Selasa, 17 Agustus 2010

Kamuflase Kemerdekaan

Begitu banyak cerita kepahlawanan yang sering kita dengar. Namun sebanyak apa kita menghargai hasil perjuangan mereka ? Jika kita sering mendengar cerita perjuangan para pahlawan kemerdekaan, seperti apa saat ini mereka dihargai ?
Di tengah semangat orang-orang mengibarkan bendera merah putih, di tengah meriahnya lagu kebangsaan dinyanyikan, lantas dimana semangat perjuangan mereka kini? Apakah terwariskan? Kemerdekaan yang kini kita nikmati sebagai warisan perjuangan mereka-mereka yang berkorban dengan sebaik-baik pengorbanan, ternyata tak lain hanya nilai simbolik yang hanya kita kenang dan kita hargai setiap satu tahun sekali, hanya sehari dan hanya beberapa jam.
Dan kemerdekaan itu sendiri, apakah ma’nanya benar-benar terejawantah dalam sistem kehidupan bangsa ini ? Jawaban itu, tergantung perspektif masing-masing. Secerdas apa akal menganalisis, maka disitulah kemerdekaan diartikan. Tentunya kita bukan-bukan orang-orang yang latah meneriakkan MERDEKA, tetapi perilaku yang terlihat sangat jauh dari arti merdeka. Tak jarang kita justru memproklamasikan bahwa kita adalah “budak” yang bangga melakonkan setiap perintah tuannya.
Kemerdekaan saat ini hanya dinikmati oleh orang-orang yang terbiasa berjalan di atas karpet merah. Sedangkan mereka yang berjalan tanpa alas kaki, tak jauh berbeda dengan orang-orang yang hidup di jaman penjajahan. Tak ada yang memaksa mereka “kerja rodi”, bahkan mereka begitu agresive mencari sumber penghidupan mereka. Namun, mereka tak punya ruang lain untuk lepas dari jerat “kerja rodi” itu. Sehari saja mereka rehat, tak ada nasi dan lauk sederhana di atas piring.
Apa itu merdeka ? Dan milik siapa merdeka itu? Jika masih ada orang tua yang tega membakar diri dan kedua anaknya karena mereka tak merdeka dari urusan ekonomi? Atau anak-anak jalanan, orang tua renta di lampu merah, penjual di warung remang-remang, jual beli manusia, dan seabreg kebiadaban manusia lainnya masih menjadi warna hitam dominan yang mewarnai wajah bangsa ini? Apakah seperti ini arti kemerdekaan?
Bendera kita adalah merah putih. Merah, sebagai bukti keberanian pejuang kita mengenyahkan segala bentuk penjajahan, kini telah terkotori oleh perilaku pecundang dan penjilat orang-orang yang “terwariskan” menggerakkan roda negeri ini. Keberanian itupun menguap berganti keserakahan, penjarahan, anarkisme, tawuran, pembunuhan, perampokan, perkosaan dan perilaku sok berani lainnya yang semakin mengkarakter. Keberanian itu pun berubah menjadi sikap apatis ketika karakter bangsa ini ditukar bahkan dimatikan.
Keberanian untuk berkata TIDAK atas segala bentuk perbudakan, kini terbungkam rapat oleh dolar berlembar-lembar. Ya …sangat lucu, menjadi budak di negeri yang katanya telah merdeka selama 65 tahun. Miskin di negeri yang begitu melimpah sumber kekayaan alamnya. Kelaparan di tengah hamparan ladang padi berhektar-hektar.
Putih, bukti kesucian tekad untuk membebaskan bangsa dari perbudakan atas nama Tuhan dan kemanusiaan yang adil dan beradab. Adil, ah …orang-orang kecil tidak mengenal kata itu. Itu kata yang sangat mahal. Untuk mendapatkannya, tidak cukup dengan memajang wajah pucat, mata celong dan tubuh kurus kering. Jika belum ada yang namanya SKTM, orang-orang miskin yang sakit, hanya pasrah menunggu ajal. Jika raskin tidak diberikan, mana mungkin orang-orang yang berpenghasilan 10 rb-15rb per hari bisa makan bersama istri dan 5 orang anaknya? Negeri yang kaya dengan hasil padi, masih harus menyediakan beras “spesial” untuk rakyat miskin. IRONIS.
Beradab, adab yang mana harus diterapkan? Anak muda yang tidak punya adab kepada orang tua, pun orang tua yang tidak beradab kepada anak muda. Kebajikan yang sudah terbalik-balik. Kesucian tekad saat ini, sekali lagi telah menghilang. Mungkin karena usia yang sudah tua, 65 tahun, bangsa ini semakin pikun dengan “pelajaran-pelajaran” tempo dulu. Akalnya semakin melemah untuk mengingat bagaimana “pelajaran” itu harus difahami. Terlalu berat jika harus memikirkan bagaimana bangsa ini dipertahankan kedaulatannya. Itu kan urusan hidup masing-masing. Maka urus sendiri saja urusan dapur kalian masing-masing. Kaya atau miskin, kenyang atau lapar, rumah istana atau gubuk reot, itu selera masing-masing.
Merdeka, ia hanya kamuflase. Simbolis saja. Substansinya, bangsa ini masih menangis terjajah. Teriakan MERDEKA tempo dulu, terkumandangkan dari ujung Sumatra sampai pedamalan Irian. Dan saat ini, air mata dan keringat bangsa ini masih semangat menetes untuk merebut kembali kemerdekaan yang sudah 65 tahun lalu mensejarah. Agar ia tak kamuflase, agar ia bukanlah simbol belaka, tetapi rahmat untuk negeri ini, saat ini, esok dan selamanya.

MERDEKA Indonesiaku !!!!
- Syahidah Lamno -

Minggu, 08 Agustus 2010

Akankah Lelah ini Terobati....?

Senja, 8 Agustus 2010
Di penghujung senja, terurailah air mata pengiring lelah, yang tiada bosan mendera….

Akankah lelah ini terobati … ?
Senja, senangnya aku bisa menjumpaimu saat ini. Meski sebentar lagi kau akan pergi, dan malam akan mengganti waktumu. Huuh, kawan, hari ini aku lelah sekali. Sangat lelah. Entah, aku tak tahu kenapa. Sesaat tadi, baru saja air mataku tumpah. Lega, meski masih masih ingin kutumpahkan lebih banyak lagi.
Kawan, jalan cerita hidup ini memang kadang tak bisa dimengerti. Dan karena ketidakmengertian itu, tak jarang menjenuhkan alam fikir dan menyesakkan lelah yang tak terperi. Jalannya cerita yang penuh dengan teka-teki, sungguh, ingin segera ku akhiri.

Kembali, nurani ku “tertampar.” Dan sungguh, tak sanggup aku menahan sakitnya. Peristiwa demi peristiwa yang mengisi, begitu ku rasa berat dan selalu kekuatanku hampir tumbang. Ya, hampir saja, aku kehilangan kekuatanku. Ia terguncang hebat oleh kuatnya hantaman peristiwa.
Oh … jiwaku. Ia tak akan mungkin bertahan sampai saat ini kalau bukan karena cinta Nya. Ya, cinta Nya, begitu dahsyat ia membuaiku. Membuatku kadang tersenyum di tengah dukaku. Membuatku tertawa di tengah derasnya air mataku menemani. Dan, kau tahu kawan, semua yang mengguncang jiwaku ketika ku pahami, ternyata tak lebih, bahwa setiap guncangan itu ternyata semakin mengokohkan akar kekuatanku. Sehingga, aku pun tak kan roboh ketika ia kembali menerjangku dengan kisah yang lebih getir untuk aku terima.

Ketika ku rasa aku memang kuat, sekali lagi tak bisa ku pungkiri, aku lelah…sangat lelah dengan alur cerita yang seperti ini. Bukan … bukan maksud ku untuk menggugat Nya. Namun salahkah aku jika ku adukan lelah ini ? Berdosakah jika aku kemudian bertanya, akankah lelah ini terobati ? Kapankah lelah ini akan segera ku semai dengan janji Nya, busyro kumul yauma jannaatin tajrii min tahtihal anhaar ? Atau, adakah busyro itu pun aku dapati di sini, di dunia ini? Di tempat aku menanam semua “benih” untuk aku panen kelak, setidaknya ia akan semakin mampu menguatkanku, meski fana. Aaah… tidakkah cukup kau pinta yang lebih tinggi dari itu wahai jiwa?
Kawan, benarlah ketika Dia pun selalu mengingatkan, “ Qul hasbiyallah ! “ Satu panggilan yang mencukupkan kita hanya kepada Nya. Tak bersandar pada selain Nya, karena itulah sebaik-baik kekuatan, itu yang ku fahami dari ma’na panggilan itu. Dan aku pun menguatkan kelemahan yang ku miliki, dengan mengeluh di hadapan Nya. Ooh…ringkihnya diri ini. Tak ku fikirkan bertandang ke “ruang” yang lain untuk menyampaikan desah keluhku.

Namun, taukah kawan, apa yang kemudian harus aku coba mengerti lagi? Entah, apakah mungkin karena kekuatan yang tak pernah aku sangka melingkupiku, atau karena aku yang terlalu egois dengan keakuanku? Entahlah….. Yang pasti, ada kecewa yang tergores di hati orang-orang yang pernah menyatakan cintanya padaku. Orang-orang yang rela menyebutnya sahabat untuk menemaniku. Mereka bilang,” Kau terlalu sombong dengan kekuatanmu. Tidak lebih baikkah, kau bagi ceritamu padaku?”

Maaf kawan ! Bukan aku tak menghargai kesetiakawananmu. Namun, aku telah sepenuhnya nyaman berbagi cerita hanya pada Nya. Karena tak ada hijab yang membatasi, entah itu waktu atau tempat . Kapanpun, dimanapun…aku tak jeda mengetuk ijin Nya untuk aku sampaikan desah keluhku, saat memang aku membutuhkan “ruang” yang lebih luas untuk menumpahkannya. Dan “ruang” itu adalah cinta Nya, yang terwujud oleh sifat Penyantun Nya yang semakin membuat hatiku bergetar.
Kawan, di senja ini telah ku bagi satu cerita lagi dengan mu. Ringan rasanya jiwa ini, terang kiranya fikiran ini, lapang rasanya hati ini…seolah telah kuenyahkan segala yang menyesakkan. Meski tak semua.

Akhirnya waktumu pun digulir oleh malam. Dan saatnya aku pun pamit. Terimakasih untuk senja yang indah ini. Moga esok, keindahan senja ini pun akan ku jumpai lagi. Amiiin. Amsaina wa amsal mulku lillah walhamdulillahi laa syariikalahu.
- Pemburu Syahid -

Ketika Perempuan Mengambil Peran


Ada sebuah statement yang menggelikan dalam sebuah diskusi sebuah kelompok pergerakan. Seorang laki-laki (menikah) berkata seperti ini“ Silahkan para akhwat itu mengambil peran, tetapi jangan istri saya,” LHO ???? What does it mean ?
Ya, saya yakin kita semua sudah bisa menebak jalan berfikir si bapak tadi. Tidak semua orang (terutama laki-laki) setuju ketika perempuan mengambil peran di luar peran domestiknya. Seorang perempuan (menikah, dengan tiga anak) menyampaikan, “Sebenarnya itu adalah permasalahan klasik yang kemudian mementahkan potensi akhwat.” Ehm, permasalahan klasik yang dilumrahkan.

Dilumrahkan, karena ketika perempuan mengambil peran lebih, maka hal itu seolah menjadi ancaman akan peran domestiknya. Para lelaki itu mengkhawatirkan mereka akan sulit membagi waktu atau kewalahan memanage urusan rumahnya. Satu hal yang menggelitik di sini, “kewalahan memanage urusan rumahnya.” Seakan ada sebuah doktrin bahwa tugas memanage rumah adalah absolutely tugas perempuan. Tugas rumah yang tidak ada masa cutinya, ternyata sebagian masyarakatpun sepakat itu adalah wilayah kerja perempuan.

Bahkan, bagi sekelompok orang yang menyatakan dirinya adalah kelompok pergerakan da’wah, menjadikan sebagian perempuan (akhwat) di dalamnya hanya sebatas “penggembira” saja. Tidak semua ikhwan, ternyata dalam aplikasi amalnya, memposisikan perempuan (istrinya) sebagai partner yang bisa di ajak berbagi, bertukar ide, dan saling menguatkan akan amanah umat yang menguras kerja otak. Cukup di rumah, itu kata sebagian mereka. Dan tak sedikit pula yang “mengancam” istrinya yang aktif di luar dengan statement yang membuat para istri itu “scakemat”, POLIGAMI. Jadilah poligami itu menjadi monster yang menyeramkan bagi para istri.
Seorang akhwat lajang dengan terheran-heran bertanya, “ Ko’ bisa seperti itu, bukankah mereka orang-orang yang tertarbiyah ? Harusnya mereka mengerti dengan peran da’wah istrinya dan mendukungnya. “ Sayang, tarbiyah saja ternyata tidak cukup. Karena tarbiyah tidak selalu berhasil mereduksi karakter negatif seseorang. Tak salah kemudian jika, kita perlu melihat latar belakang pendidikan seseorang di dalam keluarganya. Bagaimana orangtuanya memperlalukan anak laki-lakinya. Itulah yang akan membentuk karakternya, yang akan berefek bagaimana ia memperlakukan orang lain, serta anak dan istrinya. Apakah dia termasuk ke dalam orang-orang yang terbawa pada sebuah “doktrin” bahwa tugas kerumah tanggaan adalah tugas perempuan? Apakah jalan fikirnya mampu menggerakkan tangannya membersihkan panci dan piring-piring kotor di dapur? Atau tanggap ketika anak-anak rewel, dari tingkat merengek, nangis sampai di antara mereka ada yang gulet. Tak semua, dengan artian masih ada di antara mereka.
Untuk hal ikhwal tentang peran managerial dalam rumah tangga, pernah diadakan semacam kajian khusus, namun lagi-lagi under estimate statement itu kembali mencuat, “ Ngapain ngomongin masalah itu? Ga penting. Lagian itu kan wilayah kajian kaum istri.” IRONIS. Bukankah ketika dua orang berkomitmen untuk membentuk sebuah keluarga kecil, artinya ada sebuah kesepakatan kerjasama satu sama lain? Pernah suatu ketika mendengar cerita tentang “proses” orang-orang yang akan menikah. Ketika di adakan dialog diantara keduanya, dijelaskan tentang aktivitas calon istrinya, dan ditanyakan bagaimana jika setelah menikah nanti, istrinya tidak hanya berkutat pada peran domestik saja? Jawaban mayoritas adalah “itu bisa dikomunikasikan.” Namun banyak juga jawaban yang masih menggantung.

Dan kemudian ? Jawaban di awal tadi, banyak yang amat jauh dari harapan. Lalu apa artinya? Ternyata tidak ada kesiapan. Kesiapan mental, karena terlalu banyak terkaget-kaget. Tidak siap ketika istri berbagi waktu di luar. Dan sekali lagi, karena most of them do not comprehence or do not want to comprehence tentang hal ikhwal kerumah tanggaan, kemudian keluarlah dalih, “ Sudahlah di rumah saja. Biar saya yang di luar. “

Kesiapan di awal, yang dengan cepat tergilas seiring dengan berjalannya usia mereka dalam kebersamaan. Dan inilah yang kemudian masuk dalam daftar evaluasi, apa yang dimaksud dengan kesiapan itu? Dan sejauh mana kesiapan itu disiapkan? Jangan-jangan hanya semangat nikahnya aja yang gede, sehingga membutakan diri, bahwa sesungguhnya dirinya belum siap. Terutama kesiapan menghadapi segala sesuatu yang jauh dari harapan. Tentang hal-hal yang pahit yang mungkin akan cepat menghiasi di awal perjalanan.
Kawan, sahabat dan saudaraku semuanya, kita di sini, di komunitas yang menamakan diri sebagai komunitas pembaharu, kita fahami tentunya perlu kerja jama’i yang seimbang. Laki-laki dan perempuan, semuanya memiliki tuntutan yang sama. Keduanya adalah manager. Ketika da’wah ini dikembangkan, mayoritas pendukungnya adalah perempuan. Tidaklah bijak, jika kemudian peran potensial perempuan dalam memperbaiki umat ini terkikis, karena doktrin yang “mematikan.” Bagaimanapun perempuan tetap memiliki andil dalam melakukan perbaikan. Minimalnya, mereka bergerak untuk perbaikan perempuan. Karena permasalahan perempuan, hanya perempuan yang bisa menyelesaikan. Semakin meningkatnya grafik wanita rawan sosial ekonomi, yang kemudian berimbas pada perdagangan manusia, tidak cukup diselesaikan oleh tangan laki-laki.

Bagi perempuan lajang, mengambil sebanyak mungkin peran di masyarakat, mungkin adalah sebuah hal yang mudah dan tidak memberatkan siapapun. Namun bagi perempuan menikah, ini tentu perkara yang harus kembali dipertimbangkan. Kembali kepada komitmen, pemahaman dan juga yang paling penting adalah pengertian untuk saling bahu-membahu. Persiapan dan pematangan bukan hanya harus dilakukan oleh perempuan, tetapi juga laki-laki.Karena pada hakikatnya keduanya actor yang akan memainkan “drama” rumah tangganya. Wallahu’alam.

Minggu, 01 Agustus 2010

Berkorban Karena Cinta

oleh Syahidah Lamno

“ Katakan bahwa engkau mencintaiku,” ungkap seorang sahabat suatu hari. “Maaf, aku bukan tipe orang yang mudah mengucapkan cinta atau sayang, bagiku keduanya tak musti diungkapkan, yang penting adalah perbuatannya.”
Dua persepsi yang berbeda, dari dua orang yang memaknai cinta. Satu, dia berpendapat cinta adalah kata yang selayaknya diungkapkan sebagai pembuktian, sedangkan orang kedua, cinta tidak musti di ungkapkan, yang penting adalah perbuatan. Cinta baginya adalah kata kerja yang memang hanya bisa diterjemahkan dengan perbuatan. Tak perlu mengumbar kata-kata manis, cukup dengan perbuatan yang mewakilinya.
Memang, teladan kita, Rasulullah saw, pernah mengatakan kepada kita, kurang lebih seperti ini, “ Jika engkau mencintai saudaramu, maka sampaikanlah, itu akan mengukuhkan hubungan diantara kalian.” Satu anjuran yang indah, dan rasional. Ungkapan cinta, akan sangat berdampak positif pada psikologi seseorang. Memberikan asupan “energi” yang luar biasa. Membuat bibir manyun menjadi senyum, membuat hati yang mendung menjadi bersinar seperti mentari. Segalanya menjadi indah, itu intinya.
Namun, ternyata tidak semua orang mampu mengungkapkan kata itu. Hal ini pula yang kadang menjadi permasalahan di antara orang-orang yang saling mencintai. Seperti kisah di atas. Dan, alangkah bijaknya, bila setiap kita tidak terlalu banyak menuntut orang yang kita cintai untuk berbuat seperti keinginan kita. Perbanyaklah berbuat, itu pun akan lebih mampu mengukuhkan.
Apalah artinya kata jika tanpa pembuktian ?
Ketika kita bertekad untuk mencintai, bertekadlah untuk memberi. Memberikan pengorbanan. Pengorbanan waktu, tenaga, fikiran, harta dan apa saja yang kita miliki. Alaminya, semangat berkorban itu, bahkan lebih kuat mendorong untuk segera dilakukan, dari pada lisan yang mendorong untuk mengatakan. Perbuatan secara tidak langsung adalah terjemahan hati, tetapi kata, tidak selamanya adalah bukti isi hati.
Kekuatan cinta yang hadir di dalam sebuah hati, sejatinya membuat segumpal hati itu berbuat untuk hati yang di tautkan. Tak mustahil ketika hati kemudian mengalah untuk kebahagiaan hati tertaut atau menangis demi senyum hati yang tertaut. Ia kuat karena cinta yang ikhlas. Tak menuntut ketika cinta tak berbalas, atau mencaci ketika cinta dikhianati.
Teringat kesetiaan cinta Abu Bakar Ash Shiddiq kepada sahabat tercinta, Rasulullah saw. Nyawa menjadi taruhan dalam setiap peristiwa. Hati lembut Abu Bakar yang tersentak ketika kekasihnya itu mengisyaratkan perpisahan pasca haji wada’. Tangispun tak sanggup dibendung. Pecah seketika. Pun Rasulullah, yang tak ragu menyatakan cintanya kepada Abu Bakar di hadapan sahabat yang lain. Namun, tetap indah, tak ada dengki apalagi sikap cemburu yang membabi buta. Keikhlasan cinta yang tumbuh, tak mengeruhkan sikap. Justru menghadirkan perlombaan cinta yang begitu kompak di antara mereka.
Cintailah saudara kita dengan kecintaan yang ikhlas dan adil. Cinta yang tak hanya kita semai di dunia ini namun juga di hamparan hijaunya taman Firdaus. Semoga.

Jumat, 30 Juli 2010

Jangan Pandang Mereka Sebelah Mata


Mendung siang itu, hari ke enam bulan Juni. Saya, dan dua teman saya beranikan diri untuk bersilaturahim dengan para penghuni BPSW (maaf lupa kepanjangannya, yang pasti itu adalah panti rehabilitasi PSK) di daerah Cirebon Utara. Itu adalah kali kedua kami mengunjungi tempat itu. Namun karena mungkin rentang waktu yang cukup jauh, rasanya sangat segan kaki ini memasuki gerbang tempat itu.
Di pintu masuk, ada beberapa laki-laki berbadan kekar yang bertugas sebagai BANPOL. Uuuh…syereeeeem. Suasana aneh mulai menyeruak saat satu demi satu ruangan di tempat itu saya masuki. Tepat, setelah itu, tempat terbuka berupa lapangan kecil yang dikelilingi kamar-kamar yang telah dipenuhi sekitar 130 PSK terekrut. Entah kenapa, jantung ini tiba-tiba berdegup sangat kencang, nyali ini tiba-tiba menciut saat saya melihat beberapa di antara mereka yang sedang duduk-duduk di teras kamar mereka, dengan pakaian dan dandanan yang ….yaaa....gitu deh.
Alhamdulillah, akhirnya kami bisa menemui ‘umi’ yang mengelola tempat itu, namanya teh Ineu. Kebetulan beliau adalah kakak dari salah satu temanku yang ikut ke tempat itu. Kami pun ngobrol panjang lebar. Penghuni BPSW adalah seluruh PSK yang berhasil dijaring se-Jabar. Ada dari Bekasi, Karawang, Bandung, Tasik, Garut dan juga tentunya Cirebon. Namun untuk Cirebon hanya ada sekitar 30% dari 130 yang terekrut.
Mereka akan dibina di tempat itu selama kurang lebih 4 (empat) bulan, dengan pembekalan berupa latihan karya seperti masak, jahit dan …ah, maaf lupa satunya lagi. Setelah pembinaan selesai, mereka pun akan dibekali modal awal sesuai dengan karya yang mereka tekuni selama 4 bulan itu. Misalnya, jika mereka di bidang menjahit, mereka akan dibekali mesin jahit dan kain sebagai modal awal mereka berusaha.
Cukup menolong, tapi ternyata tidak cukup efektif merubah mereka. Tidak sedikit dari mereka yang kembali ke pekerjaan awal mereka, ‘jualan.’ Bukan permasalahan yang mudah untuk diselesaikan, apalagi dengan memandang bahwa dengan ‘mensejahterakan’ mereka, semua akan beres. Ini memang kekurangan yang tidak difikirkan oleh BPSW. Tidak ada pembaharuan ruhiyah di tempat itu. Ketika coba saya tanyakan, jawabannya sangat menggantung. Ya, apa boleh buat. Kepalanya saja tidak memikirkan tentang itu. Dan memang ketika saya mengamati orang-orang yang bertanggung mengelola tempat itu, ehm… sangat jauh dari teladan.
Kecuali teh Ineu dan suaminya. Keberadaan teh Ineu di situ, hanya menjadi imam shalat dan memberikan ceramah keagamaan seminggu sekali. Mana cukup? Namun setidaknya dengan kedekatan emosional yang bagus dengan mereka, bisa membuat mereka berkaca.
Bukan hal mudah mendekati dan membuka komunikasi dengan mereka. Butuh kekuatan mental dan kecakapan yang baik, yang bisa menggaet hati mereka. Membuat mereka berfikir panjang dan dalam tentang makna kehidupan. Banyak di antara mereka yang masih sangat muda, di bawah 15 tahun. Masa muda yang suram. Pun mereka yang berusia 40 tahun ke atas. Ehm…apa sebenarnya yang mereka fikirkan dan mereka cari di usia yang hampir senja itu.
Ada sedih, marah dan entah perasaan macam apa yang saya rasakan ketika mendengar cerita tentang mereka. Tentang latar belakang mereka menjadi tukang ‘jualan.’ Ada yang disuruh suaminya, orang tuanya, karena memang tidak ada pekerjaan lain, sampai ada yang hanya karena hobi. WHAT ???? hobi ???? Innalillahi …..
Satu hal yang menjadi pesan teh Ineu, jangan pandang mereka sebelah mata. Apa yang mereka lakukan memang sesuatu yang sangat hina dan dilaknat. Apalagi dengan ancaman penyakit yang belum ada penyembuhnya. Namun, mereka adalah wanita-wanita ‘special need.’ Siapa yang akan merubah mereka kalau bukan kita? Mengharapkan pemerintah tanggap? sangat mustahil.
Itu adalah kasus yang menjadi kewajiban kita sebagai muslimah. Dan selayaknya kita segera mengambil peran. Bukan dengan cercaan kita mengomentari mereka, namun dengan gagasan dan program solutive yang mampu mengeluarkan mereka dari jerat setan yang menguasai mereka.
Dan semoga kita tak pernah memikirkan mereka. Tak cukup memikirkan tentunya, namun juga berbuat untuk mereka. Ambillah peran itu, karena itu adalah kewajiban kita. MARI BEKERJA !!!

Jumat, 23 Juli 2010

Jangan Panggil Aku Arab bag.3

“ Maaf mi, di kampus lagi banyak kerjaan. Lagian saya sudah ngajar, masa bolos lagi.” Muthi menjelaskan pelan.
“Yo wis lah terserah kamu aja …tapi pesan umi tadi, kamu pikirkan matang-matang ya …Jangan terburu-buru ngambil keputusan.” Umi pun berlalu meninggalkan Muthi’
Di teras rumah, Muthi’ tertegun. Pikirannya tak karuan, batinnya berkecamuk hebat. Siapa yang bisa memahami perasaannya ? Tidak ada. Semua tentang dirinya, dia simpan sendiri. Ingin sekali dia berlari dan berteriak sekeras mungkin, agar dia bisa memuntahkan semua yang ada dalam dadanya. Tapi …semua tak akan berarti apa-apa.

****

Selepas shubuh, Muthi sudah siap dengan tas ranselnya.Dia berpamitan dengan uminya dan kakak-kakaknya. Tak ada yang istimewa di pagi itu. Harapan Muthi’ yang mau tidak mau harus dia akui adalah ingin sekali dia sesekali di manja oleh uminya. Tapi, tidak mungkin. Dan Muthi’ pun sadar, dari mana dan di mana dia dibesarkan. Sepanjang perjalanan, di bus ekonomi yang jauh lebih tenang dari pada ketika ia pulang, Muthi’ termenung menatap jalan yang dilewati. Air matanya kembali menetes. Dia tak bisa membohongi dirinya. Rasa iri pada teman-temannya yang senantiasa bercerita tentang kedekatan mereka dengan ayah dan ibu mereka. Hubungan yang lebih indah ketika digambarkan selayaknya hubungan antara teman yang saling menguatkan. Tidak kaku, lepas, penuh canda dan kehangatan yang luar biasa. Ingin sekali dia merasakan itu semua. Namun…. sangat tidak mungkin baginya. Hal itulah yang membuatnya merasa sendiri. Dia membutuhkan teman yang mampu membuat jiwanya terbang bebas, tertawa lepas dan menangis bahagia. Oh …tidak. Lebih tepatnya dia membutuhkan seseorang yang akan selalu menemani hari-harinya. Menguatkan langkahnya dan membawanya pada kebahagiaan yang kekal sampai ke syurga Nya. Tangisnya pun semakin menjadi, ketika ia kembali memikirkan masa depannya. Harapan-harapannya yang sekali lagi tak sejalan dengan keinginan uminya. Ia membatin …
“ yaa Allah …inikah jawaban kebingunganku selama ini…? Apakah harapanku selalu tak seindah takdir yang Kau buat untukku? Yaa Rabb… katakanlah apa yang harus aku lakukan?”…. air matanya semakin deras mengalir. Dia coba menenangkan diri, setelah ditegur oleh kondektur bus yang mengecek karcis penumpang.
Kini ia semakin memahami apa yang dirasakannya selama ini. Perasaan yang sebenarnya tidak boleh dimilikinya. Namun dia hanya manusia. Tidak mungkin dia mengingkari fitrahnya, toh selama ini tidak pernah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Setibanya di Surakarta, semangatnya kembali memuncak ketika melihat teman-temannya yang sedang bermain dengan adik-adik jalanan di rumah singgah. Sesaat, seolah air mata yang sedari tadi banjir, terseka oleh senyuman yang mendadak sumringah. Dan duka pun seolah menguap ke angkasa. Halah…lebay. Ya, seperti itulah yang dirasakan Muthi’.
“ Hore …mba Muthi’ pulang…!!!! Ozan berjingkrak melihat Muthi’ pulang.
“ Mba bawa oleh-oleh dari Semarang nda …? “ Ozan langsung menagih.
“ Waduh, maaf Zan, mba nda sempet. Soale tadi buru-buru habis shubuh mba langsung terbang …” Muthi’ merunduk di depan Ozan.
“ Ozan, mba Muthi’ nya kan baru datang, ko’ udah di todong. “ Mba Indi menghampiri Ozan dan Muthi’ yang bertatap seperti melepas rindu satu bulan tak berjumpa.
“Muth, kamu istirahat dulu sana, tuh ..mata kamu kelihatan sayu. Pasti masih ngantuk.”
“ Ya mba, saya emang pingin istirahat. Tadi di bus pusing banget.”
“ Ozan, mba Muthi’ istirahat dulu ya… entar sore kita cerita lagi. Oce …???? Muthi’ mengacungkan dua jempolnya.
“Ocelah kalo begitu ….” Ozan membalas dengan dua jempol mungilnya.
Di kamar atas, Muthi’ menarik nafas panjang. Setidaknya fikirannya tidak lagi disibukkan oleh masalah beberapa jam yang lalu. Sejenak, ia pun berfikir. Apa yang harus dia lakukan? Ini harus segera diselesaikan. Apa ia perlu ceritakan hal ini pada mba’nya? Tapi apakah solutif? Yang ada malah nanti disuruh memutuskan sendiri. Huuuh … what should I do ? Muthi’ pun terpejam.
Selepas dhuhur, di ruang tamu, terlihat Ozan dan teman-temannya ramai membaca iqro’. Sementara itu, Muthi’ pun hanyut dalam lantunan surat Al Ahzab. “ Anak-anak … ayo waktunya makan siang !!!” Makanan sudah siap, ayo …!!! siang itu giliran mba Fani menjadi korlap untuk makan siang. Muthi’ hanya tersenyum melihat anak-anak langsung menyerbu ruang makan.
“ Muth’ baca qur’an opo ngelamun ? Mba Fani menegur.” Ayo makan. dari tadi juga belum kedengeran suaranya.”
“eh .. mba Fani. Ya, nanti aja mba. Belum laper.”
“ Yah nunggu laper, makanan juga udah habis.”
“ Nda apa-apa mba …. Mba makan aja dulu. “
“ Ya udah …mba masuk dulu ya …”. Muthi’ hanya membalas senyum.
Pikiran Muthi’ kembali berputar-putar, ia harus melakukan sesuatu agar hatinya benar-benar tenang. Tangannya merogoh saku gamis hitamnya. Setelah dapat, ia segera pencet-pencet tombol hpnya. Sejenak ia mikir, mencoba merangkai kata-kata yang pas dan tepat sasaran. Dan, terkirimlah smsnya …
“ Ayo dong mba Hesti, balas. Ojo suwe-suwe ….”. Muthi’ gelisah.
Lalu …
“ Muthi’ besok ada agenda jam 13? Kalo nda ada, mba tunggu di rumah ya …kita bicarakan dengan hati dan fikiran yang tenang, gimana? “ akhirnya mba Hesti menjawab.
“ Insya Allah mba …” . Sms terkirim ….
Muthi’ sedikit lebih tenang setelah mendapat jawaban dari mba Hesti. Orang yang dituakan dan sudah dianggap seperti kakaknya sendiri, bahkan lebih dekat dari saudara kandung. Ia pun kembali larut dalam lantunan Al Ahzab. Surakarta saat itu pun terasa lebih adem ….
“ Muth, nda makan ?” Mba Indi tiba-tiba sudah berdiri di belakang Muthi’.
“ Eeh …mba, nda laper mba.”
“ Kamu lagi ada masalah ya …”
“ Nda ko, oh ya… persiapan OMB gimana? Akh Ridho’ udah kasih penjelasan?”
Mba Indi tersenyum, “ Kamu tuh memang pinter mengalihkan pembicaraan. Bagaimanapun mba nda bisa kamu bohongi Muth. Yah…besok jam 9 kita syuro di sekre. Kamu penanggungjawab buat program tutorial. Besok kalo bisa udah ada konsepnya. “
“ Insya Allah mba.” Muthi’ menanggapi dengan senyum semangatnya.
“ Muth, mba pingin ngobrol sesuatu sama kamu. Tapi kaya’nya enakan di luar aja ngobrolnya. “
“ Boleh.”
Di bawah pohon mangga, Muthi dan mba Indi duduk berdua di atas kursi kayu sederhana.
“ Gini Muth, mba ingin menyampaikan sesuatu yang cukup rahasia. “
“Rahasia ???? tentang apa?
“Tentang mba. Kenapa mba mau cerita rahasia mba ke Muthi’, karena mba rasa kita sudah seperti kakak-adik. Suka dan duka sering kita bagi bersama. Jadi tidak ada salahnya mba pun ingin berbagi dengan Muthi’ . Dan juga mba yakin, Muthi’ bisa jaga rahasia ini. “
“Insya Allah mba.”
“ Tapi Muthi’ jangan kaget denger cerita mba ya …”
“ emang apaan sich …” Muthi’ tidak sabar ingin denger cerita mba Indi
“ Ehm … tiga hari yang lalu …. mba “ditembak”.
“ WHATTTT !!!!”
“ tenang Muth ….Mba “ditembak” tapi tidak langsung. Mba Tri yang bilang ke mba, bahwa…ada ikhwan yang minta mba untuk menikah dengannya.”
“ Boleh Muthi’ tahu siapa ikhwannya ?”
“ Ya, Muthi kenal ko’ orangnya ….Faturrahman Ridho’.
Betapa shocknya Muthi’ mendengar nama itu disebut. Nama yang selama ini dia harapkan akan menjadi pengukuh namannya saat berita besar itu dikabarkan ke seantero kota. Dan kini …Yah ….dia memang pantas mendapatkan yang terbaik. Dan mba Indi adalah aktivis yang cukup loyal dan terbaik di mata teman-teman di LDK dan juga di kampus. Cocok.
“ Muth, kamu nda apa-apa kan ?”
“ nda, saya nda apa-apa. Ko’ bisa akh Ridho ?” ah …dia membatin, kenapa harus bertanya seperti itu.
“ Entahlah Muth …mba juga kaget. Jujur mba nda menyangka beliau bakal berani meminta mba. “
” Maksudnya ….? “
Mba Indi menatap Muthi’ lama dan penuh cemas ….
“ Muth …. jujur selama ini mba pun pernah mengharapkan beliau. Yah …mungkin mba terlalu GR dengan sikapnya yang mba rasa sedikit berbeda kepada mba.”
Muthi’ semakin shock dengan pernyataan mba Indi. Namun ia mencoba tenang.
“ Mba pernah sampaikan ini ke …”
“ Ya ..udah. Mba Tri meminta mba untuk menetralkan semuanya. Dan … ya, agak susah Muth. Sampai akhirnya beliau ternyata datang. Tapi Muthi’ percaya sama mba ya, mba dan beliau tak pernah terjadi apapun ….”
“ Ya ..Muthi’ percaya. Terus … kapan ?
“ Insya Allah pekan depan mba di khitbah. Dan rencana akadnya maksimal akhir bulan depan.”
“ Subhanallah, cepat sekali. Mudah-mudahan dimudahkan segalanya. Terus rencana ke depan, mba mau kemana ? “
“ Itu belum dibicarakan Muth, kemungkinan masih di sini, tapi afwan, nda di rumah singgah lagi.”
“ ya iyalah…masa pengantin baru tinggal di rumah singgah. Kasihan amat sich …”
“ Haaa …haaa..haaaa.,” keduanya tertawa lepas, memecah kesunyian yang sedari tadi menemani.
“ Alhamdulillah, udah ashar mba, hayu masuk. Mba jadi korlap ya … kan untuk yang terakhir sebelum pergi …”
“ Muthi’ … mba nda ingin pergi dari sini. Mba ingin selalu di sini, bersama Muthi’ dan anak-anak itu …”
“ Udah …jangan bikin saya nangis. Barokallah ya …” Muthi merangkul mba Indi dan menggandengnya masuk.
Seperti biasa anak-anak mulai heboh mempersiapkan diri untuk shalat. Mba Indi giliran jadi korlap, kelihatan kerepotan menghadapi anak-anak yang ramenya luar biasa. Terpaksa deh peluit dibunyikan. Dan …. shalat Ashar pun berjalan dengan tenang.
Selepas shalat Muthi’ langsung menuju kamarnya. “ Mba Muthi’ katanya mau cerita lagi….? Ozan mencegah.
“ Oh ya … ehm, ceritanya sama mba Indi dulu ya…Insya Allah, besok sore dech ..mba cerita yang seru-sere, oce …” .
“ Yah, ya udah deh. Ozan berbalik dengan kecewa. “ Muthi’ terlihat menyesal menunda ceritanya sore itu. Tapi apa boleh buat. Ia harus mengejar deadline konsep tutorial.
“ Maafkan mba ya de ….”. Muthi’ pun berbalik ke kamarnya.
Tiga halaman mushafnya selesai dibaca. Sejenak, dia memikirkan pembicaraannya dengan mba Indi tadi siang. Huuh …. “ Yaa Rabb, kenapa selalu ada kebuntuan di saat aku membutuhkan pemecahan…? Ia membatin. Ia termenung menatap awan yang indah berarak di langit sore, dan air matanya pun menetes.
” TIDAK !!!! aku tidak boleh seperti ini. Dia bukan segala-galanya, dan dia bukan yang terbaik untukku. Hanya Allah yang terbaik untukku dan aku yakin akan iradah Nya yang tak pernah salah. “ Muthi’ mengepalkan tangannya, menyemangati diri.
Segera ia buka notebooknya, menyusun program untuk tutorial. Besok harus dipresentasikan. Jari-jarinya yang kurus lincah memainkan tombol keyboard menterjemahkan semua isi kepalanya. Sesekali ia terdiam, setiap kata yang disampaikan mba Indi tadi siang, masih berputar-putar di kepalanya. Kembali ia mencoba mengembalikan konsentrasinya menyelesaikan program yang sedang disusunnya. Sore itu, rintik hujan mulai meramaikan genteng-genteng rumah. Bibirnya tersenyum simpul.
“ Ahhh …aku sangat senang mendengar suara rintik itu. Damai …. nulis dulu ah !“ Muthi’ bergumam dan ia mencoba menguraikan kata-kata demi kata yang saat itu menguasai ruang hatinya yang melankolis.
…….
Tahukah engkau bahwa aku begitu menyukai langit ?
Aku menyukai birunya yang semangat …
Aku menyukai putih awannya yang bijak bergerak
Aku menyukai hamparan luasnya yang lapang terbentang …

Tahukah engkau ….betapa aku mengagumi bulan?
Aku mengagumi kemantapan tahtanya yang menyanding benda-benda angkasa yang anggun bercahaya …
Aku mengagumi sabitnya yang redup menyusup
Aku mengagumi purnamanya yang hangat memikat

Tahukah engkau betapa aku mencintai hujan?
Aku mencintai suara merdunya yang mengguyur rumah-rumah dan perkampungan
Aku mencintai sejuk tubuhnya yang menyelimuti dunia
Aku mencintai ramah wajahnya yang menyentak keresahan

Tahukah engkau …betapa aku terpukau pada hutan ?
Aku terpukau hijaunya yang permai
Aku terpukau pada teduhnya yang senantiasa …
Aku terpukau pada penghuninya yang beraneka ….

“ Subhanallah, indah sekali suasana seperti ini. Yaa Rabb … jangan biarkan damai ini pergi. Jangan biarkan semuanya berlalu. Hanya pada Mu, tempatku berteduh dari semua kepalsuan dunia …” Amin.
Sore itu, Muthi’ kembali mengumpulkan semangatnya. Ia tidak mungkin terus terpuruk oleh kesedihan. Hujan menemani dengan riuhnya yang semangat bertasbih. Jari-jarinya semakin semangat memuntahkan isi otaknya dengan memainkan tombol-tombol keyboardnya. Hujanpun berhenti seiring dengan kembalinya sang surya ke peraduannya. Dan lirih adzan maghrib mulai bersautan. Muthi’ pun segera mengakhiri pekerjaannya.
“ Ayo anak-anak … siap-siap !!!! mba Urwah mulai mengomandoi shalat Maghrib.
“ Ayo Muthi’ giliran kamu jadi imam …”
“ Yuuukkk …”
Rapih …indah… khusyu’… Surakarta baru saja diguyur hujan. Keheningan yang menyergap di waktu maghrib itu menyeruak ke dalam jiwa-jiwa yang tenang dan menenangkan. Serak suara sang imam maghrib itu semakin menambah kesyahduan. Satu per satu isak tangis kekhusyu’an pun menghanyutkan jiwa-jiwa itu pada penghambaan yang tulus. Dan ….
“ Alhamdulillah…” mba Urwah berbalik ke arah anak-anak membimbing mereka berdo’a. Dan bersiap untuk makan malam.
“ Ayo anak-anak .... waktunya makan malam. nanti habis itu langsung siap-siap lagi buat baca Asma’ul husna dan shalat Isya’. Oke …!!!!
“ OOOOKEEEEE !!!!!” paduan suara yang sangat nyaring bunyinya.
“ Ayo Muth’ makan, perasaan nda lihat kamu ikut makan siang? Kenapa ? Diet ?”
“ Diet? mau jadi kaya’ apa kalo aku diet mba? ntar dikira tiang listrik berjalan. Hayu makan …”
Lucunya melihat anak-anak itu makan. Apalagi si ustadz kecil Ozan … Ah…anak itu memang jadi hiburan tersendiri di rumah singgah itu.
“ Mba Muthi’ ntar habis shalat Isya’ belajarin bahasa Inggris ya …”
“ yaa pak ustadz …PR yang waktu kemarin dah di kerjain belum ? “
“ Udah donk mba …kan Ozan anak yang rajin, betul ..betul…betul …? “
“ Huuuh …. “ Wahyu menimpali.
“ udah, yang rajin sama yang nda rajin, yang jujur sama yang bohong nanti juga ketahuan sendiri. Dan juga akan ditanggung sendiri akibatnya. jadi kalo kita pingin rajin, nda usah bandingin dengan teman-teman yang nda rajin, yang enak-enakan main. Allah sangat suka dengan anak-anak yang rajin menuntut ilmu. Mau nda disukai Allah? “
“ Mauuuuuu ….. !!!” kompak.
“ Mba Muthi ….mba Muthi …Luthfi besok naik ke Iqro’ enam lho …”
“ Oh yaaa… alhamdulillah. Yang makin yaa nak. “ Muthi’ mengelus kepala bocah kecil itu.
“ Yap ….ayo makan jangan sambil bersuara. Yang udah selesai siap-siap ke tempat shalat lagi.” mba Urwah memang korlap yang disiplin.
Mba Fani dan Muthi’ membereskan ruang makan, sementara itu anak-anak bersiap ke tempat shalat di komandoi mba Urwah dan mba Indi.
“ Yaa Allah ..yaa Rahman, yaa rakhiim yaa Malik …yaaa Kudus …yaa Salaam…yaa Mu’min…yaa Muhaimin ….” lantunan asma’ul husna mulai terdengar. Suara polos anak-anak itu cukup membuat merinding dan menyentak ke hati.

to be continued ...

Dulu dan Sekarang

DULU DAN SEKARANG
“Kontemplasi Gerakan”

“Sejarah adalah catatan statistik tentang denyut hari, gerak tangan, langkah kaki dan ketajaman akal.” ( Malik bin Nabi )

Dua belas tahun reformasi. Dua belas tahun yang lalu, bangsa ini telah memuntahkan darah segar pemudanya. Ibu pertiwi seperti menepati janjinya. Janji untuk melahirkan anak-anak yang setia pada cita-cita luhurnya, anak-anak yang membawa keberanian di tengah ketakutan, mengibarkan bendera perlawanan terhadap penindasan, anak-anak yang memberikan darah dengan tulus sebagai mahar untuk kebebasan dan keadilan, anak-anak yang meninggalkan masa mudanya dengan panuh cinta untuk hidup dalam debu dan deru jalanan, bahkan menyerahkan hidupnya untuk bangsa ini bisa hidup dengan cara yang lebih baik. (Anis Matta, Dari Gerakan ke Negara).
Semangat itu, rasanya ingin sekali hadir di tengah zaman saat ini. Tidak bermaksud untuk beromantisme sejarah, namun sadarkah diri kita dengan degradasi semangat pemuda Islam ? Zaman besar telah dilahirkan abad, tetapi zaman besar itu hanya menemukan manusia kerdil (Friedrich von Schiller). Kita pun ingat dengan sejarah tarbiyah, bagaimana ia diperjuangkan. Sungguh luar biasa. Mungkin di antara kita ada yang pernah mendengar cerita para generasi pertama pejuang tarbiyah di negeri ini. Jarak yang harus mereka tempuh untuk menikmati tarbiyah, bukan lagi antar desa, namun antar kota. Belum lagi intimidasi dari rezim diktator. Tarbiyah yang dilakukan dengan sembuyi-sembunyi, kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi, itulah yang membuat meraka memiliki jiwa-jiwa yang tak mudah menyerah, tsabat, tak mudah menyerah, kekuatan militansi yang tinggi sehingga, sampai kepada kita saat ini sebagai generasi penerus.
Memang iman tak dapat diwariskan. Pun dengan militansi. Kondisi dulu dan sekarang yang sangat jauh berbeda, ternyata pun sangat mempengaruhinya. Ketika da’wah memasuki tataran siyasi, tarbiyah yang seharusnya menjadi penguat, seolah ia kini hanya menjadi rutinitas pekanan yang tiada ruh di dalamnya. Dan hasilnya, banyak dihasilkan kader-kader prematur yang pasif dan nyaris selalu memerlukan instruksi untuk menjalankan sebuah amal. Fitnah yang Allah hadirkan di tengah-tengah da’wah ini berupa kemudahan, kuantitas yang semakin bertambah, ternyata tidak kita sadari telah melemahkan salah satu sendi kekuatan da’wah ini. Nashr minallah, idealnya menjadi peluang da’wah yang lebih masif. Namun, tidak semua petarung da’wah ini memahaminya.
Tarbiyah, sebagai tuntutan dalam mempertahankan eksistensi, merupakan sisi yang paling fundamental dalam da’wah. Ketika da’wah mengalami kemunduran karena semangat para petarungnya yang melemah, maka indikasi pertama adalah karena melemahnya tarbiyah di dalamnya. Teringat kisah perjuangan tentara Muslim melawan tentara Romawi. Dengan kondisi persenjataan yang sangat minim dan sedehana, serta kuantitas yang tidak sebanding, seorang di antara tentara Muslim, berkata kepada Umar bin Khattab. Wahai Umar, “ Bagaimana kita akan memenangkan pertarungan ini? sedangkan persenjataan kita sangat sederhana dan jumlah teramat sedikit?” Maka Umar pun menjawab, “ Sesungguhnya yang aku takutkan dari pertarungan ini, bukan karena kekalahan yang disebabkan oleh kekurangan senjata dan tentara yang sedikit, namun aku takut jika kekalahan kita adalah karena ma’shiat yang dilakukan oleh kita. “
Satu kunci, bahwa kuantitas yang banyak dan penguasaan teknologi, bukanlah sebuah sisi yang paling penting dari da’wah ini (meski hal itu pun diperlukan dalam era d’wah kontemporer). Namun yang paling penting adalah kualitas para petarungnya. Sebagaimana Allah mengingatkan kita dalam surat Ali Imron ayat 146 – 148 :
“ Dan berapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikutnya yang bertaqwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak pula menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.”
“ Dan tidak lain ucapan mereka hanyalah do’a : ‘Ya Rabbana, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yan berlebihan dalam urusan ini dan tetapkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang yang kafir’.”
“Maka Allah memberi mereka pahala di dunia dan pahala di akhirat. Dan Allah mencintai orang –orang yang berbuat kebaikan. “
Nau’iyyah jayyidah dan kammiyah kaafiyah (kualitas yang bagus dan kuantitas yang cukup), dua hal yang perlu diperhatikan. Terkadang kita terjebak dalam cara berfikir yang lebih mengedepankan kuantitas tanpa mempertimbangkan kualitas. Kuantitas yang cukup, bukan berarti jumlah besar, namun jumlah yang cukup untuk mampu menggerakkan da’wah. Apa artinya jumlah yang banyak tanpa kualitas yang bagus, maka tak jauh beda dengan buih di lautan yang tak berarti apa-apa. Sebagaimana Allah sampaikan juga dalam surat At Taubah ayat 25 : “ Sungguh Allah telah banyak menolong kamu (mukminin) di banyak perang, dan ( ingatlah) Perang Hunain, ketika jumlahmu yang besar itu membanggakan kamu, tetapi (jumlah yang banyak itu) sama sekali tidak berguna bagimu, dan bumi yang luas itu terasa sempit bagimu, kemudian kamu berbalik ke belakang dan lari tunggang langgang.”
Kunci kedua setelah dua hal di atas adalah, mitsaliyyah tsabitah dan waqi’iyyah mahsubah (idealisme yang tetap dan pemahaman akan realitas). Idealisme (fikroh) adalah salah satu hal yang tsawabit dalam sebuah jama’ah da’wah. Dan sebagai bagian dari sebuah jama’ah, maka menjadi keharusan bagi setiap petarung da’wah memahami, menguasai, berpegang teguh padanya dan mampu mengejawantahkan fikrohnya. Rasulullah saw pernah berwasiat kepada Hudzaifah bin Yaman (dan tentunya ini pun berlaku untuk setiap muslimin) : “ Berpegang teguhlah engkau pada jama’atul muslimin dna imamnya (idealisme) sekalipun engkau harus memakan akar pepohonan”. ( HR. Bukhari). Fikroh sebagai landasan pergerakan mestilah terinternalisasi dalam diri setiap petarung. Karena fikroh pulalah yang akan menentukan kualitas sebuah amal. Seorang yang tidak memahami fikroh dimana dia beramal, maka akan cenderung asal-asalan, tidak memiliki semangat dan akan mudah futur (berbalik ke belakang).
Pemahaman dan penguasaan fikroh yang baik kemudian di imbangi dengan pemahaman realitas yang matang, akan menghasilkan sebuah harmoni harokah yang indah., yang di dalamnya selalu ada evaluasi, introspeksi dan reorientasi amal. Fikroh sebagai sebuah idealisme pergerakan tak akan mampu di ejawantahkan manakala penguasaan akan kondisi lapangannya jelek. Karena realitaslah yang akan menyempurnakan idealisme, manakala (sekali lagi) idealisme itu dapat di selaraskan dengan realitas, sehingga fikroh (idealisme) itu benar-benar mampu dibuktikan dan (ke depan) akan menjadi fikroh bersama. Namun pemahaman realitas inipun tak akan mampu di miliki manakala tidak ada hassasiyah (kepekaan) dalam diri setiap petarung untuk membaca, mengamati dan melakukan ekperimen terhadap realitas yang ada. Inilah permasalahanya. Kader prematur yang ingin selalu instan dalam beramal. Tidak mengharapkan adanya kesusahan atau mekanisme amal yang terlalu ribet.
Kader prematur yang berfikir minimalis. Padahal, peradaban yang besar ini, tak mungkin di bentuk oleh jiwa dan pemikiran yang kerdil (minimalis). Fitnah kemudahan itu telah mematikan militansi yang seharusnya dilahirkan dari rahim tarbiyah. Saatnya masing-masing kita berbenah dalam perjalanan tarbiyah. Berfikirlah, bahwa tarbiyah yang kita jalani, adalah salah satu penentu kegemilangan peradaban Islam di masa yang akan datang. Pahamilah ia dan berpegang teguhlah dengannya, semoga janji Nya akan berupa kemenangan da’wah memang akan diberikan melalui tangan-tangan kita. Wallahu’alam.

- Pemburu Syahid -
Mohon maaf bila ada statement yang tidak berkenan di hati para pembaca. Al faqir ilallah.