. Terlalu perih menyuguhkan receh yang tak seberapa. Dan terlalu bodoh jika selalu memberikan harapan itu padanya. Itu sama sekali tak akan pernah menolongnya.
Sejenak, kuperhatikan hitungan detik yang menandakan lampu hijau sebentar lagi mempersilahkanku tancap gas. Dengan cepat dua bocah kecil berlalu di hadapanku. Mereka berjalan dengan penuh canda. Bibir mereka menyanyikan pelan lagu-lagu yang biasa mereka dengar di pinggir jalan atau dari supir angkot yang biasa mangkal menemani mereka melepas lelah di pinggiran terminal kota itu. Nampaknya mereka kakak dan adik. Buntelan kecil pun nemplok di pundak kecil si kakak. Sedangkan si adik, berjingkrak, menenteng kresek hitam.
Mereka berdiam di trotoar. Memandangi kami yang juga memandangi mereka. Dua bocah itu menunggu wanita yang tengah berada di tengah-tengah arus mobil dan motor. Wajah mereka begitu polos. Berkas-berkas debu menghiasi wajah-wajah tirus yang dimake-up senyum getir. Sesak dada ini menatap mereka tanpa harapan. Sebuah cerita lalu yang kembali terulang, mengumandang bersama syahdunya panggilan Tuhan.
Wanita itu, ibu dari dua bocah malang itu. Mereka mencari harapan di bawah panasnya matahari, derasnya hujan mengguyur, dan di tengah dinginnya malam. Jalanan menjadi rumah mereka, trotoar menjadi alas tidur yang paling murah dan mudah disinggahi. Entah, apa yang ada dalam benak mereka tentang kehidupan. Sesuap nasi yang mendarat dimulut mereka adalah yang terutama. Mereka bertiga, menepi di trotoar, bercengkrama layaknya keluarga bahagia. Bersama-sama membongkar buntelan, menyantap sisa makanan yang ada. Buntelan plastik kecil tak luput untuk dibuka. Ya, kepingan rupiah menyegarkan wajah mereka yang kusam. Satu per satu rupiah dihitung. Beberapa tumpukan receh yang menjulang menjadi semangat tersendiri bagi dua bocah dan wanita itu. Pada tumpukan receh itulah harapan di sandarkan. Tragis.
Perlahan wanita itu memandangi lekat-lekat dua wajah anaknya. Ia elus kepala di adik dengan penuh haru. Tak ada kata yang meluncur dari bibir keringnya. Hanya senyum dan setitik bening lara yang menyapa. Anak itu pun dengan polos berkata, “ Mak, kalo setiap hari kita dapat uang sebanyak ini, nanti kita bisa sekolah nda ?” Sambil menelan ludah, wanita itu pun berkata,” Kamu masih ingin sekolah ? Jika saja uang receh ini bisa untuk membayar biaya sekolah, tentu akan emak sekolahkan kalian. Tapi siapa yang mau menerima receh-receh lusuh dari kita? Masa depanmu bukan emak yang menentukan, tapi receh ini. Emak tidak bisa berbuat banyak di tengah jaman yang galak seperti ini. “
Bocah itu pun menatap kosong wajah emaknya. Tak ada kata-kata yang terucap untuk membalas kata-kata emaknya, layaknya seorang bocah yang selalu bertanya ingin tahu. Si kakak pun hanya diam, sibuk oleh receh yang terus disusunnya. Lalu si kakak pun bersorak,” Horeee, kita dapat 50rb. Emak, jangan dihabiskan semua ya uangnya, kita tabung. Nanti besok-besok kita nyari lebih banyak lagi ya….”. Emaknya hanya menatap sayu anak sulungnya itu.
Malam semakin bergulir. Saatnya mereka kembali ke rumah yang entah ada dimana. Sekali-kali, mereka mampir membeli nasi bungkus di pinggir jalan untuk membungkam si pendemo yang belum letih juga berteriak. Bertiga mereka susuri jalanan yang semakin ramai oleh bis-bis malam, sorot lampu kendaraan yang semakin menyilaukan, dan calo-calo yang kembali lantang berteriak-teriak memanggil calon penumpang. Si Emak berjalan di depan, dan dua bocah itu mengikutinya dari belakang. “ Mak, malam ini kita mau tidur dimana?” lagi-lagi si adik bertanya. “ Dimana aja asal nda kehujanan.” Si Emak hanya menjawab datar. Malam itu pun menjadi malam pelepas lelah untuk mereka bertiga. Tak peduli besok apa yang akan mereka temui untuk kembali mengganjal perut kelaparan mereka. Malam ini adalah malam ini. Esok adalah cerita tersendiri yang akan bergulir seiring dengan kaki melangkah dan tangan yang menengadah.[]
Senja Temaram
Bismillah. Amsaina wa amsal mulku lillah walhamdulillahi laa syariikalahu. Senja ini, ruang kontemplasi kembali menyeruak dalam aliran waktu yang tersisa. Ia hadirkan wajah temaram yang menyuguhkan suasana haru, hening, dan sepi. Persis seperti kesendirian jiwa yang tiada pernah ku faham maknanya. Ia begitu agresif merangsek mengobrak-abrik tatanan jiwa yang tadinya begitu nyaman menemaniku. Tapi mungkin itulah tabiat aslinya, kadang memberi nyaman, kadang syahdu, kadang membosankan.
Senja ini, ingin kucoba merangkai kata menuangkan kegundahan yang tak pernah aku harapkan hadir di saat-saat seperti ini. Kekuatan itu kembali meruntuhkan pertahananku. Kali ini kekuatannya lebih besar. Ia membuka kesadaranku akan sebuah hakikat. Namun, tak mudah bagiku ternyata menerimanya sebagai sebuah keniscayaan yang mungkin ya atau juga tidak. Entahlah, ternyata masih sangat berat untukku jika memang itu menjadi mungkin.
Senja ini, tak ada cela kiranya jika hati ini menghaturkan sebuah harap akan hadirnya kekuatan yang selalu berkelebat di pelupuk mataku. Aku tak tahu apa itu. Dan aku pun tak yakin ia mampu menguatkan pertahananku. Sungguh tak ingin aku mengulang yang kedua kalinya, membangun pertahanan di atas pondasi yang ternyata lemah pula. Tapi sebentar, aku tak bermaksud mengatakan aku butuh pondasi yang kuat untuk pertahananku. Aku hanya membutuhkan batu-bata yang kokoh dan kompak menyusun satu pertahanan yang mampu menguatkan diri saat ini, esok dan selamanya.
Senja ini, aku benar-benar rapuh di atas kekuatanku. Inilah hakikat yang telah menampar kesadaranku agar aku tak lagi terlalu banyak mimpi dan mungkin agar aku tak terlalu bangga dengan keakuanku. Karena saat ini aku benar-benar membutuhkan pertemanan. Tak bisa ku ingkari temaramnya jiwa saat ini. Namun bagaimanapun aku harus tetap seperti aku. Tak mungkin aku obral akan menyebalkannya sebuah kesendirian dan kesepian yang tak mengetuk ijin untuk singgah. Jika saja aku punya kuasa mengusirnya ketika ia baru akan melangkah menujuku. Namun aku terlambat.
Senja ini, di atas kerapuhan yang baru kusadari, aku pun ingin bertekad. Aku tak ingin mewariskan temaram jiwa ini untuk waktuku esok. Cukup hari ini, saat ini. Esok adalah hariku yang harus aku semai mimpi dan citaku di sana. Tak boleh dan tak akan aku ijinkan segala yang akan merobohkan menghampiri dan mengusik. Pertahananku akan aku kuatkan dan akan semakin aku jaga agar ia tak akan lagi cacat dan kembali melemahkan. Akan aku fahami dan akan kucoba terima jika hakikat itu menjadi keniscayaan dikemudian hari yang aku yakin mungkin akan membuatku roboh. Tetapi aku pun masih punya sepucuk do’a yang akan terus aku semai sampai keniscayaan itu ku saksikan dengan senyum simpulku atau bening lara yang merembes di sela kedua mataku.
Senja ini, aku kembalikan temaram hati ini kepada yang Maha Memiliki Cahaya. Aku kembalikan kekuatannya kepada yang Maha Memiliki Kekuatan. Aku haturkan do’a senja sebagai penutup segala kegundahan, sebagai pembuka segala kebahagiaan dan kekuatan yang selalu aku jaga dan aku syukuri disetiap makna dan episodenya.
Senja temaram ini, semoga adalah senja yang tak akan lagi menemaramkan hati.
Dan esok adalah mentari kehidupan baru yang harus aku sambut dengan semangat menumbuhkan cita-cita yang tak akan pernah aku biarkan ia kembali luruh dalam ketemaraman. Bismillah.
Kota Udang, 17 Oktober 2010
Senja ini, ingin kucoba merangkai kata menuangkan kegundahan yang tak pernah aku harapkan hadir di saat-saat seperti ini. Kekuatan itu kembali meruntuhkan pertahananku. Kali ini kekuatannya lebih besar. Ia membuka kesadaranku akan sebuah hakikat. Namun, tak mudah bagiku ternyata menerimanya sebagai sebuah keniscayaan yang mungkin ya atau juga tidak. Entahlah, ternyata masih sangat berat untukku jika memang itu menjadi mungkin.
Senja ini, tak ada cela kiranya jika hati ini menghaturkan sebuah harap akan hadirnya kekuatan yang selalu berkelebat di pelupuk mataku. Aku tak tahu apa itu. Dan aku pun tak yakin ia mampu menguatkan pertahananku. Sungguh tak ingin aku mengulang yang kedua kalinya, membangun pertahanan di atas pondasi yang ternyata lemah pula. Tapi sebentar, aku tak bermaksud mengatakan aku butuh pondasi yang kuat untuk pertahananku. Aku hanya membutuhkan batu-bata yang kokoh dan kompak menyusun satu pertahanan yang mampu menguatkan diri saat ini, esok dan selamanya.
Senja ini, aku benar-benar rapuh di atas kekuatanku. Inilah hakikat yang telah menampar kesadaranku agar aku tak lagi terlalu banyak mimpi dan mungkin agar aku tak terlalu bangga dengan keakuanku. Karena saat ini aku benar-benar membutuhkan pertemanan. Tak bisa ku ingkari temaramnya jiwa saat ini. Namun bagaimanapun aku harus tetap seperti aku. Tak mungkin aku obral akan menyebalkannya sebuah kesendirian dan kesepian yang tak mengetuk ijin untuk singgah. Jika saja aku punya kuasa mengusirnya ketika ia baru akan melangkah menujuku. Namun aku terlambat.
Senja ini, di atas kerapuhan yang baru kusadari, aku pun ingin bertekad. Aku tak ingin mewariskan temaram jiwa ini untuk waktuku esok. Cukup hari ini, saat ini. Esok adalah hariku yang harus aku semai mimpi dan citaku di sana. Tak boleh dan tak akan aku ijinkan segala yang akan merobohkan menghampiri dan mengusik. Pertahananku akan aku kuatkan dan akan semakin aku jaga agar ia tak akan lagi cacat dan kembali melemahkan. Akan aku fahami dan akan kucoba terima jika hakikat itu menjadi keniscayaan dikemudian hari yang aku yakin mungkin akan membuatku roboh. Tetapi aku pun masih punya sepucuk do’a yang akan terus aku semai sampai keniscayaan itu ku saksikan dengan senyum simpulku atau bening lara yang merembes di sela kedua mataku.
Senja ini, aku kembalikan temaram hati ini kepada yang Maha Memiliki Cahaya. Aku kembalikan kekuatannya kepada yang Maha Memiliki Kekuatan. Aku haturkan do’a senja sebagai penutup segala kegundahan, sebagai pembuka segala kebahagiaan dan kekuatan yang selalu aku jaga dan aku syukuri disetiap makna dan episodenya.
Senja temaram ini, semoga adalah senja yang tak akan lagi menemaramkan hati.
Dan esok adalah mentari kehidupan baru yang harus aku sambut dengan semangat menumbuhkan cita-cita yang tak akan pernah aku biarkan ia kembali luruh dalam ketemaraman. Bismillah.
Kota Udang, 17 Oktober 2010
Minggu, 26 September 2010
Jangan Panggil Aku Arab bag.4
Sore itu, Muthi’ kembali mengumpulkan semangatnya. Ia tidak mungkin terus terpuruk oleh kesedihan. Hujan menemani dengan riuhnya yang semangat bertasbih. Jari-jarinya semakin semangat memuntahkan isi otaknya dengan memainkan tombol-tombol keyboardnya. Hujanpun berhenti seiring dengan kembalinya sang surya ke peraduannya. Dan lirih adzan maghrib mulai bersautan. Muthi’ pun segera mengakhiri pekerjaannya.
“ Ayo anak-anak … siap-siap !!!! mba Urwah mulai mengomandoi shalat Maghrib.
“ Ayo Muthi’ giliran kamu jadi imam …”
“ Yuuukkk …”
Rapih …indah… khusyu’… Surakarta baru saja diguyur hujan. Keheningan yang menyergap di waktu maghrib itu menyeruak ke dalam jiwa-jiwa yang tenang dan menenangkan. Serak suara sang imam maghrib itu semakin menambah kesyahduan. Satu per satu isak tangis kekhusyu’an pun menghanyutkan jiwa-jiwa itu pada penghambaan yang tulus.
“ Alhamdulillah…” mba Urwah berbalik ke arah anak-anak membimbing mereka berdo’a. Dan bersiap untuk makan malam.
“ Ayo anak-anak .... waktunya makan malam. nanti habis itu langsung siap-siap lagi buat baca Asma’ul husna dan shalat Isya’. Oke …!!!!
“ OOOOKEEEEE !!!!!” paduan suara yang sangat nyaring bunyinya.
“ Ayo Muth’ makan, perasaan nda lihat kamu ikut makan siang? Kenapa ? Diet ?”
“ Diet? mau jadi kaya’ apa kalo aku diet mba? ntar dikira tiang listrik berjalan. Hayu makan …”
Lucunya melihat anak-anak itu makan. Apalagi si ustadz kecil Ozan … Ah…anak itu memang jadi hiburan tersendiri di rumah singgah itu.
“ Mba Muthi’ ntar habis shalat Isya’ belajarin bahasa Inggris ya …”
“ yaa pak ustadz …PR yang waktu kemarin dah di kerjain belum ? “
“ Udah donk mba …kan Ozan anak yang rajin, betul ..betul…betul …? “
“ Huuuh …. “ Wahyu menimpali.
“ udah, yang rajin sama yang nda rajin, yang jujur sama yang bohong nanti juga ketahuan sendiri. Dan juga akan ditanggung sendiri akibatnya. jadi kalo kita pingin rajin, nda usah bandingin dengan teman-teman yang nda rajin, yang enak-enakan main. Allah sangat suka dengan anak-anak yang rajin menuntut ilmu. Mau nda disukai Allah? “
“ Mauuuuuu ….. !!!” kompak.
“ Mba Muthi ….mba Muthi …Luthfi besok naik ke Iqro’ enam lho …”
“ Oh yaaa… alhamdulillah. Yang makin rajin yaa nak. “ Muthi’ mengelus kepala bocah kecil itu.
“ Yap ….ayo makan jangan sambil bersuara. Yang udah selesai siap-siap ke tempat shalat lagi.” mba Urwah memang korlap yang disiplin.
Mba Fani dan Muthi’ membereskan ruang makan, sementara itu anak-anak bersiap ke tempat shalat di komandoi mba Urwah dan mba Indi.
“ Yaa Allah...yaa Rahman, yaa rakhiim yaa Malik …yaaa Kudus …yaa Salaam…yaa Mu’min…yaa Muhaimin ….” lantunan asma’ul husna mulai terdengar. Suara polos anak-anak itu cukup membuat merinding dan menyentak ke hati. Senandung tasbih yang indah, disambut semarak oleh lantunan adzan Isya’. Ruangan itu pun kembali dipenuhi tubuh-tubuh mungil yang berjejer rapih, ruku’ dan sujud….indah sekali. Selepas isya’ ….
“ Alhamdulillah, kita udah makan, udah shalat … sekarang waktunya apa ?” suara lembut Imas membuat suasana semakin ngantuk .
“ BELAJAR !!!!!”
“ Pinter, nah sekarang ambil buku-bukunya ya … yang ada PR dikerjakan, yang tidak ada yaa tetep belajar, ya…” Ah …Imas, logatnya membuat teman-teman yang lain harus menahan tawa karena geli dengan kelembutannya.
“ Ayo Ozan, mana buku-bukunya, “ Muthi’ langsung menagih Ozan yang mulai mengusili teman-temannya.
“ Ya mba Muthi’, Ozan ambil bentar.”
Anak-anak belajar dengan penuh semangat. Ada yang belajar sambil jungkir balik, ada yang sambil ngantuk, ada yang harus dengan permainan … wah macem-macem lah pokoknya.
Jam 21.00 anak-anak sudah nampak lelah. Masing-masing mereka pun memberesi buku-bukunya dan masuk kamar.
Muthi’,mba Indi, mba Fani dan Imas pun nampak lelah. Apa boleh buat, saatnya berlabuh ke pulau kapuk.
Malam itu, di tengah lelah yang menyerbu, Muthi’ tak mampu terpejam. Matanya menatap langit-langit kamarnya. Pandangannya kosong, ia menarik nafas panjang dan sejenak terpejam, menyeka kristal bening yang tak mampu dibendung. Pelan, dia mencoba menyebut keagungan nama Nya dalam desahan nafasnya. Aahh … Muthi’ bangkit. Ia segera mengambil air wudhu’, menenangkan jiwanya dan mengakhiri malam itu bersama ayat-ayat penggugah.
Sepertiga malam kembali menyapa. Beberapa jiwa yang merindu Tuhannya, berdiri menyapa dalam kekhusyu’an bersama do’a-do’a yang menyentuh dinding mihrab. Keheningan malam yang menyentak kesunyian jiwa, meneteskan secuil butir cinta, hingga seruan fajar menyapa.
Pagi itu, seperti biasa riuh anak-anak mampu merubah manyun menjadi senyum. Ahh, anak-anak, selalu saja ada tingkah yang unik. Jadwal padat hari itu, terpaksa petugas piket rumah singgah dikosongkan. Semua kepala terfokus pada satu tugas, OMB.
Di sekre LDK, beberapa akhwat tengah berbincang. Di balik hijab, terdengar beberapa suara ikhwan, ya salah satunya akh Ridho’. Rapat pun mulai berjalan.
“ Ya, kepada masing-masing penanggung jawab, silahkan melaporkan programnya, “ akh Ridho menjadi pemimpin rapat pagi itu.
“ Ehm …akh, sebaiknya dimulai dari program unggulan kita, biar yang lainnya belakangan, dan waktu pembahasannya lebih efisien. “ suara akh Fajar menggelegar di ruangan kecil di sudut kampus itu.
“ Ok, kalo begitu kita mulai dari program tutorial, penanggung jawabnya ….mba Muthi’ ya, udah datang belum ? “
“ Ya, udah. “ Muthi’ menjawab datar.
“ Monggo mba, dipresentasikan programnya. “
Muthi’ menarik nafas panjang, dan BISMILLAH, ia menyampaikan program yang sudah dia konsep kemarin.
“ Ya, mungkin itu yang bisa saya sampaikan, silahkan untuk koreksinya, barangkali ada yang perlu ditambahin atau dikurangi. “
Sejenak, ruangan itu hening. Hanya dahi-dahi yang berkerut dan tangan yang bertopang dagu yang menandakkan penghuni ruangan itu tengah mikir, mencari kekurangan dari program tutorial untuk dikoreksi.
“ ehm … menurut saya terlalu ideal programnya, mba. Kalo kita lihat SDM dan kondisi birokrasi kampus, rasanya kita akan sedikit kewalahan dengan mekanisme seperti itu, apalagi dengan target yang …yaa, memang progressive, tapi … menurut saya kurang realistis. Ini, pendapat saya. Maaf, bukan bermaksud mementahkan program mba Muthi’, tapi karena saya tipe orang yang lebih berfikir dan bekerja sesuai dengan realita.” akh Ridho’ mengkritik habis program Muthi’.
“ Ya, nda apa-apa, lagian ini kan bukan final programme. Tapi afwan, kalo dalam setiap merancang program kita harus berfikir realistis, lantas kapan kita akan meraih cita-cita da’wah yang selama ini digembar-gemborkan. Pelan boleh, tapi capaian tujuan dan target tetap dimaksimalkan, sehingga akan ada kerja yang maksimal juga. Bukan kerja apa adanya.” Muthi’ menimpali dengan nada agak sewot.
Semua akhwat yang hadir di ruangan itu, terkaget melihat Muthi’ yang tiba-tiba sensitif. Rapat pun berlangsung agak kaku. Tidak ada keakraban yang selama ini biasa menemani perkumpulan mereka. Sepanjang rapat itu pun Muthi’ hanya terdiam mendengarkan presentasi teman-temannya. Tak ada komentar yang keluar, sampai rapat pun akhirnya selesai. Seusai rapat ….
“ Muth’ kamu baik-baik saja kan? Tanya Imas.
“ Ya, saya baik-baik saja ko’. “
“ Tapi kamu agak pucat, Muth, kamu sakit? aku anter pulang aja ya…”
“ Nda usah Mas, lagian habis dhuhur saya ada perlu lagi. Saya nda apa-apa ko’.” Muthi menanggapi sambil menahan sakit di kepalanya.
“ Muth’ kamu istirahat saja, tadi mba lihat kamu kelihatan lemes banget. Migrainnya kambuh lagi ya….” mba Indi nyambung.
“ Nda apa-apa mba, paling kecapean aja. Ntar istirahat di masjid aja sambil nunggu dhuhur, insya Allah juga nanti baikan.”
“ Ya udah, kita ke masjid aja yuk…” Imas menggandeng Muthi’.
Di depan sekre tiba-tiba… DEEBUUUK…Muthi pingsan. Sontak mba Indi dan Imas bingung melihat Muthi’ yang tiba-tiba pingsan. Untunglah di sekre masih ada beberapa akhwat yang belum pulang. Muthi’ pun diisitirahatkan di sekre. Tak lama, Muthi’ pun tersadar. Sambil memegangi kepalanya yang sakit, ia mencoba duduk. Mba Indi di belakang Muthi’, agar tidak jatuh.
“ Muth’, kamu sakit apa ? “ tanya Imas.
“ Kaya’nya mba Muthi’ udah waktunya bedrest deh.” sambung Farah adik tingkatnya.
“Nda apa-apa, paling cuma kecapean,”
“ Ya udah, habis shalat, aku antar pulang ya …” Farah menawarkan bantuannya.
“ Nda usah, de. Lagian ba’da dhuhur mba sudah ada janji dengan mba Hesti. Mba mau ke rumahnya.”
“ Muth, kamu nda ngukur diri apa ? Udah tau kondisi lagi nda beres kayak gini, maksain mau pergi. Mba Hesti kan rumahnya lumayan jauh Muth…!. Mba Indi sewot dengan sikap Muthi yang bandel.
“ Udah ntar biar mba yang minta mba Hesti ke rumah aja, kamu nda usah ke sana.”
“ Tapi mba …”. Udah kamu sekarang nurut sama mba. “
“Ayo sekarang kita shalat, terus pulang, biar kamu istirahat di rumah. “
Selepas Dhuhur, mereka pun pulang. Segera, setelah sampai di rumah, Muthi’ diistirahatkan di kamarnya.
“ Muth, tadi mba dah hubungi mba Hesti, beliau bersedia ke sini, tapi ya agak telat, karena ngasih taunya juga mendadak. “
“ Ya mba, matur nuwun.”
“ Ya udah kamu tiduran aja dulu. Mba ambilin kamu makan, biar ada tenaganya.”
Muthi’ hanya diam menanggapi mba Indi yang mondar-mandir ngurusi dirinya.
“ Mau mba suapin, atau makan sendiri ?”
“ Makan sendiri aja, lagian kayak apa aja makan disuapin. Anak-anak ko’ belum ada yang pulang? Kan udah jam satu lebih.
“ Nda tau juga tuh. Paling juga bentar lagi. Sabar, bentar lagi juga ustad kecilmu datang dengan actingnya yang bikin heboh.”
Mereka pun tertawa membayangkan si ustad kecil Ozan datang dengan tingkahnya yang kocak.
“ Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaaaaaatuh…………”
“Nah tuh…yang diomongin datang. Ya udah Muth, mba ke bawah dulu. Kamu habiskan makannya ya.”
“ Ya..mba.”
Di bawah, terdengar Ozan yang menanyakan Muthi’. Mendengar itu, Muthi hanya tersenyum lemas. Makan pun tak berselera. Piring yang berisi nasi setengah sisa, disingkirkan dari hadapannya.
“ Astaghfirullah….ampuni hamba dengan sakit ini yaa Rabb.” Muthi’ terpejam menahan sakit kepalanya. Dan tertidur.
Suara anak-anak mulai meramaikan suasana rumah singgah siang itu. Kasihan mba Indi yang sendirian ngurusin anak-anak.
“Assalamu’alaikum….?” mba Hesti sampai. “ ‘alaikumussalamwarahmatullah….eh, mba Hesti masuk mba. Waduh maaf nich, anak-anak baru pada pulang, jadi ramai gini.”
“ Nda apa-apa. Muthi’ nya dimana?”
“ Di atas, di kamarnya. Ke atas aja mba.”
“ Ya udah, saya ke atas dulu ya.”
Mba Hesti mengetuk pintu kamar Muthi’ yang sedikit terbuka. Tak ada jawaban. Mba Hesti pun memaksa masuk. Perlahan mendekati Muthi’ yang tertidur. Di pandanginya wajah adek tingkatnya itu. Wajah khas yang tidak bisa disembunyikan dari keteguhan tekadnya untuk menghapuskan kekhasan yang menempel pada dirinya. Pucat. Guratan lelah begitu terlihat, warna hitam kelopak matanya.
“ Tenang sekali tidurmu, dik..” Mba Hesti membatin, matanya berkaca. Muthi’ terbatuk dan bangun. Di dapatinya mba Hesti yang sudah sedari tadi memandanginya tidur.
“ Mba Hesti…? Dari tadi ? Ko’ nda bangunin saya ? “
“ Nda apa-apa. Lagian kamu lagi tidur. Nda tega ngebanguninnya.”
“ Kamu sakit apa dik ? Sampai pingsan gitu…”
“ nda apa-apa mba, paling cuma kecapean.”
“ Cape apa ? “
Muthi memandangi wajah teduh mba nya itu. Ia mengerti maksud pertanyaan sindiran tadi.
“ Kamu tuh butuh refreshing Muth. Mba tahu, bukan fisik kamu yang cape, tapi fikiran dan jiwa kamu. Berbagilah dengan mba, meski mungkin tidak ada advice yang bisa mba berikan, setidaknya kamu merasa ringan dengan tidak menumpuk semua beban di pundakmu.”
Muthi’ tertunduk. “ Mba tahu kan cita-cita saya ? Mungkin saya salah ketika berfikir bahwa cita-cita itu bisa saya raih ketika saya…”
“ Muth, mba tahu. Dan mba juga tahu persis tekadmu. Tapi kamu jangan lupa, itu bukan hal yang mudah. Kamu tidak mungkin berjuang merobohkan dinding itu sendiri. Ketika kamu memaksa menantang itu semua, mba khawatir kamu justru akan kalah Muth. Idealisme itu bagus, tetapi tidak dengan cara konyol. Keluargamu tidak mungkin mentolerir keputusanmu untuk menikah dengan orang selain kalangan Arab. Afwan mba terpaksa mengatakan ini. “
Muthi’ tertunduk, menangisi kebuntuan yang semakin merapat di kepalanya.
“ Terkait akh Ridho, mba yakin kamu sudah mengambil sikap dewasa untuk menghadapinya. Satu rahasia Nya sudah terungkap, dia bukan yang terbaik buat Muthi’. “
Mba Hesti menggenggam tangan Muthi’, “ Mba tahu, ini berat buat kamu. Tapi yakinlah, Allah sedang merancang jalan lain yang lebih indah buat Muthi’, permasalahannya adalah waktu. Kita hanya bisa menunggu.”
Mba Hesti memeluk Muthi’, dibiarkannya adik kesayangannnya itu menangis puas di pundaknya, membasahi kerudung cokelatnya.
“ Muth, cita-citamu adalah kewajibanku juga untuk memperjuangkannnya. Insya Allah, jika kita yakin dan tetap istiqomah di atas jalan ini, Allah pun akan membukakan kemudahan untuk kita. Apa yang kita inginkan, yakinlah tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah untuk tidak mewujudkannya untuk kita. Banyak berdo’a dan semangat terus bekerja untuk da’wah. “
“ Ya…jazakillah mba. “
“ Masya Allah Muth, kamu mimisan ? Kamu benar nda apa-apa ? Ada yang kamu sembunyikan dari mba ?”
“ Nda apa-apa mba, nda tau juga nich, seumur-umur baru mimisan.”
“ Ya udah, besok pagi kita ke dokter, periksain. Terutama kepalamu yang sering sakit itu. Mba khawatir mimisanmu ada hubungannya juga sakit kepalamu yang sering itu.”
“ Nda sering ko’, Cuma…”
“ Udah, nda usah banyak ngeles. Besok pagi mba jemput, kita ke dokter syaraf, jika perlu rontgen kepala. “
“ Ya ampun mba, segitunya….”
“ Kamu tuh, jangan menyepelekan kesehatan. Gimana mau menunaikan amanah kalo badannya ringkih kaya’ gitu. “
“ Yaaa buuu…. dokteeeeeeer.”
“ Heuuehh !!! Dasar anak bandel.” Ya udah, mba pamit dulu, udah ashar. Mba ada janji dengan orang-orang dinas sosial. Mereka mau ke rumah katanya. “
“ Ehm …jadi program pemberdayaan wanita rawan sosial ekonomi itu ?”
“ Alhamdulillah, di ACC sama kepala dinasnya. Mereka bersedia kita jadi penanggung jawab pembinaannya. “
“ Alhamdulillah, aku dilibatkan juga kan mba ? “
“ Kalo Muthi’ masih bandel kaya’ gini, mba nda akan libatkan. “
“ Yaa deh, Muthi’ Muthmainnah nurut kata bu dokter Wiwik Hesti Prastiwi. Peace !!!”
“ Udah ah …yupz.. Assalamu’alaikum.”
“ ‘alaikumussalam warahmattulah…hati-hati mba.”
“ Ya, insya Allah. banyak istirahat sama makan yang bener ya…”
Muthi’ membalas dengan jempolnya. Ah …sudah ashar. Saatnya menikmati senja dengan bercinta di atas mihrab. Uuuh…indahnya.
Senja itu, memberikan cahaya spirit luar biasa. Ia tampak mempesona dengan sinar kuning kemerah-merahannya. Tentram, damai. Selepas shalat, Muthi’ paksakan turun ke bawah menemui adik-adiknya.
“ Lho Muth’ ko’ turun ? Dibilang suruh istirahat juga….” mba Indi menghampiri Muthi’ yang berjalan agak sempoyongan.
“ Nda apa-apa mba, pengen ketemu adik-adik. Kangen dah lama nda ngobrol sama mereka. “
” ya udah, duduk sini aja. Oya, mba baru bikin bubur kacang hijau, mba ambilin ya…”
“ Mba Indi, orang sakit ko’ suruh makan terus, pahit mba rasanya…”
“ Dipaksaian Muth’, kalo kayak gitu terus, kapan makannya, kapan sembuhnya…?”
“ Iya deh… Kenapa ya, dokter kok cerewet-cerewet ?
“ ya gimana nda cerewet, pasiennya bandel-bandel !”
Muthi’ hanya tersenyum melihat mba Indi yang sedikit kesal. “ Ah…baik sekali mbak ku yang satu ini. Aku tahu pasti kau sangat lelah. Tapi masih bisa tersenyum dan ikhlas ngurusin adikmu ini.” Muthi’ membatin seraya memandangi mba Indi yang riweuh dengan urusan dapur dan anak-anak.
“ Mba Muthi’ katanya sakit ya…istirahat aja mba, biar cepet sembuh..” Ozan bergaya mijitin kaki Muthi’ dengan dua tangannya yang mungil, dan diikuti teman-temannya yang lain Dimas, Wahyu, Budi, Deni, Irfan dan juga si kecil Luthfi.
“ Eeh..mba nda apa-apa ko’, udah ayo baca iqro’ lagi. “
“ Nda apa –apa mba, kita kan juga pengen bantuin mba Muthi’, iya ora konco-konco?” Ozan memprofokatori.
“ Iya mba !”, kompak.
“ Iya…tapi yang ada mba malah geli dipijitan kalian. Lagian kalian pasti cape.” Muthi’ memegang tangan mereka dan melepaskannya satu per satu dari kakinya sambil tertawa geli,
“ Biarin Muth, mereka kan juga ingin berbagi kebaikan. Iya kan ? “
“ Betul mba Indi !” Dimas semangat menjawab.
“ Ya udah, tapi mijitinnya udahan aja ya..mau denger cerita dari mba Muthi’ nda ? “
“ Mau, mau, mau…!”
Sore itu, anak-anak begitu antusias mendengarkan cerita Muhammad Al Fatih menaklukkan Romawi.
“ Waaaah..keren ya, kecil kecil jadi panglima. Aku bisa nda ya mba ? “ Wahyu berseloroh sambil mengaitkan kedua tangannya di depan dadanya.
“ Wah kamu sih jadi panglima bertopeng aja kaya’ yang di Sin Chan. “ Ozan mulai ngeledek.
“ Eeh, Ozan nda boleh kaya’ gitu. Pasti Wahyu, asal ada keyakinan dan usaha yang sungguh-sungguh, serta nda lupa ibadah yang rajin, insya Allah cita-cita kita akan mudah kita raih. “
“ Tapi Wahyu kan…nda punya bapak, nda punya Ibu, gimana Wahyu bisa? “
“ Wahyu, kita nda punya ibu atau bapak, tetapi kita masih punya Allah yang nda akan pernah meninggalkan kita. Kecuali kita yang meninggalkan Allah. Keberhasilan itu tergantung usaha kita, bukan karena orang lain. Orang lain itu hanya penyemangat. Seperti mba Muthi’, mba Indi, mba Imas, mba Fani, mas Fajar, mas Ridho’ dan juga teman-teman yang lain. Mereka adalah saudara yang akan selalu membantu dan mendoakan, tetapi bukan kepada mereka kita bertumpu, melainkan kepada Allah. Karena Allah sumber pertolongan, sumber di kabulkannya semua do’a dan cita-cita, maka kita harus rajin mendekatkan diri kepada sumber pertolongan itu.”
“ Ooooh…berarti Allah itu super hebat ya mba…”
“ Ya iya donk…Allah Maha Besar, sedangkan kita dihadapan Allah sama seperti semut, sangat kecil, tidak berarti apa-apa kecuali jika ada keimanan dalam hati kita. Semuanya pengen tidak seperti Al Fatih ? “
“ Pengen mba….”
“ Bagus, kalian harus punya cita-cita setinggi mungkin. Dengan tangan kalian, kalian harus mampu dan yakin, bahwa dunia ini akan takluk di tangan kalian karena Islam yang kalian bawa. “
” ALLAHU AKBAR !!!!!” anak-anak menyambut dengan takbir.
“ Lho…kalian ko’ bisa kompak ?”
“ Ya iyalah..kita kan sering nonton mba-mba sama mas-mas kalo demo. Ada takbirnya, ALLAHU AKBAR, seru mba….” Irfan menirukan gaya takbir mas-masnya.
Semua yang ada di ruangan itu pun bertakbir dan menyantap bubur kacang hijau buatan mba Indi. Indahnya kebersamaan.
“ Assalamu’alaikum…” suara Imas, Fani dan yang lain terdengar dari depan.
“ ‘alaikumussalam warahmatullahiwabarakaatuh.” Muthi’ dan kawan-kawan menyambut kompak.
“ Wah…lagi pada PeWe nih…” Fani berjalan lemes.
“ Apaan PeWe mba..? Biasa Ozan dengan gaya pengen taunya.
“ PeWe itu…posisi wueeenak..”
“ Iya donk…kalian mau juga. Ntar tak ambilin ya…” Mba Indi kembali ke dapur.
“ Muth’, dah sehat? Masih pucat gitu. Istirahat lah…” Imas mendekati Muthi’
“ Nda apa-apa Mas, justru aku pengen sembuh, makanya aku main sama anak-anak.”
“ Orang aneh.” Fani mengomentari sambil berjalan ke dapur mengambil air minum.
“ Eehh…justru yang aneh yang banyak fansnya…”
“ Muth, tadi ditanyain akh Ridho. Katanya mba Muthi’ sakit apa? Kaya’nya dia merasa bersalah minta kamu revisi program tutorial.” Fani duduk pasrah di hamparan tikar di ruang tengah.
Muthi’ terdiam. Dia tersentak dengan pernyataan Fani. “Ah…akh Ridho, nda usah sok perhatian githu lah, bikin kotor hati akhwat.” Muthi’ membatin kesal.
“ Aku nda apa-apa. Cuma kecapean aja. Ya udah, aku mau ke atas, pengen istirahat. “
“ Tak anter sini Muth, ntar kamu jatuh lagi. “ Imas langsung menggandeng tangan Muthi’
Muthi’ menghabiskan waktu Maghrib dan Isya’nya di kamarnya. Malam itu serasa malam terakhir baginya. Badannya lemas, dinding kamarnya terasa berputar-putar. Pandangannya buram, dan….ia pun menghabiskan raka’at-raka’at shalatnya di atas tempat tidurnya.
“ Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku bersama sakit yang aku rasa. Jika malam ini adalah malam terakhir untukku, maka jadikanlah malam ini malam yang terindah dalam perjalanan malam-malamku. Ijinkanlah aku hiasi malam terakhir ini dengan senyum bahagiaku, senyuman yang belum pernah tersimpulkan sebelumnya. Amiiin. “
Malam itu, menjadi malam yang terasa singkat. Subuh seolah tak sabar untuk segera merangsek menggugah manusia-manusia yang tertidur pulas. Subuh itu, mba Indi menemui Muthi yang masih tertidur.
“ Dik…bangun. Udah subuh, ayo shalat dulu.” Muthi’ membuka matanya perlahan. Sayup-sayup, ia masih mendengar suara adzan di desa sebelah.
“ Ini adzan subuh mba..? “
“ Ya iya Muth, masa adzan Dhuhur.”
“ Astaghfirullah, aku tidur semalam penuh. Lupa nda nyalain alarm.”
“ Muth, kamu tuh lagi sakit. Mba minta tolong sekali, jangan terlalu memaksakan diri. Badanmu punya hak untuk diperhatikan, bukan cuma ruhiyahmu.”
“ Ya mba. Alhamdulillah, ternyata malam tadi bukan malam terakhir. “
“ Kamu ngomong apa toh Muth…Udah, ayo mba anter ke kamar mandi.”
“ Mba udah shalat? “
“ Belum, makanya mba ke atas, biar bisa jama’ahan sama kamu. Anak-anak di bawah udah dihandle sama Fani dan Imas.”
“ Mba aku shalatnya duduk saja ya…”
“ Ya…”
Mereka pun shalat subuh berjama’ah di kamar Muthi’. Di bawah, terdengar suara Ozan yang mengimami teman-temannya agar berdo’a untuk kesembuhan Muthi’. Tersentak haru yang begitu dalam mendengar suara polos anak-anak itu. Selepas shalat, Muthi’ langsung merebahkan diri lagi di ranjangnya.
“ Masih sakit kepalanya Muth..? Mba pijitin ya, ada minyak kayu putih nda ?”
“ Kalo nda salah, di atas rak buku.”
“ Masya Allah Muth, badan kamu panas lagi. Udah, ntar habis dhuha kita ke rumah sakit. Check up.”
“ Ya, mba Hesti ntar mau ke sini. Beliau juga cerewet maksain ke rumah sakit.”
“ ya iya, gimana nda cerewet. Badan kamu tuh udah harus diservice. Udah saatnya masuk bengkel. Jika perlu ganti oli.”
Muthi’ tertawa kecil,” Mba ini ada-ada saja. Emang aku motor. Pake ganti oli segala. Sekalian aja ganti onder dill.”
“ Kamu ini udah sakit, masih aja bandel. Gimana, masih sakit ?”
“ Alhamdulillah mba, udah mendingan. Jazakillah.”
“ Ya udah, kamu nda usah turun. Hari ini jadwal khusus buat istirahat total. Mba mau masak buat anak-anak dulu. Kamu sarapan bubur aja ya…biar gampang dicernanya.”
“ Yaa….apa kata bu dokter Indria Mahsunah aja lah..”
Mba Indi meninggalkan Muthi. Di bawah, anak-anak seperti biasa sibuk dengan aktivitasnya.
“ Mba Indi yang baik hati, mba Muthi’ masih sakit ya..” Ozan segera menyerbu mba Indi yang terlihat baru turun dari kamar atas.
“ Ya, masih sakit. Makanya Ozan dan teman-teman yang lain yang rajin shalatnya, dan jangan lupa do’ain mba Muthi’ biar cepat sembuh. “
“ Ya, mba tadi juga kita berdo’a buat mba Muthi’. Mba, Ozan boleh ke kamar mba Muthi’ nda?”
“ Udah selesai belum tugas in the morning nya…?”
“ Belum.”
“ Ayo, selesaikan dulu. Nanti kalo udah selesai, boleh ke kamar mba Muthi’. “
“ Oke deh…” Ozan berlalu dengan tampang layu.
“ Assalamu’alaikum…”, mba Hesti pagi-pagi sudah sampai buat jemput Muthi’
“ ‘alaikumussalamwarahmatullah, lho…mba Hesti pagi-pagi dah nyampe. Mau jemput Muthi’ ya. Muthi’ nya juga baru mau sarapan.” mba Indi menghampiri mba Hesti sambil membawa sarapan buat Muthi’.
“ Ya, sengaja pagi-pagi. Ntar kalo kesiangan lama ngantrinya. Ya udah saya yang bawain sarapannya. Oh ya gimana kondisinya?”
“ Ya gitu mba, masih lemas. Tapi agak lebih baik dari kemarin.”
Mba Hesti mengangguk sambil berlalu menuju kamar Muthi’.
“ Assalamu’alaikum, “ mba Hesti langsung masuk kamar Muthi’ yang terbuka.
“ ‘alaikumussalam warahmatullah. Lho, mba pagi-pagi udah beredar. “
“ Biar kamunya cepet di bawa ke rumah sakit. Sekarang ayo, sarapan dulu. Terus ini, mba bawa madu. Nanti diminum pake air hangat. Satu sendok aja sehari.”
“ Ya bu dokter..”
Selesai sarapan, hanya membasuh muka dan bebersih sedikit Muthi’ langsung di antar ke rumah sakit, ditemani juga oleh mba Indi. Sesampainya di rumah sakit, Muthi’ langsung dibawa ke ruang radiology.
“ Lho, mba ko’ langsung ke sini? mba Indi bengong.
“ Ya, biar ketahuan dulu penyakitnya apa. Kan selama ini masalah Muthi’ di kepalanya. “
Muthi’ hanya pasrah mau diapakan sama mba-mbanya itu. Sepuluh menit kemudian, Muthi’ keluar dari ruang rontgen. Pak Edi, teman mba Hesti menjelaskan,” Hasil foto rontgennya nanti akan dianalisis oleh dokter syarat terbaik di rumah sakit ini, namanya dokter Fahmi. “
“ Lalu, kapan hasilnya bisa keluar? “ mba Hesti bertanya nda sabar.
“ Hari ini dr.Fahmi ke rumah sakit, karena ada operasi tumor otak jam sebelas. Biasanya beliau datang jam sembilan atau jam sepuluh. Ya, mudah-mudahan bisa langsung dibaca oleh beliau. Kalo tidak ya kemungkinan besok. Karena operasi tumor lumayan memakan waktu. “
Mba Hesti dan mba Indi saling berpandangan. “ Ya udah, kalo hasilnya sudah keluar, nanti tolong langsung segera hubungi saya ya pak…”.
“ Siip mba. Nanti saya kabari.”
“ Ya udah kalo begitu, kita pulang dulu. Assalamu’alaikum.”
“ wa’alaikumussalamwarahmatullah. Eeeh mba sebentar. Mba Muthi’ perlu test darah dan periksa tensi dulu. Barangkali ada gejala lain. Mari saya anter ke ruang periksa.” Pak Edi langsung berjalan di depan mereka bertiga.
Muthi’ langsung diperiksa oleh suster Diana. “ Hasil tensinya bagus, normal. Nah sekarang, saya ambil darahnya dulunya sedikit. “ Suster Diana mengambil suntikan untuk test darah.
“ Yap, sebentar ya. Tunggu sekitar 30 menit lagi untuk tahu hasilnya testnya.” suster Diana tersenyum meninggalkan mereka bertiga ke laboratorium.
“ Cape mba.” Muthi’ bersandar dikursi plastik di ruang periksa.
“ sabar dik, kalo hasilnya dah keluar kita langsung pulang.” mba Indi memegang tangan Muthi’ yang mulai dingin.
Tiga puluh menit kemudian, suster Diana datang, “ Ehm, maaf mba, hasilnya belum bisa keluar sekarang. Kami menunggu dokter spesialis lain untuk memastikan hipotesis laboratorium.”
“ Emang ada masalah sus?” Mba Indi sedikit cemas.
“ Ehm…kita lihat hasilnya nanti ya mba. Paling lambat besok sudah ada.” suster Diana menenangkan. Ya, itu sudah kewajibannya untuk menjaga mental pasien.
“ Ya udah, kalo begitu kita boleh pulang kan? “ Muthi’ menyimpulkan pertanyaan berikutnya, dia memang benar-benar ingin pulang. Mba Indi hanya menatap Muthi’.
“ Ya, silahkan. Besok setelah dhuhur bisa ambil hasilnya.” Tiba-tiba pak Edi memanggil mba Hesti dari belakang, “ dokter Fahmi sudah datang. Kalo mau langsung ketemu beliau mari saya anter ke ruang prakteknya.”
“ Alhamdulillah, ya udah ayo kita langsung kesana. Muth, kamu masih kuat kan?”
Muthi’ hanya mengangguk lemas. Sesampainya di ruang praktek dr. Fahmi, mereka bertiga langsung bertemu beliau. Untunglah tidak ada pasien lain.
“ Dok, ini teman saya, mba Hesti. Beliau ini mengantar temannya untuk periksa syaraf. Ini hasil foto rontgennya. Dokter bisa menolong mereka?” pak Edi membuka prolog.
“ Oh ya, mari langsung ke ruang periksa.” dr. Fahmi langsung menyiapkan alat-alat prakteknya.
mba Hesti mengantar Muthi’ ke ruang periksa. “ Mba temeni saya.” Muthi’ memegangi tangan mba Hesti. “ Ya, dik.”
Sepuluh menit, dr. Fahmi memeriksa Muthi’. Sementara itu, mba Indi menunggu di luar. Dr. Fahmi meminta mba Hesti keluar, karena ada hypothesisnya yang harus disampaikan.
“ Muth, kamu istirahat dulu di sini ya. Mba mau bicara dengan dr. Fahmi.” mba Hesti pun meninggalkan Muthi’.
Mba Indi dan mba Hesti duduk manis menunggui dokter Fahmi yang masih serius mengamati hasil rontgen kepala Muthi’. Setelah itu…dr. Fahmi membuka kacamatanya, mengela nafas…dan memandangi mba Indi dan mba Hesti. Mereka pun menjadi tegang.
“ Ada apa dok? ada hal yang serius ?” mba Hesti membuka pertanyaan.
“ Maaf sebelumnya, mba-mba ini ada hubungan darah dengan mba Muthi’? “
“ Oh, nda ada dok. Kami hanya satu organisasi dan sudah tiga tahun satu atap alias satu kostan. Jadi kami juga sudah seperti saudara. Ada apa gitu dok?” Mba Indi menjelaskan dengan nada tegang.
“ Begini mba-mba. Sebagai dokter, tugas kami bukan hanya berusaha membantu pasien sembuh, tetapi juga menyemangati psikology pasien agar tidak rapuh. Syukurlah, jika mba-mba ini memiliki hubungan yang sangat baik dengan mba Muthi’. Saya sebagai dokter memohon untuk turut membantu menyemangati mba Muthi’ “. dr. Fahmi menjelaskan tetapi memusingkan.
“ Maaf dok, bisa to the point saja? “ mba Hesti semakin tegang.
“ Begini mba-mba. Saya sudah membaca hasil rontgen tadi. Dan hasilnya…” mba Indi dan mba Hesti berpegangan tangan. Tangan mereka dingin karena penjelasan dr. Fahmi yang menggantung.
“ Saya minta mba-mba tetap kuat agar mba Muthi’ pun turut kuat. Karena pada hakikatnya, kekuatan yang diperlukan pasien untuk bertahan dari sakitnya adalah kekuatan jiwanya. Ya, meski kesimpulan saya akan sakit mba Muthi belum sampai pada tingkat serius.” dr. Fahmi semakin membuat tegang.
“ Maksud dokter? “ mba Hesti semakin penasaran.
“ Saya akan beritahu hasil analysis rontgennya secara tertulis. Sebentar.” dr. Fahmi masuk ke ruangan kecil disamping ruang periksa. Tak lama kemudian….
“ Ini hasilnya.” dr. Fahmi menyerahkan amplop putih panjang dan juga hasil rontgen Muthi’.
Mba Hesti langsung membuka isi amplopnya. Dan …air matanya langsung menetes melihat hasil rontgen dari dr. Fahmi. Kanker otak stadium satu. Mba Indi yang turut membaca kertas putih itu pun tak kuasa menahan air matanya. Namun, tidak mungkin jika ia turut larut dalam kesedihan. Ia mencoba menenangkan mba Hesti.
Dengan menahan air matanya, “ Lalu apa yang harus kami lakukan untuk Muthi’? “ mba Hesti bertanya lirih.
“ Yang pertama, seperti yang saya sampaikan di awal. Yang kedua, awasi pola makan, istirahat dan aktivitas Muthi’. Dia tidak boleh terlalu cape, banyak fikiran apalagi stress. Saya akan tuliskan menu yang harus dikonsumsi Muthi’. “
“ Apa kami harus merahasiakan hal ini dari Muthi’ ?” mba Indi menambahkan.
“ Ehm… untuk saat ini, ya. Kondisinya saya lihat sangat lemah. Saya melihat sepertinya Muthi’ sedang ada beban pikiran. Nah, ini tolong di kurangi atau lebih baik buat Muthi’ lupa dengan masalah-masalahnya. Karena saat ini dia ngedrop bukan cuma karena ada gejala seperti ini, tapi juga karena memang dia sudah sangat lelah. Jika dia sudah pulih, lebih baik dia memang tahu akan sakitnya, tentunya hati-hati. Saat ini dia harus bedrest total.“ dr. Fahmi menjelaskan pelan.
“ Tentu dok.” mba Hesti menggangguk.
“ Baik, ini menu dan pantangan-pantangan untuk Muthi’. Maaf saya harus siap-siap lagi, karena ada operasi jam sebelas. Assalamu’alaikum.”
“ ‘alaikumussalam warahmatullah.”
Muthi, mba Hesti dan mba Indi pun pulang. Sepanjang perjalanan pulang, tak ada satu hurufpun yang keluar. Mba Hesti tak kuasa menahan sedih, ia memalingkan wajahnya ke arah jendela angkot agar tak terlihat air matanya yang mulai menetes. Pun mba Indi, ia kehabisan kata-kata untuk menenangkan mbanya itu. Tak terkecuali Muthi’ yang memilih diam, karena tak ada energi untuk bersuara. Sesampainya di rumah, terlihat senyum terpaksa yang mengembang, setidaknya menghibur anak-anak dan saudara-saudara yang lain, yang sudah tidak sabar ingin tahu hasil rumah sakit.
“ Gimana hasilnya rontgennya mba?” Fani langsung menghadang di depan pintu.
“ Bentar lah Fan, kami kan baru nyampe. Muthi’ juga harus langsung istirahat dulu.” mba Hesti sedikit berbasa-basi. Mendengar itu, Fani hanya diam, memandangi wajah Muthi’ dan mba Indi penuh dengan tanda tanya. Mba Indi langsung mengantar Muthi’ istirahat di kamarnya.
“ Mba tadi apa kata dokter Fahmi?” Muthi’ memegang tangan mba Indi yang akan meninggalkan kamar Muthi’.
“ Ehm …nda apa-apa kok Muth. dokter Fahmi cuma bilang kamu harus istirahat total sampai kamu benar-benar sehat. Terutama kepalamu. Kamu nda boleh banyak pikiran apalagi stress. Kami semua ada di sini, siap berbagi dengan Muthi’. Itu aja pesan dokter.”
“ ada yang mba Indi dan mba Hesti sembunyikan ? “
“ Nda ada kok de. Udah kamu istirahat dulu ya. Nanti dhuhur mba bangunin.” mba Indi tersenyum dan meninggalkan Muthi’.
to be continued...
“ Ayo anak-anak … siap-siap !!!! mba Urwah mulai mengomandoi shalat Maghrib.
“ Ayo Muthi’ giliran kamu jadi imam …”
“ Yuuukkk …”
Rapih …indah… khusyu’… Surakarta baru saja diguyur hujan. Keheningan yang menyergap di waktu maghrib itu menyeruak ke dalam jiwa-jiwa yang tenang dan menenangkan. Serak suara sang imam maghrib itu semakin menambah kesyahduan. Satu per satu isak tangis kekhusyu’an pun menghanyutkan jiwa-jiwa itu pada penghambaan yang tulus.
“ Alhamdulillah…” mba Urwah berbalik ke arah anak-anak membimbing mereka berdo’a. Dan bersiap untuk makan malam.
“ Ayo anak-anak .... waktunya makan malam. nanti habis itu langsung siap-siap lagi buat baca Asma’ul husna dan shalat Isya’. Oke …!!!!
“ OOOOKEEEEE !!!!!” paduan suara yang sangat nyaring bunyinya.
“ Ayo Muth’ makan, perasaan nda lihat kamu ikut makan siang? Kenapa ? Diet ?”
“ Diet? mau jadi kaya’ apa kalo aku diet mba? ntar dikira tiang listrik berjalan. Hayu makan …”
Lucunya melihat anak-anak itu makan. Apalagi si ustadz kecil Ozan … Ah…anak itu memang jadi hiburan tersendiri di rumah singgah itu.
“ Mba Muthi’ ntar habis shalat Isya’ belajarin bahasa Inggris ya …”
“ yaa pak ustadz …PR yang waktu kemarin dah di kerjain belum ? “
“ Udah donk mba …kan Ozan anak yang rajin, betul ..betul…betul …? “
“ Huuuh …. “ Wahyu menimpali.
“ udah, yang rajin sama yang nda rajin, yang jujur sama yang bohong nanti juga ketahuan sendiri. Dan juga akan ditanggung sendiri akibatnya. jadi kalo kita pingin rajin, nda usah bandingin dengan teman-teman yang nda rajin, yang enak-enakan main. Allah sangat suka dengan anak-anak yang rajin menuntut ilmu. Mau nda disukai Allah? “
“ Mauuuuuu ….. !!!” kompak.
“ Mba Muthi ….mba Muthi …Luthfi besok naik ke Iqro’ enam lho …”
“ Oh yaaa… alhamdulillah. Yang makin rajin yaa nak. “ Muthi’ mengelus kepala bocah kecil itu.
“ Yap ….ayo makan jangan sambil bersuara. Yang udah selesai siap-siap ke tempat shalat lagi.” mba Urwah memang korlap yang disiplin.
Mba Fani dan Muthi’ membereskan ruang makan, sementara itu anak-anak bersiap ke tempat shalat di komandoi mba Urwah dan mba Indi.
“ Yaa Allah...yaa Rahman, yaa rakhiim yaa Malik …yaaa Kudus …yaa Salaam…yaa Mu’min…yaa Muhaimin ….” lantunan asma’ul husna mulai terdengar. Suara polos anak-anak itu cukup membuat merinding dan menyentak ke hati. Senandung tasbih yang indah, disambut semarak oleh lantunan adzan Isya’. Ruangan itu pun kembali dipenuhi tubuh-tubuh mungil yang berjejer rapih, ruku’ dan sujud….indah sekali. Selepas isya’ ….
“ Alhamdulillah, kita udah makan, udah shalat … sekarang waktunya apa ?” suara lembut Imas membuat suasana semakin ngantuk .
“ BELAJAR !!!!!”
“ Pinter, nah sekarang ambil buku-bukunya ya … yang ada PR dikerjakan, yang tidak ada yaa tetep belajar, ya…” Ah …Imas, logatnya membuat teman-teman yang lain harus menahan tawa karena geli dengan kelembutannya.
“ Ayo Ozan, mana buku-bukunya, “ Muthi’ langsung menagih Ozan yang mulai mengusili teman-temannya.
“ Ya mba Muthi’, Ozan ambil bentar.”
Anak-anak belajar dengan penuh semangat. Ada yang belajar sambil jungkir balik, ada yang sambil ngantuk, ada yang harus dengan permainan … wah macem-macem lah pokoknya.
Jam 21.00 anak-anak sudah nampak lelah. Masing-masing mereka pun memberesi buku-bukunya dan masuk kamar.
Muthi’,mba Indi, mba Fani dan Imas pun nampak lelah. Apa boleh buat, saatnya berlabuh ke pulau kapuk.
Malam itu, di tengah lelah yang menyerbu, Muthi’ tak mampu terpejam. Matanya menatap langit-langit kamarnya. Pandangannya kosong, ia menarik nafas panjang dan sejenak terpejam, menyeka kristal bening yang tak mampu dibendung. Pelan, dia mencoba menyebut keagungan nama Nya dalam desahan nafasnya. Aahh … Muthi’ bangkit. Ia segera mengambil air wudhu’, menenangkan jiwanya dan mengakhiri malam itu bersama ayat-ayat penggugah.
Sepertiga malam kembali menyapa. Beberapa jiwa yang merindu Tuhannya, berdiri menyapa dalam kekhusyu’an bersama do’a-do’a yang menyentuh dinding mihrab. Keheningan malam yang menyentak kesunyian jiwa, meneteskan secuil butir cinta, hingga seruan fajar menyapa.
Pagi itu, seperti biasa riuh anak-anak mampu merubah manyun menjadi senyum. Ahh, anak-anak, selalu saja ada tingkah yang unik. Jadwal padat hari itu, terpaksa petugas piket rumah singgah dikosongkan. Semua kepala terfokus pada satu tugas, OMB.
Di sekre LDK, beberapa akhwat tengah berbincang. Di balik hijab, terdengar beberapa suara ikhwan, ya salah satunya akh Ridho’. Rapat pun mulai berjalan.
“ Ya, kepada masing-masing penanggung jawab, silahkan melaporkan programnya, “ akh Ridho menjadi pemimpin rapat pagi itu.
“ Ehm …akh, sebaiknya dimulai dari program unggulan kita, biar yang lainnya belakangan, dan waktu pembahasannya lebih efisien. “ suara akh Fajar menggelegar di ruangan kecil di sudut kampus itu.
“ Ok, kalo begitu kita mulai dari program tutorial, penanggung jawabnya ….mba Muthi’ ya, udah datang belum ? “
“ Ya, udah. “ Muthi’ menjawab datar.
“ Monggo mba, dipresentasikan programnya. “
Muthi’ menarik nafas panjang, dan BISMILLAH, ia menyampaikan program yang sudah dia konsep kemarin.
“ Ya, mungkin itu yang bisa saya sampaikan, silahkan untuk koreksinya, barangkali ada yang perlu ditambahin atau dikurangi. “
Sejenak, ruangan itu hening. Hanya dahi-dahi yang berkerut dan tangan yang bertopang dagu yang menandakkan penghuni ruangan itu tengah mikir, mencari kekurangan dari program tutorial untuk dikoreksi.
“ ehm … menurut saya terlalu ideal programnya, mba. Kalo kita lihat SDM dan kondisi birokrasi kampus, rasanya kita akan sedikit kewalahan dengan mekanisme seperti itu, apalagi dengan target yang …yaa, memang progressive, tapi … menurut saya kurang realistis. Ini, pendapat saya. Maaf, bukan bermaksud mementahkan program mba Muthi’, tapi karena saya tipe orang yang lebih berfikir dan bekerja sesuai dengan realita.” akh Ridho’ mengkritik habis program Muthi’.
“ Ya, nda apa-apa, lagian ini kan bukan final programme. Tapi afwan, kalo dalam setiap merancang program kita harus berfikir realistis, lantas kapan kita akan meraih cita-cita da’wah yang selama ini digembar-gemborkan. Pelan boleh, tapi capaian tujuan dan target tetap dimaksimalkan, sehingga akan ada kerja yang maksimal juga. Bukan kerja apa adanya.” Muthi’ menimpali dengan nada agak sewot.
Semua akhwat yang hadir di ruangan itu, terkaget melihat Muthi’ yang tiba-tiba sensitif. Rapat pun berlangsung agak kaku. Tidak ada keakraban yang selama ini biasa menemani perkumpulan mereka. Sepanjang rapat itu pun Muthi’ hanya terdiam mendengarkan presentasi teman-temannya. Tak ada komentar yang keluar, sampai rapat pun akhirnya selesai. Seusai rapat ….
“ Muth’ kamu baik-baik saja kan? Tanya Imas.
“ Ya, saya baik-baik saja ko’. “
“ Tapi kamu agak pucat, Muth, kamu sakit? aku anter pulang aja ya…”
“ Nda usah Mas, lagian habis dhuhur saya ada perlu lagi. Saya nda apa-apa ko’.” Muthi menanggapi sambil menahan sakit di kepalanya.
“ Muth’ kamu istirahat saja, tadi mba lihat kamu kelihatan lemes banget. Migrainnya kambuh lagi ya….” mba Indi nyambung.
“ Nda apa-apa mba, paling kecapean aja. Ntar istirahat di masjid aja sambil nunggu dhuhur, insya Allah juga nanti baikan.”
“ Ya udah, kita ke masjid aja yuk…” Imas menggandeng Muthi’.
Di depan sekre tiba-tiba… DEEBUUUK…Muthi pingsan. Sontak mba Indi dan Imas bingung melihat Muthi’ yang tiba-tiba pingsan. Untunglah di sekre masih ada beberapa akhwat yang belum pulang. Muthi’ pun diisitirahatkan di sekre. Tak lama, Muthi’ pun tersadar. Sambil memegangi kepalanya yang sakit, ia mencoba duduk. Mba Indi di belakang Muthi’, agar tidak jatuh.
“ Muth’, kamu sakit apa ? “ tanya Imas.
“ Kaya’nya mba Muthi’ udah waktunya bedrest deh.” sambung Farah adik tingkatnya.
“Nda apa-apa, paling cuma kecapean,”
“ Ya udah, habis shalat, aku antar pulang ya …” Farah menawarkan bantuannya.
“ Nda usah, de. Lagian ba’da dhuhur mba sudah ada janji dengan mba Hesti. Mba mau ke rumahnya.”
“ Muth, kamu nda ngukur diri apa ? Udah tau kondisi lagi nda beres kayak gini, maksain mau pergi. Mba Hesti kan rumahnya lumayan jauh Muth…!. Mba Indi sewot dengan sikap Muthi yang bandel.
“ Udah ntar biar mba yang minta mba Hesti ke rumah aja, kamu nda usah ke sana.”
“ Tapi mba …”. Udah kamu sekarang nurut sama mba. “
“Ayo sekarang kita shalat, terus pulang, biar kamu istirahat di rumah. “
Selepas Dhuhur, mereka pun pulang. Segera, setelah sampai di rumah, Muthi’ diistirahatkan di kamarnya.
“ Muth, tadi mba dah hubungi mba Hesti, beliau bersedia ke sini, tapi ya agak telat, karena ngasih taunya juga mendadak. “
“ Ya mba, matur nuwun.”
“ Ya udah kamu tiduran aja dulu. Mba ambilin kamu makan, biar ada tenaganya.”
Muthi’ hanya diam menanggapi mba Indi yang mondar-mandir ngurusi dirinya.
“ Mau mba suapin, atau makan sendiri ?”
“ Makan sendiri aja, lagian kayak apa aja makan disuapin. Anak-anak ko’ belum ada yang pulang? Kan udah jam satu lebih.
“ Nda tau juga tuh. Paling juga bentar lagi. Sabar, bentar lagi juga ustad kecilmu datang dengan actingnya yang bikin heboh.”
Mereka pun tertawa membayangkan si ustad kecil Ozan datang dengan tingkahnya yang kocak.
“ Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaaaaaatuh…………”
“Nah tuh…yang diomongin datang. Ya udah Muth, mba ke bawah dulu. Kamu habiskan makannya ya.”
“ Ya..mba.”
Di bawah, terdengar Ozan yang menanyakan Muthi’. Mendengar itu, Muthi hanya tersenyum lemas. Makan pun tak berselera. Piring yang berisi nasi setengah sisa, disingkirkan dari hadapannya.
“ Astaghfirullah….ampuni hamba dengan sakit ini yaa Rabb.” Muthi’ terpejam menahan sakit kepalanya. Dan tertidur.
Suara anak-anak mulai meramaikan suasana rumah singgah siang itu. Kasihan mba Indi yang sendirian ngurusin anak-anak.
“Assalamu’alaikum….?” mba Hesti sampai. “ ‘alaikumussalamwarahmatullah….eh, mba Hesti masuk mba. Waduh maaf nich, anak-anak baru pada pulang, jadi ramai gini.”
“ Nda apa-apa. Muthi’ nya dimana?”
“ Di atas, di kamarnya. Ke atas aja mba.”
“ Ya udah, saya ke atas dulu ya.”
Mba Hesti mengetuk pintu kamar Muthi’ yang sedikit terbuka. Tak ada jawaban. Mba Hesti pun memaksa masuk. Perlahan mendekati Muthi’ yang tertidur. Di pandanginya wajah adek tingkatnya itu. Wajah khas yang tidak bisa disembunyikan dari keteguhan tekadnya untuk menghapuskan kekhasan yang menempel pada dirinya. Pucat. Guratan lelah begitu terlihat, warna hitam kelopak matanya.
“ Tenang sekali tidurmu, dik..” Mba Hesti membatin, matanya berkaca. Muthi’ terbatuk dan bangun. Di dapatinya mba Hesti yang sudah sedari tadi memandanginya tidur.
“ Mba Hesti…? Dari tadi ? Ko’ nda bangunin saya ? “
“ Nda apa-apa. Lagian kamu lagi tidur. Nda tega ngebanguninnya.”
“ Kamu sakit apa dik ? Sampai pingsan gitu…”
“ nda apa-apa mba, paling cuma kecapean.”
“ Cape apa ? “
Muthi memandangi wajah teduh mba nya itu. Ia mengerti maksud pertanyaan sindiran tadi.
“ Kamu tuh butuh refreshing Muth. Mba tahu, bukan fisik kamu yang cape, tapi fikiran dan jiwa kamu. Berbagilah dengan mba, meski mungkin tidak ada advice yang bisa mba berikan, setidaknya kamu merasa ringan dengan tidak menumpuk semua beban di pundakmu.”
Muthi’ tertunduk. “ Mba tahu kan cita-cita saya ? Mungkin saya salah ketika berfikir bahwa cita-cita itu bisa saya raih ketika saya…”
“ Muth, mba tahu. Dan mba juga tahu persis tekadmu. Tapi kamu jangan lupa, itu bukan hal yang mudah. Kamu tidak mungkin berjuang merobohkan dinding itu sendiri. Ketika kamu memaksa menantang itu semua, mba khawatir kamu justru akan kalah Muth. Idealisme itu bagus, tetapi tidak dengan cara konyol. Keluargamu tidak mungkin mentolerir keputusanmu untuk menikah dengan orang selain kalangan Arab. Afwan mba terpaksa mengatakan ini. “
Muthi’ tertunduk, menangisi kebuntuan yang semakin merapat di kepalanya.
“ Terkait akh Ridho, mba yakin kamu sudah mengambil sikap dewasa untuk menghadapinya. Satu rahasia Nya sudah terungkap, dia bukan yang terbaik buat Muthi’. “
Mba Hesti menggenggam tangan Muthi’, “ Mba tahu, ini berat buat kamu. Tapi yakinlah, Allah sedang merancang jalan lain yang lebih indah buat Muthi’, permasalahannya adalah waktu. Kita hanya bisa menunggu.”
Mba Hesti memeluk Muthi’, dibiarkannya adik kesayangannnya itu menangis puas di pundaknya, membasahi kerudung cokelatnya.
“ Muth, cita-citamu adalah kewajibanku juga untuk memperjuangkannnya. Insya Allah, jika kita yakin dan tetap istiqomah di atas jalan ini, Allah pun akan membukakan kemudahan untuk kita. Apa yang kita inginkan, yakinlah tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah untuk tidak mewujudkannya untuk kita. Banyak berdo’a dan semangat terus bekerja untuk da’wah. “
“ Ya…jazakillah mba. “
“ Masya Allah Muth, kamu mimisan ? Kamu benar nda apa-apa ? Ada yang kamu sembunyikan dari mba ?”
“ Nda apa-apa mba, nda tau juga nich, seumur-umur baru mimisan.”
“ Ya udah, besok pagi kita ke dokter, periksain. Terutama kepalamu yang sering sakit itu. Mba khawatir mimisanmu ada hubungannya juga sakit kepalamu yang sering itu.”
“ Nda sering ko’, Cuma…”
“ Udah, nda usah banyak ngeles. Besok pagi mba jemput, kita ke dokter syaraf, jika perlu rontgen kepala. “
“ Ya ampun mba, segitunya….”
“ Kamu tuh, jangan menyepelekan kesehatan. Gimana mau menunaikan amanah kalo badannya ringkih kaya’ gitu. “
“ Yaaa buuu…. dokteeeeeeer.”
“ Heuuehh !!! Dasar anak bandel.” Ya udah, mba pamit dulu, udah ashar. Mba ada janji dengan orang-orang dinas sosial. Mereka mau ke rumah katanya. “
“ Ehm …jadi program pemberdayaan wanita rawan sosial ekonomi itu ?”
“ Alhamdulillah, di ACC sama kepala dinasnya. Mereka bersedia kita jadi penanggung jawab pembinaannya. “
“ Alhamdulillah, aku dilibatkan juga kan mba ? “
“ Kalo Muthi’ masih bandel kaya’ gini, mba nda akan libatkan. “
“ Yaa deh, Muthi’ Muthmainnah nurut kata bu dokter Wiwik Hesti Prastiwi. Peace !!!”
“ Udah ah …yupz.. Assalamu’alaikum.”
“ ‘alaikumussalam warahmattulah…hati-hati mba.”
“ Ya, insya Allah. banyak istirahat sama makan yang bener ya…”
Muthi’ membalas dengan jempolnya. Ah …sudah ashar. Saatnya menikmati senja dengan bercinta di atas mihrab. Uuuh…indahnya.
Senja itu, memberikan cahaya spirit luar biasa. Ia tampak mempesona dengan sinar kuning kemerah-merahannya. Tentram, damai. Selepas shalat, Muthi’ paksakan turun ke bawah menemui adik-adiknya.
“ Lho Muth’ ko’ turun ? Dibilang suruh istirahat juga….” mba Indi menghampiri Muthi’ yang berjalan agak sempoyongan.
“ Nda apa-apa mba, pengen ketemu adik-adik. Kangen dah lama nda ngobrol sama mereka. “
” ya udah, duduk sini aja. Oya, mba baru bikin bubur kacang hijau, mba ambilin ya…”
“ Mba Indi, orang sakit ko’ suruh makan terus, pahit mba rasanya…”
“ Dipaksaian Muth’, kalo kayak gitu terus, kapan makannya, kapan sembuhnya…?”
“ Iya deh… Kenapa ya, dokter kok cerewet-cerewet ?
“ ya gimana nda cerewet, pasiennya bandel-bandel !”
Muthi’ hanya tersenyum melihat mba Indi yang sedikit kesal. “ Ah…baik sekali mbak ku yang satu ini. Aku tahu pasti kau sangat lelah. Tapi masih bisa tersenyum dan ikhlas ngurusin adikmu ini.” Muthi’ membatin seraya memandangi mba Indi yang riweuh dengan urusan dapur dan anak-anak.
“ Mba Muthi’ katanya sakit ya…istirahat aja mba, biar cepet sembuh..” Ozan bergaya mijitin kaki Muthi’ dengan dua tangannya yang mungil, dan diikuti teman-temannya yang lain Dimas, Wahyu, Budi, Deni, Irfan dan juga si kecil Luthfi.
“ Eeh..mba nda apa-apa ko’, udah ayo baca iqro’ lagi. “
“ Nda apa –apa mba, kita kan juga pengen bantuin mba Muthi’, iya ora konco-konco?” Ozan memprofokatori.
“ Iya mba !”, kompak.
“ Iya…tapi yang ada mba malah geli dipijitan kalian. Lagian kalian pasti cape.” Muthi’ memegang tangan mereka dan melepaskannya satu per satu dari kakinya sambil tertawa geli,
“ Biarin Muth, mereka kan juga ingin berbagi kebaikan. Iya kan ? “
“ Betul mba Indi !” Dimas semangat menjawab.
“ Ya udah, tapi mijitinnya udahan aja ya..mau denger cerita dari mba Muthi’ nda ? “
“ Mau, mau, mau…!”
Sore itu, anak-anak begitu antusias mendengarkan cerita Muhammad Al Fatih menaklukkan Romawi.
“ Waaaah..keren ya, kecil kecil jadi panglima. Aku bisa nda ya mba ? “ Wahyu berseloroh sambil mengaitkan kedua tangannya di depan dadanya.
“ Wah kamu sih jadi panglima bertopeng aja kaya’ yang di Sin Chan. “ Ozan mulai ngeledek.
“ Eeh, Ozan nda boleh kaya’ gitu. Pasti Wahyu, asal ada keyakinan dan usaha yang sungguh-sungguh, serta nda lupa ibadah yang rajin, insya Allah cita-cita kita akan mudah kita raih. “
“ Tapi Wahyu kan…nda punya bapak, nda punya Ibu, gimana Wahyu bisa? “
“ Wahyu, kita nda punya ibu atau bapak, tetapi kita masih punya Allah yang nda akan pernah meninggalkan kita. Kecuali kita yang meninggalkan Allah. Keberhasilan itu tergantung usaha kita, bukan karena orang lain. Orang lain itu hanya penyemangat. Seperti mba Muthi’, mba Indi, mba Imas, mba Fani, mas Fajar, mas Ridho’ dan juga teman-teman yang lain. Mereka adalah saudara yang akan selalu membantu dan mendoakan, tetapi bukan kepada mereka kita bertumpu, melainkan kepada Allah. Karena Allah sumber pertolongan, sumber di kabulkannya semua do’a dan cita-cita, maka kita harus rajin mendekatkan diri kepada sumber pertolongan itu.”
“ Ooooh…berarti Allah itu super hebat ya mba…”
“ Ya iya donk…Allah Maha Besar, sedangkan kita dihadapan Allah sama seperti semut, sangat kecil, tidak berarti apa-apa kecuali jika ada keimanan dalam hati kita. Semuanya pengen tidak seperti Al Fatih ? “
“ Pengen mba….”
“ Bagus, kalian harus punya cita-cita setinggi mungkin. Dengan tangan kalian, kalian harus mampu dan yakin, bahwa dunia ini akan takluk di tangan kalian karena Islam yang kalian bawa. “
” ALLAHU AKBAR !!!!!” anak-anak menyambut dengan takbir.
“ Lho…kalian ko’ bisa kompak ?”
“ Ya iyalah..kita kan sering nonton mba-mba sama mas-mas kalo demo. Ada takbirnya, ALLAHU AKBAR, seru mba….” Irfan menirukan gaya takbir mas-masnya.
Semua yang ada di ruangan itu pun bertakbir dan menyantap bubur kacang hijau buatan mba Indi. Indahnya kebersamaan.
“ Assalamu’alaikum…” suara Imas, Fani dan yang lain terdengar dari depan.
“ ‘alaikumussalam warahmatullahiwabarakaatuh.” Muthi’ dan kawan-kawan menyambut kompak.
“ Wah…lagi pada PeWe nih…” Fani berjalan lemes.
“ Apaan PeWe mba..? Biasa Ozan dengan gaya pengen taunya.
“ PeWe itu…posisi wueeenak..”
“ Iya donk…kalian mau juga. Ntar tak ambilin ya…” Mba Indi kembali ke dapur.
“ Muth’, dah sehat? Masih pucat gitu. Istirahat lah…” Imas mendekati Muthi’
“ Nda apa-apa Mas, justru aku pengen sembuh, makanya aku main sama anak-anak.”
“ Orang aneh.” Fani mengomentari sambil berjalan ke dapur mengambil air minum.
“ Eehh…justru yang aneh yang banyak fansnya…”
“ Muth, tadi ditanyain akh Ridho. Katanya mba Muthi’ sakit apa? Kaya’nya dia merasa bersalah minta kamu revisi program tutorial.” Fani duduk pasrah di hamparan tikar di ruang tengah.
Muthi’ terdiam. Dia tersentak dengan pernyataan Fani. “Ah…akh Ridho, nda usah sok perhatian githu lah, bikin kotor hati akhwat.” Muthi’ membatin kesal.
“ Aku nda apa-apa. Cuma kecapean aja. Ya udah, aku mau ke atas, pengen istirahat. “
“ Tak anter sini Muth, ntar kamu jatuh lagi. “ Imas langsung menggandeng tangan Muthi’
Muthi’ menghabiskan waktu Maghrib dan Isya’nya di kamarnya. Malam itu serasa malam terakhir baginya. Badannya lemas, dinding kamarnya terasa berputar-putar. Pandangannya buram, dan….ia pun menghabiskan raka’at-raka’at shalatnya di atas tempat tidurnya.
“ Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku bersama sakit yang aku rasa. Jika malam ini adalah malam terakhir untukku, maka jadikanlah malam ini malam yang terindah dalam perjalanan malam-malamku. Ijinkanlah aku hiasi malam terakhir ini dengan senyum bahagiaku, senyuman yang belum pernah tersimpulkan sebelumnya. Amiiin. “
Malam itu, menjadi malam yang terasa singkat. Subuh seolah tak sabar untuk segera merangsek menggugah manusia-manusia yang tertidur pulas. Subuh itu, mba Indi menemui Muthi yang masih tertidur.
“ Dik…bangun. Udah subuh, ayo shalat dulu.” Muthi’ membuka matanya perlahan. Sayup-sayup, ia masih mendengar suara adzan di desa sebelah.
“ Ini adzan subuh mba..? “
“ Ya iya Muth, masa adzan Dhuhur.”
“ Astaghfirullah, aku tidur semalam penuh. Lupa nda nyalain alarm.”
“ Muth, kamu tuh lagi sakit. Mba minta tolong sekali, jangan terlalu memaksakan diri. Badanmu punya hak untuk diperhatikan, bukan cuma ruhiyahmu.”
“ Ya mba. Alhamdulillah, ternyata malam tadi bukan malam terakhir. “
“ Kamu ngomong apa toh Muth…Udah, ayo mba anter ke kamar mandi.”
“ Mba udah shalat? “
“ Belum, makanya mba ke atas, biar bisa jama’ahan sama kamu. Anak-anak di bawah udah dihandle sama Fani dan Imas.”
“ Mba aku shalatnya duduk saja ya…”
“ Ya…”
Mereka pun shalat subuh berjama’ah di kamar Muthi’. Di bawah, terdengar suara Ozan yang mengimami teman-temannya agar berdo’a untuk kesembuhan Muthi’. Tersentak haru yang begitu dalam mendengar suara polos anak-anak itu. Selepas shalat, Muthi’ langsung merebahkan diri lagi di ranjangnya.
“ Masih sakit kepalanya Muth..? Mba pijitin ya, ada minyak kayu putih nda ?”
“ Kalo nda salah, di atas rak buku.”
“ Masya Allah Muth, badan kamu panas lagi. Udah, ntar habis dhuha kita ke rumah sakit. Check up.”
“ Ya, mba Hesti ntar mau ke sini. Beliau juga cerewet maksain ke rumah sakit.”
“ ya iya, gimana nda cerewet. Badan kamu tuh udah harus diservice. Udah saatnya masuk bengkel. Jika perlu ganti oli.”
Muthi’ tertawa kecil,” Mba ini ada-ada saja. Emang aku motor. Pake ganti oli segala. Sekalian aja ganti onder dill.”
“ Kamu ini udah sakit, masih aja bandel. Gimana, masih sakit ?”
“ Alhamdulillah mba, udah mendingan. Jazakillah.”
“ Ya udah, kamu nda usah turun. Hari ini jadwal khusus buat istirahat total. Mba mau masak buat anak-anak dulu. Kamu sarapan bubur aja ya…biar gampang dicernanya.”
“ Yaa….apa kata bu dokter Indria Mahsunah aja lah..”
Mba Indi meninggalkan Muthi. Di bawah, anak-anak seperti biasa sibuk dengan aktivitasnya.
“ Mba Indi yang baik hati, mba Muthi’ masih sakit ya..” Ozan segera menyerbu mba Indi yang terlihat baru turun dari kamar atas.
“ Ya, masih sakit. Makanya Ozan dan teman-teman yang lain yang rajin shalatnya, dan jangan lupa do’ain mba Muthi’ biar cepat sembuh. “
“ Ya, mba tadi juga kita berdo’a buat mba Muthi’. Mba, Ozan boleh ke kamar mba Muthi’ nda?”
“ Udah selesai belum tugas in the morning nya…?”
“ Belum.”
“ Ayo, selesaikan dulu. Nanti kalo udah selesai, boleh ke kamar mba Muthi’. “
“ Oke deh…” Ozan berlalu dengan tampang layu.
“ Assalamu’alaikum…”, mba Hesti pagi-pagi sudah sampai buat jemput Muthi’
“ ‘alaikumussalamwarahmatullah, lho…mba Hesti pagi-pagi dah nyampe. Mau jemput Muthi’ ya. Muthi’ nya juga baru mau sarapan.” mba Indi menghampiri mba Hesti sambil membawa sarapan buat Muthi’.
“ Ya, sengaja pagi-pagi. Ntar kalo kesiangan lama ngantrinya. Ya udah saya yang bawain sarapannya. Oh ya gimana kondisinya?”
“ Ya gitu mba, masih lemas. Tapi agak lebih baik dari kemarin.”
Mba Hesti mengangguk sambil berlalu menuju kamar Muthi’.
“ Assalamu’alaikum, “ mba Hesti langsung masuk kamar Muthi’ yang terbuka.
“ ‘alaikumussalam warahmatullah. Lho, mba pagi-pagi udah beredar. “
“ Biar kamunya cepet di bawa ke rumah sakit. Sekarang ayo, sarapan dulu. Terus ini, mba bawa madu. Nanti diminum pake air hangat. Satu sendok aja sehari.”
“ Ya bu dokter..”
Selesai sarapan, hanya membasuh muka dan bebersih sedikit Muthi’ langsung di antar ke rumah sakit, ditemani juga oleh mba Indi. Sesampainya di rumah sakit, Muthi’ langsung dibawa ke ruang radiology.
“ Lho, mba ko’ langsung ke sini? mba Indi bengong.
“ Ya, biar ketahuan dulu penyakitnya apa. Kan selama ini masalah Muthi’ di kepalanya. “
Muthi’ hanya pasrah mau diapakan sama mba-mbanya itu. Sepuluh menit kemudian, Muthi’ keluar dari ruang rontgen. Pak Edi, teman mba Hesti menjelaskan,” Hasil foto rontgennya nanti akan dianalisis oleh dokter syarat terbaik di rumah sakit ini, namanya dokter Fahmi. “
“ Lalu, kapan hasilnya bisa keluar? “ mba Hesti bertanya nda sabar.
“ Hari ini dr.Fahmi ke rumah sakit, karena ada operasi tumor otak jam sebelas. Biasanya beliau datang jam sembilan atau jam sepuluh. Ya, mudah-mudahan bisa langsung dibaca oleh beliau. Kalo tidak ya kemungkinan besok. Karena operasi tumor lumayan memakan waktu. “
Mba Hesti dan mba Indi saling berpandangan. “ Ya udah, kalo hasilnya sudah keluar, nanti tolong langsung segera hubungi saya ya pak…”.
“ Siip mba. Nanti saya kabari.”
“ Ya udah kalo begitu, kita pulang dulu. Assalamu’alaikum.”
“ wa’alaikumussalamwarahmatullah. Eeeh mba sebentar. Mba Muthi’ perlu test darah dan periksa tensi dulu. Barangkali ada gejala lain. Mari saya anter ke ruang periksa.” Pak Edi langsung berjalan di depan mereka bertiga.
Muthi’ langsung diperiksa oleh suster Diana. “ Hasil tensinya bagus, normal. Nah sekarang, saya ambil darahnya dulunya sedikit. “ Suster Diana mengambil suntikan untuk test darah.
“ Yap, sebentar ya. Tunggu sekitar 30 menit lagi untuk tahu hasilnya testnya.” suster Diana tersenyum meninggalkan mereka bertiga ke laboratorium.
“ Cape mba.” Muthi’ bersandar dikursi plastik di ruang periksa.
“ sabar dik, kalo hasilnya dah keluar kita langsung pulang.” mba Indi memegang tangan Muthi’ yang mulai dingin.
Tiga puluh menit kemudian, suster Diana datang, “ Ehm, maaf mba, hasilnya belum bisa keluar sekarang. Kami menunggu dokter spesialis lain untuk memastikan hipotesis laboratorium.”
“ Emang ada masalah sus?” Mba Indi sedikit cemas.
“ Ehm…kita lihat hasilnya nanti ya mba. Paling lambat besok sudah ada.” suster Diana menenangkan. Ya, itu sudah kewajibannya untuk menjaga mental pasien.
“ Ya udah, kalo begitu kita boleh pulang kan? “ Muthi’ menyimpulkan pertanyaan berikutnya, dia memang benar-benar ingin pulang. Mba Indi hanya menatap Muthi’.
“ Ya, silahkan. Besok setelah dhuhur bisa ambil hasilnya.” Tiba-tiba pak Edi memanggil mba Hesti dari belakang, “ dokter Fahmi sudah datang. Kalo mau langsung ketemu beliau mari saya anter ke ruang prakteknya.”
“ Alhamdulillah, ya udah ayo kita langsung kesana. Muth, kamu masih kuat kan?”
Muthi’ hanya mengangguk lemas. Sesampainya di ruang praktek dr. Fahmi, mereka bertiga langsung bertemu beliau. Untunglah tidak ada pasien lain.
“ Dok, ini teman saya, mba Hesti. Beliau ini mengantar temannya untuk periksa syaraf. Ini hasil foto rontgennya. Dokter bisa menolong mereka?” pak Edi membuka prolog.
“ Oh ya, mari langsung ke ruang periksa.” dr. Fahmi langsung menyiapkan alat-alat prakteknya.
mba Hesti mengantar Muthi’ ke ruang periksa. “ Mba temeni saya.” Muthi’ memegangi tangan mba Hesti. “ Ya, dik.”
Sepuluh menit, dr. Fahmi memeriksa Muthi’. Sementara itu, mba Indi menunggu di luar. Dr. Fahmi meminta mba Hesti keluar, karena ada hypothesisnya yang harus disampaikan.
“ Muth, kamu istirahat dulu di sini ya. Mba mau bicara dengan dr. Fahmi.” mba Hesti pun meninggalkan Muthi’.
Mba Indi dan mba Hesti duduk manis menunggui dokter Fahmi yang masih serius mengamati hasil rontgen kepala Muthi’. Setelah itu…dr. Fahmi membuka kacamatanya, mengela nafas…dan memandangi mba Indi dan mba Hesti. Mereka pun menjadi tegang.
“ Ada apa dok? ada hal yang serius ?” mba Hesti membuka pertanyaan.
“ Maaf sebelumnya, mba-mba ini ada hubungan darah dengan mba Muthi’? “
“ Oh, nda ada dok. Kami hanya satu organisasi dan sudah tiga tahun satu atap alias satu kostan. Jadi kami juga sudah seperti saudara. Ada apa gitu dok?” Mba Indi menjelaskan dengan nada tegang.
“ Begini mba-mba. Sebagai dokter, tugas kami bukan hanya berusaha membantu pasien sembuh, tetapi juga menyemangati psikology pasien agar tidak rapuh. Syukurlah, jika mba-mba ini memiliki hubungan yang sangat baik dengan mba Muthi’. Saya sebagai dokter memohon untuk turut membantu menyemangati mba Muthi’ “. dr. Fahmi menjelaskan tetapi memusingkan.
“ Maaf dok, bisa to the point saja? “ mba Hesti semakin tegang.
“ Begini mba-mba. Saya sudah membaca hasil rontgen tadi. Dan hasilnya…” mba Indi dan mba Hesti berpegangan tangan. Tangan mereka dingin karena penjelasan dr. Fahmi yang menggantung.
“ Saya minta mba-mba tetap kuat agar mba Muthi’ pun turut kuat. Karena pada hakikatnya, kekuatan yang diperlukan pasien untuk bertahan dari sakitnya adalah kekuatan jiwanya. Ya, meski kesimpulan saya akan sakit mba Muthi belum sampai pada tingkat serius.” dr. Fahmi semakin membuat tegang.
“ Maksud dokter? “ mba Hesti semakin penasaran.
“ Saya akan beritahu hasil analysis rontgennya secara tertulis. Sebentar.” dr. Fahmi masuk ke ruangan kecil disamping ruang periksa. Tak lama kemudian….
“ Ini hasilnya.” dr. Fahmi menyerahkan amplop putih panjang dan juga hasil rontgen Muthi’.
Mba Hesti langsung membuka isi amplopnya. Dan …air matanya langsung menetes melihat hasil rontgen dari dr. Fahmi. Kanker otak stadium satu. Mba Indi yang turut membaca kertas putih itu pun tak kuasa menahan air matanya. Namun, tidak mungkin jika ia turut larut dalam kesedihan. Ia mencoba menenangkan mba Hesti.
Dengan menahan air matanya, “ Lalu apa yang harus kami lakukan untuk Muthi’? “ mba Hesti bertanya lirih.
“ Yang pertama, seperti yang saya sampaikan di awal. Yang kedua, awasi pola makan, istirahat dan aktivitas Muthi’. Dia tidak boleh terlalu cape, banyak fikiran apalagi stress. Saya akan tuliskan menu yang harus dikonsumsi Muthi’. “
“ Apa kami harus merahasiakan hal ini dari Muthi’ ?” mba Indi menambahkan.
“ Ehm… untuk saat ini, ya. Kondisinya saya lihat sangat lemah. Saya melihat sepertinya Muthi’ sedang ada beban pikiran. Nah, ini tolong di kurangi atau lebih baik buat Muthi’ lupa dengan masalah-masalahnya. Karena saat ini dia ngedrop bukan cuma karena ada gejala seperti ini, tapi juga karena memang dia sudah sangat lelah. Jika dia sudah pulih, lebih baik dia memang tahu akan sakitnya, tentunya hati-hati. Saat ini dia harus bedrest total.“ dr. Fahmi menjelaskan pelan.
“ Tentu dok.” mba Hesti menggangguk.
“ Baik, ini menu dan pantangan-pantangan untuk Muthi’. Maaf saya harus siap-siap lagi, karena ada operasi jam sebelas. Assalamu’alaikum.”
“ ‘alaikumussalam warahmatullah.”
Muthi, mba Hesti dan mba Indi pun pulang. Sepanjang perjalanan pulang, tak ada satu hurufpun yang keluar. Mba Hesti tak kuasa menahan sedih, ia memalingkan wajahnya ke arah jendela angkot agar tak terlihat air matanya yang mulai menetes. Pun mba Indi, ia kehabisan kata-kata untuk menenangkan mbanya itu. Tak terkecuali Muthi’ yang memilih diam, karena tak ada energi untuk bersuara. Sesampainya di rumah, terlihat senyum terpaksa yang mengembang, setidaknya menghibur anak-anak dan saudara-saudara yang lain, yang sudah tidak sabar ingin tahu hasil rumah sakit.
“ Gimana hasilnya rontgennya mba?” Fani langsung menghadang di depan pintu.
“ Bentar lah Fan, kami kan baru nyampe. Muthi’ juga harus langsung istirahat dulu.” mba Hesti sedikit berbasa-basi. Mendengar itu, Fani hanya diam, memandangi wajah Muthi’ dan mba Indi penuh dengan tanda tanya. Mba Indi langsung mengantar Muthi’ istirahat di kamarnya.
“ Mba tadi apa kata dokter Fahmi?” Muthi’ memegang tangan mba Indi yang akan meninggalkan kamar Muthi’.
“ Ehm …nda apa-apa kok Muth. dokter Fahmi cuma bilang kamu harus istirahat total sampai kamu benar-benar sehat. Terutama kepalamu. Kamu nda boleh banyak pikiran apalagi stress. Kami semua ada di sini, siap berbagi dengan Muthi’. Itu aja pesan dokter.”
“ ada yang mba Indi dan mba Hesti sembunyikan ? “
“ Nda ada kok de. Udah kamu istirahat dulu ya. Nanti dhuhur mba bangunin.” mba Indi tersenyum dan meninggalkan Muthi’.
to be continued...
Langganan:
Postingan (Atom)